Oleh: Andi Abhar
Baju Ani digenggam erat oleh adiknya, Rangga. Sementara itu, tangan mungil Ani mengarahkan senjata AKM ke seorang anak lain di seberang sana. Anak itu, Caca, gemetar memegang pistolnya. Di antara mereka tergeletak mayat seorang tentara, dengan tas berisi ransum militer. Sekeliling mereka dipenuhi puing-puing kota yang hancur oleh perang.
“Menjauh dari sana,” ucap Ani, tangannya gemetar. “Kami yang pertama kali menemukannya,” lanjutnya. Usianya bahkan belum genap 16 tahun.
“Kakak, kita pergi aja, yuk…” pinta Rangga dengan nada memohon.
“Tidak, Rangga. Sudah berapa hari kita tidak makan,” balas Ani dengan suara yang keras dan kukuh.
“Bagaimana kalau kita berbagi?” ucap Caca. Tanpa sadar, air mata jatuh di pipinya.
Ani perlahan menurunkan senjatanya. “Kau benar,” katanya tegas. Di seberang, Caca juga menurunkan pistolnya. Mereka melangkah bersama ke arah mayat tentara itu.
“Dek… akhirnya kita bisa makan,” ucap Ani sambil tersenyum.
PAK!
Satu peluru meletus. Dada Rangga tertembus. Ia mati seketika. Ani tersadar cepat, ia berguling ke balik reruntuhan sementara tembakan demi tembakan dilepaskan oleh Caca tanpa henti. Di balik puing, Ani menangis sejadi-jadinya, isaknya bercampur gemuruh peluru.
KLIK.
Peluru Caca habis. Ia buru-buru mengisi ulang. Melihat kesempatan itu, Ani mengintip lalu menembak. Caca sigap menunduk, berlari jongkok menuju perlindungan.
KRAK!
Kaki Caca terkena tembakan sebelum sempat berlindung. “Aaargh!” raungnya kesakitan. Ia mengisi peluru sambil menahan nyeri. Ani terus menembak, berteriak dalam keputusasaan.
“Sialan! Dia keluargaku yang terakhir!” teriak Ani.
Caca bersandar di beton, menggigil. Ia menggenggam pistol erat-erat, nafasnya berat, matanya basah. Suara tembakan terhenti. Ia mengintip.
PAK! PAK!
Peluru hampir menyentuh wajahnya. Ani sengaja menghentikan tembakan. Ia mengganti magazen. Caca cepat-cepat merobek bajunya, membalut luka di kakinya, lalu berlari ke tengah sambil terus menembak. Ia merebut tas ransum, kemudian kembali berlindung. Tak ada suara. Ani menembak balasan, lalu keluar sambil terus menembak ke arah persembunyian Caca.
Namun… kosong. Caca tak di sana.
Ia melihat ke sekeliling. Tetesan darah di tanah menarik perhatiannya. Jejak itu mengarah ke ujung jalan, lalu belok ke kanan. Ani mengikutinya. Tanpa disadari, Caca yang sebenarnya bersembunyi di belakang, mulai bergerak, mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke Ani.
PUK!
Peluru ditembakkan, tapi meleset. Ani menunduk, telah mendengar suara benda jatuh sebelumnya. Ia berbalik cepat.
PAK!
Tembakan itu tepat mengenai dada Caca. Tubuhnya ambruk, mulutnya mengucurkan darah. Ani mendekat.
“Maaf… atas adikmu. Aku cuma ingin… bertahan hidup,” ucap Caca sebelum menghembuskan napas terakhir.
Ani mengambil tas berisi makanan itu, lalu pergi, meninggalkan dua mayat yang pernah ia sebut sebagai keluarga dan musuh, atau mungkin… keduanya.
Tujuh hari berlalu setelah itu. Ani berjalan di antara reruntuhan di dalam gedung. Di luar, terdengar suara kendaraan dalam jumlah banyak disertai suara tapak kaki yang menggelegar. Ia mengintip keluar gedung. Terlihat barisan tentara dengan senjata lengkap diikuti mobil militer. Di belakang sana, terlihat tank berjejer.
Seorang tentara mengalihkan pandangannya ke Ani. Ia refleks menyembunyikan kepalanya. Sayangnya, tentara itu terlanjur melihatnya. Tentara itu mengajak empat temannya masuk ke dalam gedung. Ani yang mendengar suara langkah kaki cepat, bersembunyi di belakang lemari yang hampir jatuh namun tertahan tembok. Ia bersembunyi di bawahnya, mencoba untuk tetap tegar.
Lima tentara yang masuk menggeledah isi bangunan lantai dua itu. Dua orang masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Ani. Dua tentara itu berada di posisi tembak yang sesuai. Ani menembak membabi buta.
Seorang tentara terkena tembakan yang banyak, sementara yang satunya sigap berdiri di belakang rekannya, mendorongnya ke arah tembakan. Mayat itu dan rekannya menjatuhi Ani.
PAK!
Belum sempat kembali ke posisi, tinju berat menghantam muka Ani. Kepalanya berdengung keras. Penglihatannya buram. Suara bising bergema di telinganya. Ani mencoba tetap sadar.
“Hanya anak kecil,” ucap tentara itu setelah bangun. Tiga rekannya berlari cepat ke arah ruangan itu.
“Di sini aman. Hanya anak kecil. Namun sayangnya, Jhon mati,” ucap tentara itu, melihat rekannya yang tidak bernyawa.
“Di sini aman,” ucap tentara di luar pintu melalui alat komunikasi. Tentara di luar yang mengarahkan senjatanya ke gedung, kembali melanjutkan perjalanan.
“Dia cantik,” ucap salah satu tentara kepada Alex, tentara yang memukul Ani.
“Aku duluan. Aku yang mendapatkannya. Kalian berjaga di luar. Setelah aku selesai, baru kalian,” ucap Alex tersenyum. Tiga tentara yang lain keluar lalu menutup pintu.
Alex mengambil senjata Ani, lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Dia perlahan membuka celana Ani. Belum sempat melakukannya, Ani menusuk leher Alex. Darah bersimbah keluar. Dia meraung sebelum mati.
Tentara di luar masuk ke dalam. Mereka mengarahkan senjata ke Ani.
“Dasar wanita jalang!” ucap tentara itu marah.
BUNGG!!
Bangunan di belakang tentara itu meledak, membuat ketiga terhempas. Begitu pula dengan Ani. Dia menerima gores kecil di wajah dan tubuhnya. Sementara di luar, suara tembakan dari senjata dan tank menggema, disertai teriakan prajurit. Di atas langit, melintas jet tempur menjatuhkan bom.
Ani berdiri kembali, mengenakan celananya. Dia mengambil tas salah satu tentara yang berisi ransum dan pistol dengan beberapa magazine-nya. Ani melompat di antara reruntuhan akibat bom sebelumnya, menuju lantai satu.
Dia berlari mencoba keluar dari gedung. Di pintu keluar, dia tertahan. Ratusan tentara adu tembak di luar. Dia mencoba melarikan diri melalui pintu yang lain. Saat berlari, Ani tiba-tiba bersembunyi di balik puing-puing. Segerombolan tentara lewat setelahnya.
Ani berlari keluar, bersembunyi di antara semak.
BUNGG!!
Gedung tempatnya bersembunyi sebelumnya meledak oleh rudal. Ani berjalan mengendap-endap di antara pagar rumput itu, sementara di hadapannya, tentara sibuk baku tembak. Tank-tank di depan mereka menjadi perisai. Ani menunggu hingga tentara itu lewat. Saat dia merasa sudah aman, Ani berdiri, berlari ke gedung sebelah, terus berlari hingga melewati gedung tersebut sampai ia sampai di jalan di sebelahnya.
Ani memperhatikan sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda tentara. Dia berlari sekuat tenaga ke seberang.
PAKK!!
Ani terkena tembakan. Dia tersungkur. Napasnya berat. Penglihatannya mulai kabur. Darah terkucur dari perutnya.
“Mengapa dunia begitu kejam…” ucap Ani sebelum akhirnya dia mati.
Di atas menara jam yang tinggi, penembak jitu ditemani rekannya yang menggunakan teropong melihat ke arah Ani.
“Dia pasti mata-mata musuh,” ucap orang yang menggunakan teleskop itu.
Sementara Ani… dia hanya menjadi Cerita Kecil Di Antara Perang.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar.











