“Istigfar” Oleh Muhammad Fepi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Internet

Kala kesedihan menghantui jiwa.

Pikiran melayang tak terarah.

Tubuh pun terasa hampa.

Bagaikan jiwa tanpa roh.

 

Kesedihan pun menghantui diri.

Bayang-bayang aneh merasuk akal.

Perlahan-lahan air mata membasahi pipi.

Bibir mulai tergoyahkan akan isak tangis.

 

Tatkala rapuh ini ku coba bangkit.

Usap air mata mencoba tuk tersenyum.

Hati, pikiran, dan jiwa mulai menyatu.

Mengingat kembali kepada sang rabi.

Tanpa sadar bibir terucap istigfar.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester II

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami