Aroma Popmie di Atas Bara

Facebook
Twitter
WhatsApp
Demonstrasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa | Pixabay — Syahdan Nugraha.

Oleh: Andi Abhar

Jumlahnya hampir ribuan orang. Mereka menggunakan berbagai macam warna almamater, mulai dari hijau muda, hijau tua, merah, biru, hingga kuning. Berbagai macam bendera terlihat berkibar megah, memancarkan aura harapan yang begitu kuat. Beberapa mahasiswa menutupi wajahnya dengan masker, tidak ingin dikenali, ada juga yang berdiri kokoh tanpa ada kain menutupi wajah. Mereka ingin menyampaikan kepada dunia bahwa inilah wajah manusia yang menginginkan keadilan.

Di atas mobil truk, berdiri seorang perempuan muda dengan aura percaya diri yang jelas terlihat di setiap garis wajahnya. Wajahnya dihiasi dengan ekspresi tenang, mata yang tajam namun lembut, menatap lurus ke depan dengan sedikit kerutan di keningnya. Rambutnya yang tertutup dengan hijab berwarna abu-abu lembut, memeluk dengan sempurna bentuk wajahnya yang oval, menciptakan keseimbangan sempurna antara gaya dan keanggunan.

Di bemper mobil truk terdapat spanduk bertuliskan “Bajingan Pembunuh” berwarna merah, dan di bawahnya “Tanggung Jawab Atas Nyawa yang Kau Injak” berwarna hitam.

Nuren, nama wanita yang berdiri di atas truk, mengenakan almamater hijau kebanggaannya. “178 orang meninggal dunia akibat limbah yang mereka buang. Ada anak-anak yang kehilangan orang tua mereka, ada istri yang kehilangan suaminya. Ada nenek yang kehilangan cucunya. Namun mereka, yang duduk di atas sana, berpakaian dari uang hasil pemerkosaan atas bumi. Menggunakan sepatu yang tersimbah darah para korban yang mereka bunuh dengan kejam. Mereka hanya tersenyum seperti iblis yang tak kenal kata kemanusiaan,” ucapnya lantang dengan toa.

Kalimatnya menggema di jalan yang sesak oleh mahasiswa yang bersorak ke arah gedung PT Asri Abadi, perusahaan tambang yang membuang limbahnya sembarangan. Di atas rooftop gedung berlantai tujuh itu, di posisi di mana mata pendemo tak menjangkaunya, berdiri seorang pria tua dengan sorot mata tajam, dengan rambut beruban, sedang makan popmie. Sambil mengunyah, dia berkata, “Tindakan sia-sia, mereka gak capek apa.”

Seorang wanita dengan kacamata kotak muncul dari belakangnya, menyerahkan sebuah dokumen. Pria itu, Harjo Santoso, membacanya serius.

“Jadi mustahil kita menang dalam persidangan ini?” ucap Santoso.

Asistennya mengangguk. “Iya, bos. Gas Sulfat Dioksida (SO2) ada di tubuh setiap orang yang dinyatakan sebagai korban oleh pihak penuntut,” lanjutnya.

“Pengacaranya bagaimana?” tanya Santoso.

“Katanya, paling lama dia bisa menunda hingga kemenangan lawan sekitar enam bulan. Bukti mereka terlalu kuat untuk dilawan,” ucap asisten itu.

“Sayangnya, yang mereka lawan itu aku,” ucap Santoso sambil tersenyum, mengunyah mie.

Setelah dia menghabiskan mienya, Santoso pergi meninggalkan gedung itu dengan asistennya.

Di sisi lain, di antara kerumunan kendaraan yang terhalang oleh demo di depan,

“Aishh, demo lagi, demo lagi. Mahasiswa gak bosan apa demo terus?” ucap seorang pria di dalam mobil kepada wanita di sampingnya.

“Yaa, karena cuma itu yang mereka tahu. Hasil gak ada, macet iya,” ucap wanita sambil menggendong bayi.

“Kemarin demo di gedung DPR, sekarang di depan perusahaan. Besok di mana? Di waterpark?” ucap pria itu mencela.

“Dasar calon pengangguran,” lanjut wanita itu.

“Kalau mahasiswa gak demo tahun ’98, kalian akan hidup di rezim Suharto. Seharusnya kalian hormati mereka,” ucap kakek di kursi belakang.

“Ya gak hari-hari juga kali kek. Mereka demo gak ada gunanya. Mending kakek diam.”

Para pendemo mulai kehilangan kesabaran. Pihak yang diminta berdiskusi tak kunjung keluar.

“Pak Santoso keluar, pak. Mari kita diskusi,” ucap Nuren marah.

“Kami hanya menuntut keadilan, pak. Jika bapak tak ingin keluar… KAMI YANG MASUK!” ucap Nuren, yang suaranya semakin meninggi.

Sementara itu, para polisi berdiri siaga dengan tameng transparan dan pentungan, bersiap menghadapi kericuhan. Beberapa mahasiswa mulai melempar batu ke arah mereka. Tapi belum ada yang berani mendekat. Polisi di bagian belakang mulai menyiapkan peluru gas air mata pada senjatanya. Beberapa terlihat memegang senjata api asli.

Seorang mahasiswa berjas kuning dengan wajah tertutup seorang diri berlari ke arah barikade polisi. Dia meloncat, menendang tameng transparan. Polisi itu hampir jatuh, namun ditahan oleh rekannya di belakang.

Melihat aksi nekat salah satu rekannya, mahasiswa yang lain ikut menyerbu. Dengan suara teriakan dan sumpah serapah ke pihak lawan, mereka saling dorong, memaksa untuk masuk. Batu dan kayu semakin banyak beterbangan ke arah polisi.

Ada beberapa mahasiswa yang mencoba memutari gedung, mencoba masuk lewat pagar tinggi dan kokoh. Menggunakan tangga yang didapat entah dari mana, seorang naik, dan beberapa mahasiswa mencoba ikut dari belakang. Melihat itu, seorang polisi berlari ke arah tersebut. Naik ke atas pagar dengan bantuan temannya dengan cara yang terlatih dan cepat. Mahasiswa yang belum sempat sampai di puncak pagar kepalanya dihantam dengan keras dengan pentungan hitam.

Dia terjatuh dengan kepala bersimbah darah. Dia diseret menjauh oleh rekannya.

“Woyy, anjing kau bajingan!” ucap rekannya yang lain. Polisi itu mendang pagar hingga terjatuh.

Kejadian itu difoto oleh Arya, pria muda dengan rambut hitam gelap yang jatuh lembut di dahinya, sedikit acak-acakan dengan gaya yang santai dan tidak terkesan berlebihan. Fitur wajahnya tajam, dengan garis rahang yang tegas, namun tetap menunjukkan ekspresi muda yang penuh percaya diri. Matanya yang gelap tampak fokus, dan ada kesan rasa ingin tahu yang tenang dari cara dia menatap. Dia adalah seorang jurnalis mahasiswa yang meliput demo tersebut.

Arya hendak mendekati korban pemukulan, namun langkahnya terhenti. Dia mengarahkan pandangannya ke arah gerbang utama yang semakin ricuh. Arya bingung hendak pergi ke mana.

Melihat ke sana kemari, dia mengusap rambutnya ke belakang, pertanda dia khawatir membuat keputusan yang salah. Dia memutuskan berlari ke arah gerbang utama. Terlihat mahasiswa hampir berhasil menembus barikade polisi. Jumlah mereka kalah banyak daripada polisi itu, sementara batu tak henti-hentinya dilemparkan. Arya dengan semangat memotret kejadian itu.

“Semua tenang. Jangan anarki, kawan-kawanku,” ucap Nuren tegas melalui toa.

“Ketua, kalau kita tidak terobos masuk, sampai pagi kita akan terus berdiri di sini,” ucap mahasiswa yang berdiri di samping Nuren. Dia menjauhkan toa dari mulutnya, hanya menggenggamnya pasrah melihat kericuhan itu.

Tak lama setelah itu, mahasiswa yang memanjat pagar dari samping dan masuk melemparkan molotov ke arah gedung. Sementara itu, polisi yang baru saja dipukuli terlihat diinjak-injak oleh mahasiswa lain yang geram karena rekannya dipukul hingga berdarah tak sadarkan diri. Di arah lain, molotov juga dilemparkan oleh mahasiswa, membakar gedung itu.

“Sial, harusnya aku tetap di sana tadi,” gumam Arya.

Polisi yang melihat pelemparan molotov itu mencoba menembak mahasiswa tersebut, namun meleset. Entah disengaja atau akurasinya yang jelek. Mahasiswa itu melarikan diri, kemudian ditarik oleh rekannya di atas pagar untuk melarikan diri. Gedung itu mulai terbakar hebat.

Di gerbang utama, seorang mahasiswa melemparkan molotov ke arah polisi yang sedikit lagi tertembus. Beberapa polisi terbakar oleh serangan itu.

Polisi lain yang menyaksikannya menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa.

Polisi yang terbakar itu kemudian disemprot menggunakan APAR berbentuk tabung merah. Setelah api padam, dia dicek dan dinyatakan meninggal dunia. Polisi yang tersulut amarah mulai menembakkan timah panas ke arah pengunjuk rasa. Atmosfer tegang berubah menjadi mencekam.

Beberapa mahasiswa terjatuh bersimbah darah, sementara yang mencoba melarikan diri.

Nuren yang berada di atas truk mulai ditembaki, namun meleset. Dia loncat dari ketinggian, menyebabkan kakinya patah. Dia kemudian dibantu oleh rekannya yang lain untuk berdiri, meninggalkan lokasi yang jalannya mulai tergenang darah.

Mahasiswa mulai berlari kesana kemari, mencoba mencari tempat berlindung. Polisi di belakang tak berhenti menembaki, menyebabkan beberapa mahasiswa berjatuhan. Ada beberapa mahasiswa yang ditangkap, lalu dipukuli dengan pentungan hingga wajahnya bercucuran darah. Ada mahasiswa yang bersembunyi di selokan, yang kemudian diinjak-injak oleh polisi yang tersulut amarah.

Mahasiswa lain mencoba bersembunyi di dalam masjid, yang kemudian diseret keluar oleh polisi, lalu dipukuli. Ada yang bersembunyi di dalam kafe, melepas almetnya dan memasukkannya ke dalam tas, namun tetap ketahuan oleh polisi dan dihantam menggunakan pentungan dari belakang.

Nuren naik ke atas motor di bantu oleh rekannya meninggalkan lokasi. Sekarang dia menjadi sasarah utama polisi atas kejadian ini.

Arya memotret setiap kejadian. Saat adegan pelemparan, ia melihat dengan jelas siapa pelaku pelemparan lalu memotretnya. Di saat kericuhan mulai memuncak, dia tak menghiraukan tembakan polisi. Ia fokus mengikuti dalang utama pelemparan molotov.

Pelaku utama itu menggunakan almamater merah dengan wajah ditutup kain dan berkacamata hitam berlari mencoba meninggalkan tempat kejadian. Arya mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba seorang polisi menghantam Arya dengan pentungan. Kepalanya berdarah.

“Saya pers, Pak. Saya pers,” ucap Arya sambil memegang kepalanya yang berdarah dan tangan yang lain menunjukkan kartu persnya, sementara matanya fokus ke pelaku utama. Polisi yang melihat kamera di dadanya tak punya pilihan lain selain percaya. Sementara itu, polisi lain di belakang yang baru datang hendak memukul Arya, namun dia ditahan oleh rekannya.

“Dia pers,” ucapnya, lalu mendorong Arya dengan keras menjauh.

Arya berlari sekuat tenaga mengikuti pria itu, takut kehilangan jejak sambil memegang kepala yang berlumuran darah. Dia terus mengikutinya hingga pria itu berhenti di sebuah lorong sempit dan kumuh. Arya bersembunyi di antara barang rongsokan, melihat ke arah orang itu melalui celah-celah kecil. Dia memotretnya.

Tak lama, pria itu melepas almamaternya karena kepanasan. Dia mengambil kardus dan mengibaskannya ke badan untuk menghilangkan rasa panas.

Pria itu sekarang mengenakan kaos hitam. Di dadanya terdapat logo kepolisian. Arya terkejut melihatnya. Dia memotret orang itu berulang-ulang, mencoba mengambil foto yang menampakkan logo tersebut.

Pria asing itu kemudian memasukkan almamaternya ke dalam tas, lalu mengambil kemeja dan mengenakannya. Dia membakar tasnya, lalu meninggalkan lokasi. Arya mengikutinya dari belakang.

Arya terus mengikutinya. Di perjalanan, ia terus berpikir, kenapa polisi itu tega membakar rekannya? Apakah dia tidak memiliki hati nurani? Ia terus mengikutinya hingga pria itu berhenti di depan kantor polisi. Dia tak langsung masuk, ia menunggu hingga rekan-rekannya datang satu per satu. Arya melihat kejadian itu dari kejauhan. Beberapa orang yang dia kenal muncul satu per satu, ada yang dipukuli hingga berdarah, ada yang jatuh dari tangga, dan lainnya adalah rekan yang menolongnya. Arya yang melihat kejadian itu hanya bisa terkejut. Dia memotretnya beberapa kali sebelum kameranya kehabisan baterai. Orang-orang itu masuk ke dalam kantor polisi.

Di dalam kantor polisi, kerumunan orang itu menuju meja resepsionis. Polisi yang tak mengenal mereka bertanya,

“Kalian ada perlu apa?”

“Kami tahu siapa pelaku pelemparan molotov,” ucap salah satu di antara mereka.

Di luar, Arya memutuskan meninggalkan lokasi tersebut. Masuk ke dalam kantor polisi tak ada bedanya dengan masuk ke kandang harimau. Arya memutuskan pergi ke tempat di mana para aktivis berkumpul.

“Siapa yang membawa molotov?” ucap Nuren marah.

“Jawab siapa?” suaranya meninggi.

“Dari pihak kami tidak ada yang membawanya,” ucap pria berjas merah.

“Dari pihak kami juga,” kini yang berjas kuning.

Nuren melihat pria berjas biru dan wanita yang berjas hijau tua yang keduanya serentak menggelengkan kepala.

“Kalau bukan dari pihak kita, lalu siapa? Angin? Gitu?” ucap Nuren jengkel.

Di sudut pintu, Arya memanggil Nuren. Ia menghampiri Arya dengan kaki yang pincang.

“Ada apa?” tanya Nuren.

“Kau harus lihat ini,” ucap Arya sambil memberikan kamera yang logo baterainya berkedip merah. Nuren melihat foto-foto itu dengan jengkel.

“Ahahahah. Jadi mereka polisi. Dasar bajingan penjilat,” tawa Nuren jengkel.

Arya mengambil kamera itu.

“Aku pulang dulu untuk mengekstrak foto ini, lalu mengirimkannya padamu,” ucapnya, memasukkan kamera itu ke dalam tas. Nuren mengangguk lalu masuk kembali ke dalam ruangan, mendiskusikan langkah selanjutnya dengan anggota lain.

Arya meninggalkan lokasi itu hendak pulang. Dia berhenti di halte, menunggu bus datang. Arya menaruh tasnya di samping pria berpakaian hitam mengenakan masker. Ia merenggangkan tangannya, menghilangkan penat dalam dirinya. Tiba-tiba ada wanita yang terjatuh tepat di hadapannya, menghamburkan berkas. Arya sigap berdiri menolong wanita itu merapikan berkas.

“Hati-hati, Kak,” ucap Arya.

Setelah berkasnya rapikan, wanita itu berdiri, mengucapkan terima kasih, lalu duduk di samping Arya. Selang beberapa saat, bus datang membuka pintu. Arya naik ke dalam bus sementara wanita itu dan pria asing tak mengikutinya. Mereka hanya duduk di sana, tersenyum kepada Arya. Bus itu bergerak meninggalkan tempat itu.

TV di bus menampilkan kejadian tadi siang.

“Gedung PT Asri Abadi hangus dilahap si jago merah. 7 karyawan dinyatakan tewas hangus terbakar, 3 polisi dinyatakan meninggal dunia, sementara 5 orang menderita luka bakar parah. Di pihak mahasiswa, 14 orang dinyatakan meninggal dunia akibat tembakan. Ratusan mahasiswa lainnya dilarikan ke rumah sakit akibat menderita luka parah. Belum dipastikan total korban keseluruhan dan kerugian. Polisi berkomitmen mengusut tuntas kejadian ini. Hingga saat ini, pihak PT Asri Abadi belum memberikan tanggapan resmi. Nuren selaku Ketua Aliansi Mahasiswa dinyatakan sebagai tersangka utama dalam kejadian ini,” ucap wanita itu dalam berita.

Bus akhirnya berhenti. Arya turun, lalu berjalan ke rumahnya yang sudah dekat. Di tengah perjalanan, Arya didatangi beberapa polisi.

“Ada apa?” ucap Arya heran.

Tiba-tiba, Arya disekap menggunakan karung goni kecil di kepalanya. Dia dihajar habis-habisan, lalu diseret masuk ke dalam mobil. Di dalam ruangan gelap, karung itu dilepas, menunjukkan wajah Arya yang babak belur.

“Ada apa ini?” tanya Arya tertatih-tatih.

Pak, pukulan keras menghantam wajah Arya.

“Jangan pura-pura bodoh. Siapa yang menyuruhmu?” ucap polisi itu. Dia mengambil tas Arya yang terbuka, memperlihatkan Molotov. Dia menendang dada Arya dengan keras, menyebabkan dirinya terjatuh dengan kursi yang terikat di badannya. Arya muntah darah.

“Ahh, sial. Sepertinya aku dalam masalah besar.”

Sementara itu, di suatu gedung terbengkalai, Santoso duduk mengisap kopi. Orang-orang yang dilihat Arya masuk ke dalam kantor polisi mulai berdatangan. Pria asing yang menemani Arya duduk di halte muncul di belakang Santoso, menyerahkan kamera Arya. Dia menaruh kopinya, berdiri, mengambil kamera itu, lalu menginjaknya hingga hancur.

Semua ini direncanakan oleh Santoso. 7 orang di dalam gedung itu memang karyawannya. Mereka mati bukan karena tak bisa melarikan diri, melainkan mereka diikat di sana dengan mulut diplester, tak bisa berbicara apa lagi berteriak. Beberapa orang telah menyiram gedung itu dengan bensin, itulah mengapa gedung itu cepat terbakar.

Wanita di halte bus itu ternyata adalah asisten Santoso, begitu juga dengan pria di sampingnya. Saat berkas itu jatuh, pria itu menukar tas Arya dengan tas yang mirip yang berisi molotov. Arya tak sadar kalau tas mereka mirip. Mungkin karena dia terlalu kelelahan untuk memperhatikan detail kecil ini.

Arya memang mengikuti bawahan Santoso, tapi dia tidak sadar, dia juga diikuti dari belakang. Semua ini telah direncanakan oleh Santoso untuk mengalihkan isu agar perusahaannya tetap berjalan tanpa hambatan dan mengadu domba dua musuhnya, polisi dan mahasiswa.

“Di antara mahasiswa dan polisi, mana yang lebih hebat? Aku penasaran,” ucap Santoso terkekeh.

Di sisi lain, Nuren menelpon Arya yang tak kunjung mengirimkan bukti.

Beep… beep…

Suara pertanda telepon belum diangkat. Tak lama, nada dering terhubung berbunyi.

“Halo. Dimana barang buktinya?” ucap Nuren buru-buru.

“Kau telah salah menjadikan polisi sebagai musuhmu,” ucap pria itu dari seberang, lalu mematikan telepon.

Nuren melemparkan HP-nya ke dinding hingga hancur.

“Sialan. Dia sendiri yang membakar rekannya, baru kami yang dijadikan kambing hitam.” ucap Nuren marah.

Sementara itu, polisi itu berbicara dengan rekan-rekannya.

“Mereka mencari barang bukti,” ucapnya sambil mengangkat tas Arya yang berisi Molotov.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami