Oleh: Nur Afni
Malam di Ibu Kota tak pernah benar-benar sunyi, tapi bagiku, kebisingan ini terasa seperti kepungan asap yang tak kunjung usai. Barangkali, sesak inilah yang akhirnya membuatku berani meneriakkan suara di depan publik.
Ada yang janggal dengan dunia ini. Tempat yang dulunya kita banggakan, kini beralih rupa menjadi panggung sandiwara para pemegang takhta. Malam itu, kepentingan pribadi mereka menjadi satu-satunya agenda yang dipaksakan. Dan aku, lelaki yang menolak tunduk, akhirnya justru terseret menjadi satu dari ribuan nyawa yang dikorbankan oleh mereka yang berdasi.
Aku seorang pria yang kerap disapa Aru, kini menjadi salah satu topik utama perbincangan. Hari di mana aku memberanikan diri menuju mimbar bebas ekspresi, menyuarakan isi hati rakyat dan mencoba mengusut tuntas kekerasan para oknum berjas, justru menjadi hari di mana aku menjadi korbannya sendiri.
Setelah berusaha menyuarakan kebenaran, ku beranikan diri melangkahkan kaki untuk kembali menuju rumah. Tempat yang harusnya menjadi tempat peristirahatan, justru tak kunjung kujangkau. Tepat pukul 23.37 WIB, sebuah insiden menggemparkan pecah.
”Akhhhh… tolong… tolong saya!”
Seketika kendaraan roda dua itu terjatuh di tengah dinginnya malam. Panasnya cairan itu membakar separuh tubuhku. Cairan itu bukan sekadar air, melainkan kumpulan amarah yang dicairkan. zat asam yang melumat identitas dan keberanianku. Di persimpangan itu, aspal yang biasanya dingin berubah menjadi bara. Aku tidak ingat siapa yang pertama kali datang menolong, yang kuingat hanya dua sosok pria yang kabur dan menghilang dari pandanganku.
”Hei, seseorang tolong bantu dia!” suara teriakan seorang perempuan menggema di telingaku.
”Bukannya dia Aru? Ya, dia Aru! Aktivis yang berani menyuarakan kebenaran itu!” sahut seorang pria sambil berlari ke arahku.
***
Keesokan harinya, bukan matahari yang membangunkanku, melainkan dinginnya ruang isolasi rumah sakit dan bau perban yang mencekik. Aku tak bisa melihat dengan jelas, separuh duniaku kini terhalang kain kasa tebal. Namun, pendengaranku justru menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
”Kami Aru! Kami Aru! Hidup rakyat!”
Yel-yel itu terus menderu di balik dinding rumah sakit. Namun di tengah riuhnya dukungan itu kini seseorang menghampiriku membawa satu berita yang cukup lebih dingin dibandingkan ruang itu.
”Ru… CCTV di persimpangan itu bocor,” bisiknya lirih.
“Hah? Pelakunya… ketemu?” tanyaku dengan suara yang pecah.
Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Empat orang, Ru. Mereka ternyata pemilik seragam kebesaran yang seharusnya melindungi kita. Empat pria berseragam tentara. Mereka menyerang dengan presisi seorang eksekutor, lalu hilang begitu saja.”
Dadaku berdegup kencang. Ironi yang menyakitkan. Mereka yang digaji untuk melindungi rakyat, justru menjadi algojo bagi suara rakyat. Kini publik gempar. Pertanyaan besar menggantung di langit ibu kota pagi itu. Siapa dalang yang mampu menggerakkan tangan-tangan terlatih itu untuk menghancurkan seorang pemuda yang hanya bersenjatakan kata-kata?
Mereka menganggap dengan membakar tubuhku, satu sosok Aru akan binasa. Namun mereka salah. Luka ini justru melahirkan ribuan Aru yang akan mengusut tuntas para pengkhianat negara.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar











