Oleh: Fuad Jauhary
“Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup,” – Dea Anugrah.
“Besok perkuliahan diadakan jam 08.00 di ruangan 410,” demikian pesan singkat yang dibagikan ketua tingkat di grup WhatsApp kelas.
Untuk kesekian kalinya, lelaki A membaca pesan singkat itu dengan telapak kaki yang dingin diiringi keringat di dahi yang tidak kering-kering. Umumnya, hal itu merupakan gejala datangnya demam, namun tidak untuk lelaki A.
Saat lelaki A kembali mengingat-ingat hari itu, tiba-tiba notifikasi pesan muncul,
“Besok izin sakit saja. Kau masih punya stok pap saat berkunjung ke klinik, kan?” tanya perempuan Z.
Perempuan Z tahu betul lelaki A bukannya tidak suka dengan mata kuliah besok dan dia juga tahu soal lelaki A yang tidak sakit dan tidak pernah dirawat di klinik. Namun dibanding melihat teman kelasnya itu kembali berteriak-teriak di depan fakultas, apa lagi yang bisa dilakukannya?.
Perkuliahan hari itu tidak seperti biasanya. Bukan karena ruang kelas ditambah atau di kelas sudah disediakan pendingin ruangan atau diberikan proyektor untuk masing-masing kelas. Perkuliahan hari itu menjadi menarik karena kelas diadakan di ruangan 410.
Karena jumlah ruang kelas yang berbanding terbalik dengan jumlah mahasiswa, akibatnya kuliah hari itu dilakukan di ruangan 410. Lelaki A sebenarnya sudah mendengar desas-desus perkara ruangan itu bahkan saat dia masih menjadi mahasiswa baru. Tetapi dia menganggap cerita itu cuman kotoran yang disusupkan senior ke telinganya. Lelaki A mengenang hari itu sesaat setelah membaca pesan perempuan Z.
Seakan malam dan pagi hanya sebuah sakelar lampu, seketika lelaki A membuka mata dan menggerayangi lantai tempatnya tidur, mencari iphone-nya. Dilihatnya barang yang lebih penting dari dirinya sendiri itu, room chat yang masih menunjukkan nama perempuan Z dengan beberapa baris pesan abstrak yang seakan memiliki makna.
“Sorry, saya tertidur, pesan tadi tertekan,” lelaki A membalas pesan perempuan Z sebab perempuan itu menjawab kebingungan pesan abstrak tersebut.
“Saya tetap masuk. sekalian mau menghadap juga di ibu X, semoga masih bisa lulus di mata kuliahnya,” lelaki A menambahkan.
Jam di tangannya menunjukkan lima menit lagi dosennya sudah harus memulai kelas tetapi dari tempatnya berdiri, dia masih menatap ruangan 410 yang berada di ujung lantai empat itu. Dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, setidaknya itu yang teman-temannya lihat saat mereka melihat lelaki A.
“Santai, bung. Kita, kan, sudah setahun di sini, kenapa masih takut?”, tegur si lelaki B untuk menghibur. Lelaki A tersenyum kecut sambal melihat lelaki B, lelaki C, dan perempuan Y berjalan menuju ruangan tersebut.
Lelaki A hanya mendengarkan kontrak kuliah yang dijelaskan dosen namun dia merasa sekujur tubuhnya gemetar hebat, kepalanya terasa berat, dan hatinya begitu gelisah. Kelas yang membosankan dan sunyi dengan suara melengking dosen saat menjelaskan seketika riuh dan bergemuruh dengan teriakan. Lelaki A berusaha mengingat hari itu sambil melihat jam di tangannya yang beberapa detak lagi akan sampai di angka delapan.
Perempuan Z berusaha menarik baju polo lelaki A yang sedang berusaha berdiri sambil dengan lantang mengoceh tentang mata kuliah, jam kuliah, ruang kuliah, dosen mata kuliah, tugas kuliah, uang kuliah, hari kuliah, sistem kuliah, dan semua tetek bengek perkuliahan. Dengan telunjuk kanan mengarah ke atas sambil sesekali berbalik badan ke teman-temannya seraya berteriak,
“Betul tidak, teman-teman.”
Lelaki A berdiri tepat di hadapan dosen, menatap tajam ke pupil matanya seraya mengoceh dengan air liur terciprat ke mana-mana. Dosen hanya bisa mematung menyaksikan kejadian di depannya. Begitu juga teman-temannya, kecuali beberapa mahasiswa regular yang ada di kelasnya tertawa sembunyi-sembunyi melihat kejadian itu.
Lelaki A berlari keluar kelas membawa serta toa yang diambilnya di ruang dema. Dia melanjutkan teriakan dan ocehannya, bukan lagi soal perkuliahan, tetapi tentang esensi, substansi, orientasi, ideologi, kampus, rektor, negara, dunia, manusia, aparat, uang, tuhan, politik, dan semua bajingan tidak penting lainnya.
Suara toa yang berisik membuat semua mahasiswa, dosen, dan para pekerja di fakultas berkerumun di sekitar tempat lelaki A berorasi. Mereka semua berdesak-desakan melihat peristiwa langka tersebut.
“Mungkin begini gambaran mahasiswa lama yang dulu pernah diceritakan senior E, yah?,” tanpa memalingkan pandang dari kejadian yang di depannya, salah satu mahasiswa berbisik ke mahasiswa di sebelahnya.
Tidak ada yang berani mendekati atau bahkan menghentikan lelaki A. Bahkan perempuan Z yang diketahui sering bertukar pesan dengan lelaki A, tidak berkutip melihat apa yang ada di depannya.
Sambil mengingat-ingat kenapa dia bisa kesurupan aktivis kampus, lelaki A menonton videonya yang viral di dunia internet sambil berjalan menuruni tangga yang ada di depan ruangan 410. Sudah sejam jam delapan berlalu, sudah kali kedua bunda penjaga kantin membawakan kopi susu, sudah batang terakhir dari sebungkus rokok tanpa cukai itu diisapnya, namun lelaki A masih tidak bisa tahu kenapa dia menjadi aktivis kampus.
Seisi kelas serentak menjawab,
“Tidak ada, pak”, saat dosen menyebut nama lelaki A.
Bapak dosen tersenyum sambil membayangkan dirinya saat menjadi seusia lelaki A, dia kerap kali meneriakkan hidup Jokowi di depan fakultas. Dia sudah lupa kapan kali terakhir melihat demo dan aksi serupa.
Lelaki A menghangatkan ingatannya dan menunjukkan videonya kepada pelanggan di sebelahnya tentang bagaimana mahasiswa bereaksi saat masalah terjadi. Tentu saja, itu sehari sebelum lelaki A hilang tanpa kabar.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Islam (FUF) UIN Alauddin Makassar.











