The Blaspemir

Facebook
Twitter
WhatsApp
Gambar: Pinterest

Oleh: Andi Abhar

Satu skuad polisi beranggotakan 14 orang bergerak menyusuri gang sempit yang kumuh. Barang-barang berserakan di mana-mana, sementara bau busuk dari selokan, bangkai hewan, hingga aroma lain yang menusuk hidung membuat perut terasa mual. Suasana lembap akibat hujan, langit gelap diselimuti awan kelam, menambah kesan muram pada perjalanan mereka.

Orang yang berjalan paling depan mengangkat tangannya, mengepalkan telapak sebagai tanda berhenti. Seluruh anggota segera mengecek senjata masing-masing. Keringat dingin menetes di wajah, degup jantung semakin kencang, dan hening menyelimuti barisan.

Mereka pun berkumpul untuk berdiskusi. Sang kapten, Rangga, membuka percakapan dengan suara tegas namun tertahan.

“Situasi berubah. Kalian sendiri sudah mendengarnya lewat alat komunikasi barusan. Jumlah musuh lebih banyak dari perkiraan dan tersebar di beberapa titik,” ucap Kapten Rangga sambil menelan ludah.

“Kita tidak bisa mundur. Jika kita berhenti, akan lebih banyak nyawa melayang. Karena itu, kita bagi menjadi dua tim. Tim pertama bergerak menyisir, dan tim kedua bertugas mengevakuasi sandera.”

Begitu instruksi diberikan, tim penyisir mulai bergerak dalam senyap. Mereka masuk ke bangunan demi bangunan, menembak para pemuja kultus dengan senjata berperedam, kadang menusuk dengan pisau, atau mencekik menggunakan kawat baja. Pola itu berulang di setiap tempat yang mereka masuki. Namun, sesuatu terasa janggal.

Kapten Rangga mulai menyadari beberapa hal: sejauh ini belum ada satupun sandera yang ditemukan, para pemuja kultus tidak menunjukkan kewaspadaan, dan anehnya—tidak ada tanda-tanda kekacauan di bangunan yang sudah mereka amankan. Seharusnya ada orang yang memeriksa, tetapi polisi yang ditugaskan berjaga di setiap gudang yang telah dibersihkan tidak pernah melapor. Raut wajah pucat dan bingung dari para anggota menegaskan bahwa mereka juga merasakan anomali tersebut.

Setelah pertimbangan singkat, Kapten Rangga memutuskan untuk melanjutkan misi.

“Terus maju. Dua puluh tiga sandera menunggu untuk diselamatkan,” ujarnya mantap.

Mereka kembali bergerak, menyisir satu per satu bangunan. Lima bangunan berhasil diamankan, masing-masing dijaga satu polisi, hingga akhirnya mereka tiba di hadapan sebuah katedral raksasa yang menjulang angker.

Katedral itu berdiri dengan salib terbalik raksasa di puncaknya, menantang langit yang diselimuti awan hitam. Menara-menara runcingnya dihiasi salib berkarat, sementara dinding batu basah menopang bangunan yang mengeluarkan bau apek bercampur amis, seperti darah bercampur tanah. Angin berdesir melalui celah-celah retakan, menghasilkan jeritan menyeramkan yang menggema di lorong kosong. Atapnya menjulang tinggi, menembus kabut pekat, seakan hendak menusuk langit itu sendiri.

Di sisi lain, salah satu polisi bernama Aidil yang berjaga di sebuah bangunan mengangkat alat komunikasinya.

“Di sana aman?” tanya Kapten Rangga.
“Aman, Pak,” jawab Aidil singkat.

Namun, tak lama kemudian, terdengar bisikan lirih.

“Puja Sang Blaspemir… Puja dewa pembalasan dan kedengkian… Sang pemilik tanah yang ditinggalkan…”

Bulu kuduk Aidil berdiri, tangannya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Dengan suara serak ia berkata melalui alat komunikasi,

“Ada anomali…”

Pelan-pelan ia mencari sumber suara itu. Langkahnya membawanya menuju sebuah ruangan, tempat mayat musuh yang sebelumnya ditembak tergeletak. Kepalanya hancur, dan rongga itu kini dipenuhi belatung besar yang terus menggeliat. Aidil mendekat, hanya berjarak satu langkah lagi ketika sesuatu yang mengerikan menyadarkannya: mustahil mayat yang baru beberapa menit mati sudah dipenuhi belatung.

Ia menatap lebih lekat—dan ngeri menyadari bahwa suara itu keluar dari mulut si mayat.

Panik, Aidil berbalik hendak lari, tetapi…
PAK!

Pisau menancap di tenggorokannya. Darah muncrat membasahi lantai. Ia terjatuh, pandangannya kabur, lalu melihat sosok yang menusuknya: musuh yang lehernya hampir putus, diisi oleh belatung yang masih menggeliat.

Mayat itu bangkit. Dengan tenang ia mencungkil belatung bercampur lendir dari rongga kepalanya, lalu memasukkannya ke dalam mulut Aidil yang sekarat. Tubuh Aidil segera bergetar hebat. Kulitnya dipenuhi bintik nanah kuning, dari bawah permukaannya tampak jelas sesuatu yang menggeliat seperti belatung besar yang bergerak memakan dagingnya dari dalam.

Beberapa saat kemudian, tubuh itu berhenti bergetar. Aidil kembali berdiri normal, hanya meninggalkan bekas tusukan yang kini dipenuhi belatung. Ia menatap kosong, lalu membuka mulutnya.

“Puja Sang Blaspemir…”

Di sisi lain, salah satu polisi menoleh ke Rangga.

“Kapten, kita kehilangan kontak dengan kelima polisi penjaga secara bersamaan.”

Rangga terdiam sejenak, berpikir cepat, lalu menjawab dengan tegas,
“Terus bergerak. Prioritas kita adalah menyelamatkan sandera.”

Bilal dan polisi lainnya yang sudah dilanda ketakutan hanya bisa menelan ludah. Suara klik terdengar dari pintu—tanda kunci berhasil dibobol. Rangga memimpin pasukannya ke hadapan pintu katedral. Ia menghitung perlahan. Pada hitungan ketiga, mereka masuk bersamaan dengan posisi siaga.

Di dalam katedral yang gelap, suasana begitu suram dan menakutkan. Rangga bersama para polisi melangkah masuk serentak. Di ujung ruangan, tampak sejumlah orang berpakaian serba hitam menari dengan gerakan aneh dan menyeramkan. Mereka menari mengelilingi sebuah altar. Di atas altar berdiri sebuah salib terbalik. Pada salib itu tergantung seorang manusia dengan tangan dan kaki terpaku, kepalanya menghadap ke bawah. Lehernya telah digorok, dan darah yang menetes deras jatuh ke dalam sebuah cawan emas berisi belatung.

Melihat kejadian itu, Rangga langsung menembaki para pemuja kultus secara membabi buta. Bersama polisi lainnya, ia maju ke dalam sambil terus menghujani peluru. Tubuh para pemuja terkoyak, daging mereka berserakan ke segala arah. Namun mereka tetap menari, mengabaikan luka-luka yang merobek tubuh mereka. Baru setelah Rangga dan timnya mencapai tengah katedral, para pemuja itu berhenti.

Tiba-tiba, lilin di setiap sudut gereja menyala. Cahaya samar menyibak kegelapan, memperlihatkan isi katedral yang lebih mengerikan. Rangga dan pasukannya merasakan ketakutan yang amat sangat. Kaki mereka bergetar hebat, tubuh mereka basah kuyup oleh keringat dingin. Perlahan, mereka menoleh ke atas.

Di langit-langit katedral, puluhan atau mungkin ratusan, manusia tergantung. Leher mereka dijerat oleh sesuatu yang menjijikkan, seperti belatung raksasa yang menjulur. Mereka tampak hidup, tanpa luka sedikit pun: anak-anak, remaja, orang tua, pria, wanita, semua digantung di sana. Mata mereka terbuka menatap Rangga dan para polisi, jari mereka menunjuk ke arah pasukan itu, dan mulut mereka menyunggingkan senyum menakutkan. Serentak, mereka berkata:

“Puja Sang Blaspemir… Puja dewa pembalasan dan kedengkian… Sang pemilik tanah yang ditinggalkan…”

Kalimat itu terus diulang-ulang, bergema di setiap sudut katedral.

Bilal, dengan wajah pucat, menoleh ke arah altar. Ia melihat para pemuja yang kini menyingkap tudung mereka. Dari mata mereka, belatung putih berlendir keluar, merayap perlahan. Luka-luka bekas tembakan di tubuh mereka dipenuhi belatung bercampur darah dan cairan lengket. Serentak mereka berkata dengan suara parau:

“Kurban telah datang…”

Sekejap kemudian, tentakel raksasa menjulur dari langit-langit, turun menjerat para polisi. Ada yang mencoba kabur, tetapi tentakel itu menangkap kakinya, lalu menghempaskan tubuhnya ke lantai berulang kali sebelum menyeretnya ke atas. Yang lain hanya bisa menjerit pasrah.

Sesampainya di atas, tubuh para polisi itu menggeliat hebat sebelum akhirnya terdiam. Dan satu per satu, mereka ikut membuka mulut, menyuarakan kalimat yang sama:

“Puja Sang Blaspemir…”

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami