Oleh: Muh Iskar
Dalam dunia yang tak karuan ini, hiruk pikuk mulai bermunculan satu persatu, keserakahan manusia mulai nampak. Ia menggrogoti jantung-jantung bumi.
Banyak manusia yang kini menganggap dirinya sebagai pewaris petualanggan SOE HOK-GIE, mereka beranggapan, ia pantas disebut sebagai pencinta Alam.
Tanpa mereka sadari, keputusan itu lah yang membuat keasrian bumi mulai tercemar dengan arogansi yang mereka lakukan di gunung yang tak bersalah itu.
Itulah sebabnya mereka yang ku anggap sebagai rekan tim, selalu kuingatkan bahwa, mendaki bukan lah seberapa tinggi puncak yang di gapai, namun lebih dari itu.
Mempersiapkan alat, makan, perjalanan menuju Bescem, cerita lucu, romantisme, registrasi, langkah kaki menyusuri jalur. Semua itu adalah rangkaian dari pendakian, bonusnya adalah Sammit yang di sajikan dengan hamparan awan yang membalas lelah dalam perjalanan.
Bawakaraeng (12/09/2025)
Cerita ini aku mulai pada pada 26 Agustus 2025. saat itu aku sibuk dengan ponselku, meski hanya skrol Tiktok, Instagram dan Wattpad, namun semua itu dapat menghilangkan penat yang tak karuan.
Tak berselang lama, aku mengintip grup yang kami buat saat melakukan perjalanan menuju Bulu’baria dan Lemba lohe, aku mulai mengetik beberapa huruf melalui WhatsApp di handphone ku untuk mengajak rekan-rekan grup kembali menyusuri jalur manapun sesuai kesepakatan.
Nathan: “Info,” pesan ku masuk di grup itu.
Tak berselang lama, ada balasan singkat dari Hikmah, ia adalah rekan grup kami dalam perjalanan kala itu di Bulu’baria dan Lemba Lohe.
“Ayoo,” pesan singkat dengan emot senyum yang menggambarkan setuju akan kembali ikut.
Menyusul pesan Wiyah “Gass” singkat, namun huruf “S” yang di tambah lebih dari satu menggambarkan bahwa ia sepakat. bagaimana tidak, Wiyah adalah rekan yang baru bergabung kala itu saat perjalanan menuju Lemba’lohe, sehingga ia ketagihan untuk kembali berjalan menyusuri jalur. Ditambah lagi ada Aan, memberi semangat. yah, Wiyah dan Aan adalah sepasang sejoli yang lucu.
Aan yang punya sifat penyayang, tak berani membentak kekasihnya. Meski sering kesal namun masih tetap bertahan.
Hikmah membalas, meyakinkan ajakan itu “Betulannn”
Karna semuanya belum fiks, aku hanya meneruskan percakapan itu dengan menarget salah satu gunung yang sudah pernah ku daki beberapa tahun sebelumnya.
“Gass Bawakaraeng”
“Piran Ketua” Zeed menyambung percakapan itu dengan pertanyaan, menggunakan bahasa daerah yang kami miliki dipinggiran Kota Sulawesi Barat. Mamasa, Kecamatan Mambi. sebab semua rekan tim kami adalah teman daerah yang sedang berada di Makassar untuk menuntut ilmu.
“Kapan teman-teman bisa?” Tanyaku dengan cepat.
Fitri menyambung percakapan itu dengan semangat, sebab gunung yang kali ini kami target adalah gunung yang ia impikan selama ini “Saya mengikut sama yang lain, kapan bisanya. Intinya gass!”
Percakapan itu berlangsung lama, hingga kami semua sepakat pada tanggal 12 September 2025.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga hari yang telah kami sepakati kini hampir tiba,
namun semalam sebelum pemberangkatan itu dimulai, salah satu rekan kami yang juga pernah ikut dalam perjalanan ke Lemba’ lohe kala itu kami ajak. Abdullah.
Ia sebenarnya tak dapat ikut, sebab ia berada di kampus yang ia tempati menuntut ilmu, kampus Islam yang cukup ketat, Sekolah Tinggi Bahasa Arab (STIBA)
Meski begitu ketat, keinginan Abdullah yang tak dapat terelakkan lagi untuk bergabung dalam petualangan kali ini.
Abdullah adalah salah satu rekan tim yang kami sebut sebagai ustadz, ia sangat tekun dalam keagamaan, tak perlu diragukan lagi, sebab backgroundnya adalah mahasiswa Stiba.
Agar tak keliru saat menyediakan Alat dan persiapan Konsumsi, saat itu kami membuat urutan nama yang akan fiks ikut dalam petualangan kali ini. Zed, Natan, ikbal, hikmah, Wiyah, Aan, fitri dan Abdullah.
Keesokan harinya, Fitri yang sebelumnya kami berikan amanah sebagai pengelola uang dan Ransum, telah berbelanja. Untuk kebutuhan kami beberapa hari kedepan.
Nahasnya, Fitri yang telah berbelanja kini memberikan kabar yang tak menyenangkan bagi tim.
Ia tidak dapat ikut dalam petualangan ini, sebab perintah dari orangtuanya yang tak membolehkan, dengan alasan.
“Musim hujan, bahaya” kekhawatiran orang tua.
Kami tak semangat sebab, Fitri adalah rekan yang tak pernah Alfa dalam perjalanan itu, ia juga memiliki fisik yang jauh lebih kuat dari pada dua rekan kami, Wiyah dan Hikmah. Meski kadang kala tak percaya, mungkin saja. Hikmah dan Wiyah hanya berpura lemah di hadapan kekasihnya Aan dan Ikbal agar dapat perhatian dan kasih sayang.
Wadduh. Personil kami berkurang satu, Tak apalah. sebab kami sudah menyediakan semuanya, tidak elok juga jika perjalanan itu di batalkan begitu saja, meski berat namun perjalanan itu tetap kami lakukan.
Sekitar pukul 18.30 Kami mulai berangkat dari Samata menuju Bescem Bawakaraeng.
Dalam perjalanan, aku berboncengan dengan Abdullah, Aan dan Wiyah, Hikmah dan Ikbal, zeed hanya sendiri yang awalnya kami rancang bahwa ia akan bersama Fitri menggunakan motor milik Fitri, namun ia tidak dapat ikut.
Terpaksa Mio Soul putih, miliki Zeed kini kembali mengantar sang tuan menuju Bescem. meski kadang kala memberikan masalah saat dalam perjalanan. Tak mengapa sebab kami yakin semua akan baik-baik saja.
Kini Hal yang kami takutkan benar terjadi, motor Zeed seketika tak ingin menyala, tempat di gerbang Taman Bunga Malino.
Kami Heran sebab motor itu baik-baik saja sebelumnya, namun saat beristirahat menikmati bakso tusuk milik masa bakso, ia tak ingin lagi nyala.
Dalam benakku, mungkin saja ia ngambek, sebab tuanya kesepian saat perjalanan tadi.
Aku mulai mengotak Atik businya, Sumber pengapian motor itu, tetapi semua itu gagal.
Saat aku mengotak Atik motor itu, seorang bapak-bapak yang tak kami kenal menghampiri, ia memberi saran agar motor itu diantar saja ke bengkel terdekat, sembari menjelaskan bengkel terdekat yang kami lewati tadi.
Tak berfikir lama, Zeed dan Abdullah kini mengantar motor itu agar segera di perbaiki.
Mekanik itu mulai mengecek sumber masalahnya. Kini waktu menunjukkan pukul 10.00 motor yang sedari tadi di otak-atik kini kembali baik dan kami dapat melanjutkan perjalanan.
Aku dan Abdullah saat mengendarai motor KLX yang aku punya, kini melanjutkan cerita yang sempat terhenti.
Tak menentukan topik apapun, hanya cerita random namu untuk menghilangkan kantuk saja di malam hari. aku memulai cerita dengan Abdullah saat perjalanan kami di Lemba Lohe kala itu.
Tak berselang lama, pertanyaan tiba-tiba muncul di bibir ku yang masih saja di baluti masker anti debu.
“Tek seruh lek, aka Tek ikut Fitri” ucap ku seakan meminta sepakat pada Abdullah bahwa ketidak hadiran Fitri membuat perjalanan ini sedikit hampa.
“Iyyo padahal jago beka ia di pasola aka matoro beka ia mello” jawab Abdullah sepakat dan juga kagum dengan kekuatan nya yang cukup kuat dalam berjalan.
“Apo umba Iko Susi pandangan mu lako Fitri Lea” tanyaku pada Abdullah ingin mengetahui penilaian nya terhadap Fitri.
“Malolo to dio ia” Abdullah menyaut seakan mengajakku sepakat bahwa Fitri adalah orang yang cantik dan baik.
“Anna Dio anak-anak joloan si ku Ita hali Dio mambi Mak Baluk, Tek ia dengan masirik ambe Tek sipolean solana” Abdullah melanjutkan cerita nya dengan serius ia kagum dan menceritakan pengalamannya dulu saat melihat Fitri yang selalu menjual di pasar tanpa merasa malu comohan orang lain.
“Yak apo aka ri” ucapku spontan memberikan kode pada Abdullah agar mulai mendekat pada Fitri.
“Aih masirik tau ambe, beda kasta beka tau” jawab nya seakan putus asa, sebab Abdullah dan Fitri memiliki latar belakang Okonomi yang berbeda.
“Yak di tes siaria jolok toh siapatau mala” aku menjawab seolah menyemangati, untuk memulai terlebih dahulu.
“Iyyo lek, Dio anak-anak oo tek Sian kadakke todak, Tek toi cantik beka, Anna manis Lek” tanya Abdullah dengan semangat, ia dipenuhi kekaguman oleh paras Fitri yang cukup manis, bahkan kami sepakat memberikan ia nama Madu berjalan.
“Anna bassa beka tea Dio anak-anak ambe” lanjutku dengan penuh apresiasi terhadap ketentuan Fitri.
“Keibuan beka lek” balasnya sambil tertawa terbahak-bahak seolah malam itu adalah malam terbahagia baginya.
“Apo sayang nya Tek ikut ambe” lanjut Abdullah dengan nada kecewa, atas ketidak hadiran Fitri dalam perjalanan kali ini.
Namun sialnya cerita itu seketika terhenti saat kami tiba di Bescem pertama Bawakaraeng Via Jalur Balea, tempat Star para pendaki yang melakukan Tektok.
Tak apalah, sebab semua cerita nya di perjalanan aku abadikan melalui Rekaman Suara di hendpon ku.
Namun saat pengelola Bescem itu keluar lalu membukakan pagar, kami tidak masuk terlebih dahulu, melainkan diskusi tentang perjalanan kami ke Bescem para pendaki yang tidak Tektok.
Setelah berdiskusi panjang, akan kah lanjut di Bescem kedua atau memutuskan tinggal di Bescem pertama.
Dalam diskusi tersebut. tubuh yang diselimuti dingin di malam hari, kini ide baru muncul dalam benakku, ingin mengajak rekan melalui jalur lebanna, yang sebenarnya memiliki jarak lebih jauh di banding jalur Balea “atau lewat jalur lembanna maki” ucapku menawarkan.
Dalam situasi yang tak karuan, sebab dingin seakan mebekukan jantung untuk berhenti berdetak, rekan tim menyepakati. “Iyyo deh sembarang mi sama ji itu tujuan nya puncak ji” ucap Aan di samping kanan ku melipatkan tangannya kedalam dada agar sedikit hangat.
Tak berpikir lama, sebab semuanya telah setuju, kami memutar balik kearah lembanna yang sempat kami lalui tadi. taklupa kami juga pamit dan meminta maaf kepada bapak pemilik Bescem.
Dalam perjalanan menuju Bescem Lembanna, kami sempat kehilangan arah sebab aku adalah orang yang di percaya sebagai penunjuk jalan, taklagi mengigat baik jalur itu.
Beruntung, kami bertemu dengan rekan pencinta alam lainnya yang ingin menikmati keindahan lembanna, sesaat kemudian kami mengikutinya hingga di lokasi parkiran. Waktu telah berlalu begitu cepat dan jam menunjukkan sekitar pukul 11.00
Kami segera Registrasi, lalu memulai perjalanan,
dalam menyusuri jalur, cerita demi cerita terbangun. Sesekali kami membahas kehebatan Fitri, sifatnya dan tingkah lakunya yang kekanak Kanakan dan sangat doyan dengan gambek tak menentu, ciri khas itu seakan melekat pada dirinya.
Malam berlalu, nafas dan lutut kadang kala tak berkompromi sekakan tak ingin kami sampai di di pos lima, target yang kami malam itu untuk membangun tenda.
belum lagi vegetasi pintu rimbah hingga pos tiga yang begitu rapat, sehingga mempersulit langkah kami.
Tepat menuju Pos empat, zeed kini mengusulkan saran, ia ingin cemp di Pos saja, Wiyah dan Hikmah mengiakan usulan itu.
Namun setelah cerita kami mulai mengalir, selaras Nafas yang kini mulai dapat beradaptasi dan lutut kini takkaku lagi, aku mengucapkan bahwa di Pos Empat ada kuburan tepat di samping jalur. Seketika hikmah tak ingin lagi cemas di pos itu.
Terpaksa kami harus menyusuri jalur yang sangat panjang itu, di tambah lagi kami dan pohon saling berpapasan Oksigen, yang membuat Wiyah kini mulai tak kuat lagi berjalan,
namun untunglah ada Aan yang selalu memberi semangat, meski Aan pun butuh itu.
Setiba di Pos lima, kami mulai membangun tenda, ada juga yang mengambil Ari yang tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda.
Semuanya telah selesai, membangun tenda, makan malam pun telah usai. Mata yang sedari tadi menahan kantuk, kini telah mendapatkan tempat nyaman untuk memejamkan mata sejenak saja, sebab waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 05.00.
Zeed dan Abdullah menunaikan shalat nya.
Lalu terlelap dalam tidur yang diiringi alunan mendengkur.
Sekitar pukul 09.00 aku di bangunkan untuk menyantap hidangan pagi itu. Ternyata aku adalah orang terakhir yang bangun saat itu.
Sekitar pukul 11.00 perjalanan itu kami lanjutkan stelah usai makan dan menyiapkan alat-alat.
Dalam perjalanan menuju pos 10 pertanyaan dua rekan kami Wiyah dan Hikmah tak berhenti, sebab ia mulai lelah.
“Masih jauh kah kak” tanya nya.
Kadang kami serentak menjawab “dekat sekalimi 20 menit lagi” jawaban itu kami karang agar mereka semangat namun membosankan baginya.
Setiba di pos 10 sekitar pukul 08.30 zeed yang sedari tadi menunggu di atas bercerita bahwa ia kedinginan sendiri tanpa makanan dan minuman.
Wiyah dan Hikmah kami sarankan untuk bergabung dalam tenda yang telah di Bagun Zeed lebih dulu. Sembari menunggu tenda yang akan sediakan.
Seketika tenda-tenda itu kami sulap dalam malam yang di selimuti dingin yang menembus tulang-tulang. Wiyah dan Hikmah berpindah ketenda yang telah sedia, lalu beristirahat.
Abdullah mengambil alih tugas yang sebelumnya di berikan kepada Fitri, ia menyediakan santapan malam, sembari mendengarkan alunan lagu yang senada dengan kondisi nya saat itu.
“Kuingin saat ini engkau ada disin, tertawa bersama ku, sperti dulu lagi” Andmesh, Hanya Rindu. alunan musik itu mengingatkan Abdullah saat berada di Tanralili saat itu.
Ia seakan kecewa dengan waktu yang tak berpihak padanya. Bagaimana tidak, harapan nya dapat mengolah santapan itu bersama nya kini gagal.
Tak hanya lagu itu yang kami nikmati, Alunan dengkur Wiyah dan Hikmah juga memberikan kami hiburan malam itu.
Seketika sajian makan telah di hidangkan, kami membangunkan Wiyah dan Hikmah untuk makan lalu melanjutkan tidur nya malam itu.
Seusai menyantap hidangan itu, kami tertidur lelap. aku yang saat itu tidak membawa Slipingbeg. Hanya mengandalkan sarung adat Kajang Bulukumba, yang berwarna hitam pemberian Senior ku dulu.
Dalam tidur yang lelap, kami terbangun kaget. sebab tenda yang kami gunakan bersama Aan, ikba. Kini tergenang air hujan yang telah lama berlangsung.
Kami segera pindah, aku bergabung di tenda Zeed dan Abdullah, Ikbal dan Aan bergabung di tenda Wiyah dan Hikmah.
Malam itu harapan kami hanya satu, semoga kami baik-baik saja esok hari, segar masih dapat hirup udara dengan baik.
Harapan itu nyata, pagi mulai menyala membuyarkan mimpi yang masih bergejolak. Saya merasakan mentari kini kembali mengisi energi. Furkiy Sharoni pernah berkata “Seburuk apapun pendakian ketika matahari terbit semuanya akan baik-baik saja”
Mentari bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi simbol bagi hari baru, perjuangan baru untuk menghadapi masalah yang sama.
Kami tak menyalahkan alam yang membuat kami seperti ini, namun kami hanya menyalahkan diri yang tidak dapat melihat kondisi alam.
Waktu berlalu, dingin yang mehantam, hujan tak Redah, angin berhembus kencang. Semua nya kami lalui bersama malam itu.
satu persatu dari kami mulai sadar, meski masih saja dingin sekakan tak ingin hilang dalam tubuh, ia semakin kuat menggrogoti tubuh.
Namun kami bersyukur sebab tuhan masih saja mengabulkan doa-doa kami. harapan itu nyata, pagi mulai menyala membuyarkan mimpi yang masih bergejolak. Saya merasakan mentari kini kembali mengisi energi. Furkiy Sharoni pernah berkata “Seburuk apapun pendakian ketika matahari terbit semuanya akan baik-baik saja”
Mentari bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi simbol bagi hari baru, perjuangan baru untuk menghadapi masalah yang sama.
Kami bekerja sama menyajikan makanan untuk menambah kalori yang kini tersisa sedikit, hilang terkikis oleh tubuh yang selalu menyesuaikan imun tubuh.
Bercanda, tertawa terbahak-bahak dan bercerita semua itu kami lakukan sembari menunggu santapan pagi.
Hikmah yang saat itu memegang kendali dalam penyediaan isi kampung tegah, kini telah menyajikannya dengan seksama.
Kami mulai menyantap hidangan itu dengan nikmat, seketika suara terdengar saat kami mulai hening “Buda beka ia tallona Pitti” celetupan Abdullah.
Seketika tenda itu riuh dengan tawa, sebab yang di maksud pitti adalah Hikma. yang masih saja asik menikmati masakan yang telah di sajikan.
“Oh pertanda apa kah ini,” ucap ku dalam hati.
Seketika rauk wajah, Abdullah yang kini berubah, ia tersipu malu, seakan menyesal berucap hal itu.
namun bahagia yang terpancar dari wajah nya yang tak dapat berbohong, bahwa saat itu ia lagi kasmaran dengan khayalannya.
Akan kah terwujud cerita itu?
Atau meninggal kan kesana yang tak dapat di hindari oleh pikiran?
Namun harapan itu selalu berada di langit-langit tinggi sebab ia masih ingin mencobanya berkomunikasi selepas pendakian ini dengan trik yang ia sediakan terlebih dahulu, janji itu ia ucapkan saat kami berkendara
“Lambi pa dokko Anna ku chat i, amboron bertaytau, akanna Tek ko ikut sami” ucap nya dengan yakin.
Setelah menyantap makan itu, kami akan sammit terlebih dahulu dan mengabulkan hamparan awan sejauh mata memandang.
Lalu memutuskan kembali tempat kami masing-masing.
Saat di perjalanan pulang. tepat di Pos tuju, aku masih sempat menikmati senja yang tak dapat aku lihat sebelumnya, sebab kami terjebak gelap saat menuju Pos 10 sebelumnya.
Rekanku telah lebih dulu turun menyambangi Pos enam. sebab Hikmah, Wiyah dan Zeed ingin merubah rute ke jalur bulu’balea. Aku Nathan, Aan, Ikbal dan Abdullah tetap di rute Lembanna sebab kami ingin mengambil motor yang berada di lembanna.
Saat senja it mulai berganti gelap, aku putuskan untuk menyusul rekan tim yang sedari tadi meninggalkanku. tepat prediksiku. tak lama mereka sampai di Pos enam aku telah tiba.
Sekitar Pukul 18.20 tim itu telah terbagi menjadi dua untuk menyusuri jalur yang berbeda.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar.











