Oleh: Dhanara
Akhir Tahun 2024
Angin pantai menerpa wajah Dwi Ainul. Ia berdiri di antara puluhan mahasiswa baru lainnya, kaki terkubur pasir putih, sementara ombak di Pantai Tanjung bergulung pelan di kejauhan. Malam itu, akhir Desember 2024, kampus mengadakan pengkaderan di tepi laut suatu tradisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun untuk menyambut angkatan baru.
Ainul menggigit bibirnya. Ia gadis Bantaeng, kabupaten kecil di ujung selatan Sulawesi Selatan, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Makassar. Rasa rindu pada rumah masih segar, tapi ia bertekad bertahan.
“Selamat datang, adik-adik semua. Malam ini kita akan mengadakan jurit malam. Kalian akan dibagi dalam beberapa kelompok dan melewati pos-pos yang sudah disiapkan. Jangan takut. Ini semua untuk membentuk mental kalian.”
Suara ketua panitia menggema di tengah deru ombak. Ainul menggenggam erat senter yang dibagikan. Ia tidak takut gelap, tapi ia takut tersesat di kota baru, di kampus baru, di antara orang-orang yang belum ia kenal.
Jurit malam dimulai. Ainul dan kelompoknya berjalan menyusuri bibir pantai, melewati pos demi pos. Di setiap pos, ada tugas yang harus diselesaikan menyanyi yel-yel, menjawab pertanyaan tentang kampus, hingga simulasi kepemimpinan. Ainul berusaha sebaik mungkin, tapi matanya terus mengantuk. Tepat pukul dua dini hari, energinya mulai habis.
Kelompok Ainul sampai di pos terakhir. Sebuah tenda didirikan di dekat pepohonan, tidak jauh dari bibir pantai. Lampu minyak menggantung di tiang tenda, memberikan cahaya remang-remang. Di dalamnya duduk seorang pria tidak seperti senior lain yang memakai jaket panitia. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang, dengan raut wajah yang tenang tapi matanya tajam. Terlihat sedikit lebih dewasa dari mahasiswa pada umumnya.
“Ini pos terakhir, adik-adik,” kata pria itu dengan suara berat. “Silakan masuk dan duduk. Kita akan mengobrol.”
Ainul dan beberapa temannya duduk melingkar di atas tikar. Angin laut berhembus dingin, membawa bau garam. Ainul memeluk lututnya, berusaha menghangatkan diri.
“Saya Raihan,” kata pria itu memperkenalkan diri. “Saya angkatan 2020. Baru lulus bulan Agustus kemarin. Sekarang sudah bekerja. Saya diundang panitia untuk jadi pemateri sekaligus penjaga pos malam ini.”
Ainul mengerjapkan mata. Angkatan 2020? Berarti Raihan baru lulus sekitar empat bulan lalu Agustus 2024. Bisa dibilang ia masih “hangat” dari masa kampus. Belum genap setengah tahun ia meninggalkan dunia perkuliahan, tapi sudah kembali sebagai pemateri di pengkaderan. Ada sesuatu yang membuat Ainul penasaran. Mengapa seseorang yang baru lulus dan sudah bekerja masih mau meluangkan waktu untuk datang ke acara kampus?
“Dari mana saja kalian?” tanya Raihan memulai percakapan.
Satu per satu anggota kelompok menyebut asal daerah. Ada dari Makassar, dari Gowa, dari Maros. Hingga giliran Ainul.
“Saya Dwi Ainul. Dari Bantaeng, Kabupaten Bantaeng,” ucapnya sedikit malu.
Raihan mengangkat alis. Matanya berbinar. “Bantaeng? Wah, saya dari Takalar. Seberang sana.” Ia menunjuk ke arah selatan. “Kita satu provinsi.”
Ainul tersenyum kecil. Entah mengapa, kata-kata itu membuatnya merasa lebih hangat di tengah dinginnya malam pantai.
“Kak Raihan kok bisa sampai di sini?” tanya salah satu teman Ainul. “Padahal sudah lulus dan bekerja.”
Raihan tersenyum tipis. “Dulu waktu saya masih kuliah angkatan 2020, pengkaderan di sini juga. Pantai ini punya kenangan buat saya. Dan karena saya baru lulus empat bulan lalu, rasanya masih pengen balik. Masih kangen suasana kampus. Jadi setiap tahun saya coba datang kalau ada waktu.”
Ainul memperhatikan Raihan. Ada sesuatu di matanya seperti kerinduan yang tidak terucapkan. Seperti ia mencari sesuatu yang hilang di antara deretan wajah baru ini. Mungkin karena ia baru saja melepaskan status mahasiswanya, dan masih beradaptasi dengan dunia kerja.
“Kak Raihan dari Takalar, berarti pasti sering ke Bantaeng, dong?” Ainul memberanikan diri bertanya.
Raihan tertawa kecil. “Sering. Dulu waktu kuliah, saya punya kenalan dari Bantaeng. Kami sering jalan-jalan ke selatan. Bantaeng, Bulukumba, sampai Takalar. Pantai Ujung Lero di Bantaeng itu favorit saya.”
“Wah, Kak Raihan tahu Ujung Lero?” Ainul bersemangat. “Itu dekat rumah saya!”
“Tentu saja,” Raihan tersenyum. “Ombaknya tenang. Pasirnya putih. Dan kalau sore, matahari terbenamnya luar biasa. Saya ingat pernah ke sana waktu masih semester 4.”
Raihan berhenti. Matanya tiba-tiba kosong, seperti terbawa ke suatu kenangan. Ainul menangkap perubahan itu. Ada kesedihan di sana kesedihan yang dalam dan tampaknya belum sembuh.
“Kak Raihan?” panggil Ainul pelan.
Raihan tersadar. Ia menggelengkan kepala. “Maaf. Teringat masa lalu. Waktu itu saya masih kuliah, masih banyak mimpi. Sekarang saya sudah lulus, sudah kerja, tapi…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ainul tidak memaksa.
Malam itu, obrolan terus berlangsung. Raihan bertanya banyak hal tentang cita-cita Ainul, tentang alasannya memilih kampus ini, tentang bagaimana rasanya merantau dari Bantaeng ke Makassar. Ainul menjawab dengan jujur, bahkan menceritakan rasa rindu pada kampung halaman yang kadang membuatnya ingin menangis di malam hari.
“Jangan menyerah,” kata Raihan. “Saya dulu juga merantau dari Takalar ke Makassar waktu angkatan 2020. Rasanya sama. Tapi percayalah, ini semua akan membentukmu. Saya baru lulus empat bulan lalu, dan saya sudah merasakan bagaimana manisnya masa kuliah. Nikmati setiap detiknya.”
Ainul memandang Raihan. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, wajah Raihan terlihat teduh. Ada ketenangan yang memancar darinya meski Ainul bisa merasakan ada luka yang disembunyikan.
“Kak Raihan,” kata Ainul tiba-tiba, “sepertinya Kak Raihan sedang mencari sesuatu. Kenapa?”
Raihan terdiam. Jauh di kejauhan, ombak bergulung. Suara angin berdesir di antara daun kelapa.
“Kamu pintar memperhatikan,” kata Raihan akhirnya. “Mungkin karena saya masih terjebak dengan masa lalu. Ada seseorang yang belum bisa saya lupakan. Bahkan sampai sekarang, setelah saya lulus empat bulan lalu. Tapi malam ini, ngobrol dengan kalian khususnya denganmu membuat saya merasa sedikit lebih ringan.”
Ainul tidak bertanya siapa orang itu. Ia hanya mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia merasa tersentuh. Ada kejujuran di sana kejujuran yang jarang ditemui pada seseorang yang baru lulus dan mencoba move on.
Mereka terus mengobrol sampai langit mulai memerah. Matahari terbit dari ujung timur, menyinari Pantai Tanjung dengan warna keemasan. Angin pagi berhembus sejuk. Jurit malam pun usai.
Sebelum kelompok Ainul pergi meninggalkan pos, Raihan memanggilnya.
“Ainul,” katanya pelan. “Kalau kamu butuh teman ngobrol di Makassar, kamu bisa hubungi saya. Saya tahu berat merantau sendirian. Dulu waktu saya angkatan 2020, saya juga ngerasain. Dan saya baru lulus, jadi saya masih ingat betul gimana susahnya awal-awal kuliah.”
Ainul tersenyum. “Terima kasih, Kak Raihan.”
Sejak malam itu, Raihan dan Ainul semakin sering bertemu. Meski Raihan sudah bekerja, ia sering meluangkan waktu untuk mengajak Ainul ngopi di warkop dekat kampus. Kadang mereka juga ke pinggir Pantai Tanjung hanya untuk duduk dan melihat matahari tenggelam seperti yang mereka lakukan di pagi hari setelah jurit malam.
Raihan bercerita tentang Nisa sedikit demi sedikit. Gadis dari Pangkep yang pernah menjadi kekasihnya saat kuliah. Yang memilih melanjutkan studi di luar negeri dan tidak pernah kembali. Yang meninggalkan Raihan dengan luka yang tak kunjung sembuh awalnya terjadi saat Raihan masih semester akhir angkatan 2020, dan kini sudah hampir tiga tahun berlalu, bahkan setelah Raihan wisuda bulan Agustus 2024.
“Kadang saya merasa baru lulus tapi sudah tua,” kata Raihan suatu malam. “Teman-teman seangkatan 2020 sudah pada menikah. Saya masih begini. Terjebak.”
Ainul mendengarkan tanpa menghakimi. “Kak Raihan belum tua kok,” katanya. “Kak Raihan kan baru lulus empat bulan lalu. Masih muda.”
“Mungkin,” Raihan tersenyum pahit. “Tapi hatiku belum sembuh.”
Ainul menggenggam tangan Raihan. “Aku tidak bisa menyembuhkan Kak Raihan. Tapi aku bisa menemani.”
Raihan menatap Ainul. Di bawah cahaya lampu pantai yang remang, ia melihat ketulusan di mata gadis Bantaeng itu. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada yang berbeda perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak masa kuliahnya.
“Aku nyaman sama kamu, Ainul,” kata Raihan pelan. “Mungkin lebih dari sekadar nyaman.”
Ainul tersenyum. “Aku juga, Kak.”
Pada malam pergantian tahun, di Pantai Tanjung yang ramai oleh kembang api dan kerumunan, Raihan menggenggam erat tangan Ainul.
“Aku tahu umurku lebih tua. Aku tahu aku sudah lulus dan kamu masih kuliah. Tapi… boleh gak aku dekat sama kamu? Secara serius?”
Ainul menggenggam balik tangan Raihan. Di tengah dentuman kembang api dan sorak sorai, mereka memulai sesuatu yang baru.
Awal Tahun 2025
Raihan semakin sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan di pusat Makassar. Sebagai sarjana yang baru lulus Agustus 2024, ia masih dalam masa adaptasi di dunia kerja. Telepon malam yang dulu rutin, kini hanya dua kali seminggu. Balasan chat semakin pendek.
“Maaf, sibuk.”
“Besok aja ya, capek.”
“Kamu gak perlu terlalu khawatir.”
Tapi Ainul khawatir. Setelah hampir setengah tahun, ia merasakan jarak. Dan yang lebih menyakitkan, ia sering melihat Raihan mengunggah lagu-lagu sedih di status WhatsApp lagu yang dulu ia putar saat bercerita tentang Nisa. Lagu-lagu yang sama yang dulu sering diputar di pos senior saat jurit malam.
Ainul juga mulai mendengar bisik-bisik dari teman-temannya “Kak Raihan kan sudah lulus, masa mau dekat-dekat sama junior” atau “Ainul, hati-hati, dia masih baru lulus, mungkin masih bingung sama hidup.” Tapi Ainul tidak peduli, yang ia pedulikan hanya Raihan.
Namun akhir-akhir ini, ada yang berbeda. Raihan mulai menghindar. Setiap Ainul minta ketemu, Raihan selalu punya alasan: rapat, dan lembur. Bahkan saat Ainul mampir ke kantornya, Raihan selalu sibuk dan tidak bisa melayani.
Hingga Ainul sadar sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu secara serius. Hanya chat singkat yang terasa hambar.
Malam 16 Juli 2025, Ainul mengambil ponsel. Jemarinya mengetik dengan gemetar:
“Raihan, besok aku mau ketemu kamu. Kita bicara. 17 Juli. Pukul 4 sore. Di warkop dekat kampus. Tempat pertama kita ngopi. Tolong datang. Aku butuh kejelasan.”
Status pesan: Sudah dibaca pukul 21.47.
Tanpa balasan. Tapi pagi harinya, Raihan membalas: “Baik. Datang.”
Ainul lega, meski hatinya berdebar.
17 Juli 2025
Sore itu Makassar diguyur hujan deras. Ainul memilih meja pojok di warkop dekat kampus tempat pertama Raihan mengajaknya ngopi setelah jurit malam. Gelas kopi susu di depannya sudah setengah kosong. Ia menatap ponsel: 16.47.
Tiga belas menit lagi.
Ainul menatap hujan di balik kaca. Pikirannya melayang ke Bantaeng, ke rumahnya yang jauh di selatan. Ia membayangkan ibunya yang pasti sedang memasak di dapur, atau ayahnya yang duduk di beranda menghadap sawah. Tiba-tiba ia rindu pulang. Rindu pada tempat di mana ia tidak perlu bertanya-tanya apakah ia dicintai atau tidak.
Ia juga mengingat pagi itu pagi setelah jurit malam, ketika matahari terbit di Pantai Tanjung dan Raihan tersenyum padanya. Saat itu ia merasa dunia baru dimulai. Ternyata, dunia yang baru itu hanya berlangsung setengah tahun.
Pukul 16.55, pintu warkop terbuka. Raihan masuk dengan jas hujan, rambutnya basah di ujung-ujungnya. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya lingkar hitam di bawah matanya, raut yang menunjukkan seseorang yang tidak cukup tidur dan tidak cukup tenang.
“Maaf telat.”
“Gak apa. Aku baru juga sampai.”
Raihan memesan es teh manis. Diam. Matanya menatap ke luar jendela, menjauh dari Ainul. Ada jarak di antara mereka yang terasa lebih lebar dari sekadar meja.
Ainul menarik napas panjang. “Raihan, hampir dua bulan kita gak ketemu. Aku merasa kita sudah gak baik-baik saja.”
Raihan memutar gelasnya. “Aku sibuk, Ainul. Kerjaan di kantor makin berat. Aku baru lulus, masih belajar banyak hal di dunia kerja.”
“Jangan kasih alasan itu lagi,” potong Ainul pelan. Suaranya pecah di tengah. “Aku sudah dengar berkali-kali. Dan aku tahu ini bukan soal sibuk. Kamu masih memikirkan Nisa, kan?”
Raihan menunduk. Hening sangat lama. Jarinya berhenti memutar gelas. Ketika ia mengangkat wajah, matanya sembab.
“Iya,” katanya serak. “Aku pikir setelah lulus Agustus lalu, aku bisa move on. Tapi ternyata tidak. Setiap kali aku sendiri, yang muncul bayangannya. Aku sudah tiga tahun lebih berusaha, Ainul. Tapi…”
“Tapi kamu belum sembuh,” sambut Ainul pelan. “Dan aku hanya pelarianmu.”
Raihan terdiam. Ia tidak membantah.
“Kamu tahu, Raihan?” Ainul berbicara dengan suara bergetar. “Malam itu di pos senior, saat kita mengobrol sampai matahari terbit, aku pikir aku bertemu dengan seseorang yang jujur. Seseorang yang meskipun terluka, tetap mau berbagi. Tapi ternyata… kau hanya mencari pengganti.”
Raihan menggenggam gelasnya erat. “Ainul, maaf. Aku tidak bermaksud.”
“Hari ini ulang tahunmu, kan?” Ainul memotong. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan kotak kecil berisi kue tart cokelat. Satu lilin merah muda menancap di atasnya. “Aku bawain ini. Karena aku sayang kamu, Raihan. Sungguh. Tapi sayang saja tidak cukup kalau kamu masih menggenggam masa lalu.”
Raihan menatap kue itu. Bibirnya bergetar. Tangannya meraih kotak itu, lalu meletakkannya di atas meja tanpa membukanya.
“Aku ingin sendiri dulu, Ainul,” katanya nyaris berbisik. “Aku perlu waktu. Buat membereskan semuanya.”
Ainul mengangguk pelan. Ia tidak bertanya “berapa lama”. Ia hanya berdiri, memakai ranselnya, dan menatap Raihan untuk terakhir kalinya.
“Selamat ulang tahun, Raihan,” katanya dengan suara yang berusaha stabil. “Aku kembali ke Bantaeng bulan depan. Pulang kampung. Buat sendiri juga. Dan ketika nanti kamu sudah selesai sendiri, jangan cari aku lagi. Karena aku juga perlu belajar bahwa aku pantas dicintai seutuhnya, bukan sebagai pelarian. Apalagi oleh seseorang yang baru lulus Agustus lalu tapi masih membawa luka masa lalu.”
Ia berbalik. Melangkah keluar warkop. Di luar, hujan masih deras. Ainul membuka payung payung tua pemberian ibunya dari Bantaeng dan melangkah menjauh. Langkahnya mantap, meski hatinya hancur.
Di dalam warkop, Raihan duduk sendirian. Ia membuka kotak kue, menatap lilin merah muda. Di ponselnya, foto Nisa masih belum ia hapus. Tapi untuk pertama kalinya, ia juga melihat foto Ainul gadis Bantaeng yang tersenyum di Pantai Tanjung pagi itu, saat matahari terbit setelah jurit malam.
Di luar, di tengah hujan, Ainul terus melangkah. Ia tidak menangis. Ia hanya berjanji pada dirinya sendiri: di Bantaeng nanti, aku akan belajar mencintai diriku dulu. Aku akan menjadi perempuan yang utuh bukan pelarian bagi siapa pun.
*Penulis merupakan Mahasiswa UIN Alauddin Makassar











