Pertama dan Terakhir

Facebook
Twitter
WhatsApp
Gambar: Pinterest

Oleh: Muh Yudistira Fahrezi

Aku tahu bahwa pertemuan hari itu adalah ketidaksengajaan yang Tuhan berikan untuk mempertemukan kita. Mungkin kau akan menganggap suatu hal yang biasa bahkan peristiwa yang sama sekali tidak penting untuk diingat apalagi dipikirkan.

Namun, salahkah jika hal yang menurutmu biasa-biasa itu justru sangat terlihat istimewa dimataku. Aku tahu aku hanya seorang manusia tanpa memiliki hal istimewa untuk dibanggakan, bahkan perawakanku tidak begitu menarik untuk dipandang, tidak sama sekali. Tapi sifatku ? Persetan dengan itu, semua manusia akan menilai dari fisik saat pertama kali bertemu.

Tapi kau berbeda, entah apa yang ada dalam pikiranmu sampai mau mengajak manusia jelek ini mengobrol. Tatapanmu sangat tulus, aku memang bukan seorang psikolog atau orang yang memiliki indra keenam, tapi aku tahu itu! Matamu sama sekali tidak berpaling ketika aku mulai bercerita, matamulah yang menjelaskan segalanya.

Nada, intonasi, dan gaya bicaramu kepadaku masih terekam dengan sangat jelas di pikiranku. Caramu menanyakan hal-hal sederhana saja terlihat istimewa untuk seseorang yang telah lama tak lagi merasakan rasa itu.

“Siapa namamu ?” Kalimat yang pertama kali dilontarkan.

Pertanyaan sederhana yang sepontan itu berhasil membuatku gaguk menjawabnya, otakku seketika berhenti untuk berpikir ditambah wajahmu tiba-tiba mendekat ke arahku tepat setelah aku menjawab pertanyaannya “Siapa ?” Semakin dekat “Siapa tadi boleh diulang ?” Kebetulan saat itu suasananya rancu, tapi siapa manusia yang repot-repot berulang kali bertanya memastikan namaku siapa ? Hanya untuk sebuah nama!

Mungkin setelah itu ia tak lagi bertanya, itulah pikirku sebelum ia mulai melanjutkan kalimat kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku tahu pertanyaan tadi hal yang wajar untuk ditanyakan dalam menjalin hubungan pertemanan. Tapi mengapa pertanyaan sesederhana itu saja membuat mataku tak dapat menatap matanya, bahkan untuk waktu tiga detik. Wajahku tidak pernah lurus kedepan selalu berpaling dan akan selalu seperti itu saat berbicara dengannya.

Sayangnya sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan kita masing-masing dan kebetulan kau ingin naik ke bus yang sama denganku—tanpa sengaja kita berdua berdiri berdampingan menunggu banyaknya kerumunan orang-orang keluar. Tanpa alasan yang jelas secara tiba-tiba jari telunjukmu menunjuk ke arah tanda pengenal yang tertera di bajumu, ‘La Sinrang Perkasa Besitau’ indahnya persis dengan dirimu, anehnya lagi kau tiba-tiba menyipitkan matamu sembari tersenyum ke arahku, lalu berlari mendahuluiku masuk ke dalam bus tanpa bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan.

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna maksud dari tingkah lakumu barusan, terutama maksud senyuman itu. Lamunan itupun terpecah ketika sopir bus berteriak mempertanyakan kesediaanku untuk naik. Lupa ? Tentu saja tidak, justru aku semakin salah tingkah mengingat senyuman itu terakhir kali.

BODOH! KAU PIKIR KAU SIAPA HA ??? (Berdialog dengan dirinya sendiri)

Malu…, malu…, malu…, tolong siapapun tolong aku kalau bisa bunuh saja sekarang, aku ikhlas. Kenapa aku bisa sepercaya diri itu diberikan kursi untuk duduk olehnya ? DASAR BODOH! SIALAN! kapan sampainya bus ini. Sampai kapan aku akan menahan malu.

Ditengah rasa malu itu, tanpa kusadari ia sudah berdiri tepat di belakangku dengan satu tangan berada di saku celananya dan satu tangannya lagi memegang handle grip untuk menjaga keseimbangan. Sedangkan aku dengan tubuh yang pendek ini bisa apa, mau tidak mau berpegangan di kursi penumpang.

Menundukkan kepalanya “Maaf, sebenarnya kursi tadi ingin kuberikan untukmu. Tapi nenek itu merasa aku memberikannya” berbisik tepat di telingaku.

Bisakah kau tidak usah melakukan hal yang tiba-tiba, jantung ini cuman ada satu dan untuk mendapatkan cadangannya lagi butuh biaya yang mahal—kau benar-benar tidak memperdulikannya, kau bahkan meraih tangan ku tanpa persetujuan lalu meletakkannya di lenganmu. Aku tahu maksudmu baik agar aku bisa berpegangan, tapi ototmu terlalu besar untuk digenggam dan butuh dua telapak tangan agar bisa berpegangan dengan benar.

*CKITTTT! (Bus berhenti secara tiba-tiba)

Perasaan ini lagi, gawat! Jantungku kehilangan iramanya. Nafasku mulai tersengal-sengal. Aku bisa merasakan dada bidangnya menyentuh kepalaku, bahkan hembusan nafasnya terasa mengalir di ubun-ubunku.

“Kau tidak apa-apa ?”

Sejenak bersandar di dadanya “I-iya aku tidak apa-apa terimakasih” tidak menoleh sedikit pun.

Kebahagiaan itu tak bertahan lama, aku disadarkan oleh kenyataan bahwa ini adalah pertemuan yang kebetulan berkesan. Bus ini sebentar lagi akan tiba di halte selanjutnya—firasat mengatakan perpisahan kita semakin dekat. Benar rasa gelisah dan gundah bertumpuk menjadi satu, bayang-bayang tanganku berusaha meraihmu—sesaat mataku nyaris tak dapat terpejam. Dirinya perlahan pergi bersama bayangnya meninggalkan tempat di mana aku mengenalnya untuk pertama dan terakhir kali.

“Semoga kita dapat bertemu di ketidaksengajaan berikutnya, mungkin”

*@sel_c_outh mulai mengikuti anda

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami