Washilah — Mahasiswa UIN Alauddin Makassar keluhkan proses mengajar dosen Program Intensif Bahasa Asing (PIBA) yang dianggap tidak lagi efektif.
Salah satu mahasiswa bernama Syela (bukan nama sebenarnya) merasa proses belajar PIBA saat ini sudah tidak berjalan dengan maksimal.
Syela merupakan mahasiswa angkatan 2025, yang sekarang sedang menduduki semester 3.
“Dari semester satu sampai sekarang, saya rasa PIBA ini tidak efektif karena dosennya sendiri jarang masuk kelas,” ungkapnya pada Rabu (15/7/2026).
Ia mengaku mengalami banyak kesulitan selama mengikuti kelas PIBA. Menurutnya, dosen lebih sering memberikan tugas dibandingkan menjelaskan materi pelajaran secara langsung.
“Biasanya dosen hanya memberikan banyak file tugas tanpa menjelaskan isinya, jadi kami kebingungan,” keluhnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua PIBA, Abdul Muis Said, mengungkapkan bahwa honor atau gaji dosen PIBA telah dipotong, hingga tersisa setengah dari jumlah yang biasanya diterima.
Menurutnya, pemotongan gaji ini berdampak langsung pada menurunnya kedisiplinan dosen.
“Dulu, para pengajar sangat antusias masuk kelas karena honornya masih layak dan mensejahterakan,” ujarnya pada Sabtu (18/7/2026).
Abdul Muis juga membeberkan bahwa kualitas belajar mengajar yang baik sangat sulit dicapai jika kesejahteraan para pengajarnya belum terpenuhi dengan layak.
Ia menyarankan pembelajaran PIBA sebaiknya dilaksanakan secara daring saja. Dengan begitu, Dosen PIBA dapat mengurangi biaya transportasi dan bisa menjadi alternatif karena kelas PIBA tidak tetap, sehingga mahasiswa kerap kali berpindah-pindah ruang perkuliahan.
“Solusinya, pembelajaran PIBA ini dilakukan daring agar mengurangi biaya transportasi apalagi PIBA tidak memiliki kelas tetap,” ujarnya.
Penulis: Farah Athaya (Magang)
Editor: Sappe











