Bunga Tidur

Facebook
Twitter
WhatsApp
Gambar: Pinterest

Oleh: Muh Yudistira Fahrezi

Tuhan dalam tulisan ini aku berangan, memohon, dan meminta kepadamu agar istilah cinta di dalam hati maupun pikiran sirna.

Aku tak lagi ingin merasakan dicintai ataupun mencintai, aku lelah dengan semua hal itu. Jadi ku mohon untuk terakhir kali rahmat mu berpihak pada insan ini.

Dalam Wahyu yang Engkau sampaikan Tuhan, makhluk dimuka bumi akan mendapatkan cobaan yang setara dengan kemampuannya untuk melewatinya. Tapi, salahkah jika aku memilih untuk terkubur di dalam tanah bersama ulat-ulat yang menggerogoti organ tubuhku ?

Bukan karena insan ini tak lagi percaya dengan karunia yang kau turunkan, tapi lelah dengan semua skenario dunia yang berakhir tak berpihak, selalu, sepanjang waktu, bahkan selamanya.

Insan yang rapuh ini tak pantas, sama sekali tak pantas untuk marah apalagi menghujat Engkau wahai sang pemberi segalanya.

Benakku penuh! Jangan ditambah lagi! Kurang bersyukur, tak memiliki iman, kafir! Dukungan gonggongan para manusia tak berkaca lewat beningnya air. Merasa Tuhan sudah memilih mereka untuk masuk ke surga-nya, dasar!

Telingaku pengang dengan semua gonggongan mereka yang tak pernah habis. Maaf Tuhan, insan ini sabarnya sudah tak lagi hidup semenjak skenario dunia tak selalu berpihak.

Keyakinan yang telah lama terkubur, kini sudah diujung tanduk. Memang sudah saatnya untuk kembali. Cahaya surya masuk lewat sela-sela ventilasi udara, pelan-pelan merayap menjalar ke seluruh tubuh. Aneh, hangat yang seharusnya kurasakan berganti dengan rasa dingin yang menjalar sampai ke ubun-ubun.

Aku lupa jika ubin lantai yang aku tempati berbaring saat ini sudah bersimbah. Sampailah pada penghujung mataku terasa lelah. Sebutir embun perlahan turun membasahi pipi tepat setelah mataku terpejam untuk selamanya.

Kedepannya bukan lagi bunga tidur yang akan menemani, namun naif pikiran terbangun dipangkuan Tuhan adalah utopis.

Maaf tidak memilih jalan yang kau pilihkan dan sepantasnya menjadi bahan bakar neraka yang Engkau buat bagi mereka yang tidak sejalan dengan kehendak-mu Tuhan.

Semoga alur buruk ini tak akan pernah terkabul. Sebagai gantinya Tuhan, biarkan insan ini merasakan selalu bunga tidur yang mampu menghilangkan penatnya dari getirnya realitas.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami