Oleh: Zahra Awalia
Apa gunanya menulis tentang hujan, bila yang turun dari langit hanyalah berita korupsi, pajak yang mencekik, harga serba naik, janji 19 juta lapangan pekerjaan yang menjelma menjadi PHK massal dimana-mana, makan bergizi yang berakhir dengan keracunan, dan pembabatan hutan yang semakin masif demi tambang?
Kertas-kertas yang dulu kutaburi cinta kini hanya sanggup menyerap tinta kematian.
Aku menulis untuk menyumpahi mereka, setiap satu per satu dari mereka.
Aku menulis untuk mengutuk, tak berhenti dari telinga, tak berhenti di meja sidang, tapi mengalir sampai liang lahat.
Biarlah kata-kataku jadi tanah yang memberatkan tubuh mereka, menekan sampai tulang-tulangnya remuk, menahan roh mereka agar tak mengenal kata damai.
Sayang, disini, di tanah ini, kita hidup bersama perampok yang menyamar jadi pemimpin. Tapi sayang, kau berharap keindahan apa di tanah yang bahkan rumput nya enggan tumbuh? Kau tak lihat? Bahlil yang semakin bahlul memberi izin tambang sana-sini, menukar gunung dengan lubang, menukar sungai dengan racun. Negeri ini telah lama dijual, tetapi pembelinya tetap kita, rakyat jelata yang membayar dengan udara kotor dan tenggorokan kering.
Mau berpetualang kemana? Mendaki apa? Mengarungi apa? Setiap langkah hanya akan menuntun kita pada bekas-bekas galian, pada debu-debu yang menempel di paru-paru, pada terik matahari yang memar di kulit.
Alam yang dulu jadi pelarian, kini hanya ruang mati yang disulap menjadi “Pembangunan” Lihatlah betapa ironisnya , kita diajak untuk mencintai negeri tapi negeri ini sudah tak mencintai apapun selain laba.
Sayang, tak ada keindahan, sumpah tidak ada. Bahkan laut yang dulu biru kini memantulkan wajah-wajah tamak yang menjarahnya. Hutan-Hutan menjerit, tapi suaranya tak sampai ke telinga mereka yang sibuk menggunting pita peresmian. Kau tahu apa yang Paling menyedihkan?
Bukan kehancuran alamnya, tapi cara manusia merayakan kehancuran itu dengan tepuk tangan meriah.
Dan di tengah semua kebusukan negeri ini, kau tersenyum. Entah bagaimana, senyum mu itu masih mampu menenangkan sesuatu yang belum sepenuhnya mati tentang diriku. Mungkin yang tersisa dan bisa kusyukuri hanya senyum manismu, satu-satunya hal yang belum dicemari oleh izin tambang ataupun janji-janji politik.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin











