Sepucuk Cerita dari Bulu Baria

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dokumentasi pribadi penulis

Oleh: Muhammad Iskar

Pada tanggal 12 September 2025 lalu, kami menapaki Jalur Bawakaraeng bersama tim yang kami rancang saat kami berada di Danau Tanralili sebelumnya—Komunitas Pecinta Alam (KPA) Mambi, yang berjumlah delapan orang.

Kami berangkat melalui Jalur Lembanna meski cukup melelahkan namun perjalanan saat itu begitu menyenangkan, tetapi tak-elok karna kami kekurangan satu personil. Sebab kendala cuaca waktu itu yang membuatnya tidak dapat izin dari orang tuanya, Fitri Handayani salah satu perempuan terkuat yang pernah saya temui.

Selepas kami dari Bawakaraeng, Fitri yang juga ingin merasakan jalur tersebut kini mengajak kami untuk menyusun waktu di Grup WhatsApp.

Sebab, ia ingin diajak untuk naik kembali setelah musim hujan. Namun beberapa rekan kami kini merasa tak ingin lagi menginjak jalur yang cukup melelahkan itu.

“Tidak sanggup membayangkan pos tujuh ke delapan,” ujar Hikmah melalui grup WhatsApp.

Dalam perbincangan itu, opsi gunung yang akan kami daki selanjutnya kini bermunculan dari beberapa rekan, ada yang ingin ke Lompobattang dan sebagian lainnya ingin kembali mengenang perjalanan di Bulu Baria, bahkan saya pun ikut mengajak ke Latimojong. Pertimbangan kini mulai bermunculan, mencocokkan waktu dengan aktivitas kami yang notabenenya mahasiswa aktif di kampus, rasanya sangat sulit tetapi bukan berarti tidak bisa. Namun pembahasan itu seketika teralihkan oleh aktivitas lain hingga tak satu di antara kami tidak lagi berkomentar.

Waktupun berlalu, grup WhatsApp kini mulai hening dan tak ada satupun kata yang terlintas.

Sungguh, sedikitpun pesan yang gemar ku tunggu kini tak lagi ada. Aku sempat berfikir mungkin hanya sampai di sini sebab kami semua terjajah untuk menjalani kesibukannya masing-masing.

Hanya sesekali kami saling berkabar, candaan dan ajakan yang hanya berakhir wacana. Akan tetapi, pada suatu momen di bulan Mei 2026 kini kami berbincang kembali tentang pendakian. Fitri yang kala itu masih berada di kampung ingin kembali ke Makassar, apabila ada ajakan untuk mendaki. Tak berselang lama rencana itu kini hampir matang, pendakian kali ini kita sepakati ke Latimojong setelah Idul Adha, karena kami berpikir pasti banyak daging kurban yang dapat dijadikan sebagai ransum nantinya.

Waktu berlalu tepat pada tanggal 31 Mei grup kembali aktif berbincang soal rencana.

“Bagaimana Latimojong,” Zeed menanyakan rencana itu melalui grup WhatsApp. Fitri yang sedari awal ingin mendaki membalas pesan tersebut, “naik ka saya tanggal 6 kalau jadi,” pesanya memastikan.

Kami sepakat meski beberapa diantaranya ada yang telah ragu dengan cerita kesulitan Jalur Latimojong.

“Kayaknya tidak ikut ke saya,” Wiyah membalas pesan itu. Namun kami tetap akan melanjutkan rencana yang sedari awal telah dirancang.

Hingga pada hari di mana Fitri telah merencanakan pemberangkatannya menuju Makassar sebab ia sangat ingin mendaki.

Sekitar dua hari seusai perencanaan itu, kami mulai membuat urutan nama yang akan ikut dan tanggal yang cocok untuk berangkat, hingga kami sepakat pada tanggal 12 Juni. Salah satu anggota kelompok kami sangat bersemangat sebab ingin mengabadikan momen-momen perjalanannya menggunakan handphone yang baru ia beli sebelumnya.

Persiapan fisik telah dimulai, namun pada suatu saat kabar tidak mengenakkan dari Fitri masuk. Ia mengirim foto screenshot pemberitahuan bahwa Jalur Latimojong resmi ditutup untuk observasi di tanggal 12—tepat pada waktu kami akan berangkat.

Seketika grup menjadi ramai kembali, berbincang tentang perubahan rute. Seperti sebelumnya, semuanya memberikan opsi; Bulu Baria, Lompobattang, Bawakaraeng. Itulah tiga gunung yang tercatat, namun kami memilih Bulu Baria, sebab beberapa teman kami belum pernah mendaki di gunung itu. Diantaranya Wiyah salah satu personil kami yang sangat setuju, katanya ia sangat ingin menginjakkan kaki di gunung tersebut.

Kini kami kembali mengatur waktu sebab beberapa di antara masih bergulat dengan akademik. Urutan nama semakin bertambah, namun di sela-sela pembahasan Abdullah ikut berkomentar di grup.

“Tapi mau ka saya ujian, tidak bisa ka ikut,” pesan itu seakan membuyarkan semua perencanaan kami merasa tidak enak, sebab Abdullah salah satu anggota yang kerap aktif dalam perjalanan. Hampa rasanya jika satu di antara kami tak ikut kali ini. Setelah berbincang, kesepakatan telah bulat kami akan menunggu hingga ia selesai final test.

Setelah beberapa minggu, Abdullah telah menyelesaikan final tesnya, perbincangan kini kembali aktif. Bukah hanya tanggal pemberangkatan, namun semua peralatan dan konsumsi kini kami matangkan saat itu.

Seiring berjalanya waktu, tanggal 17 adalah yang kami sepakati. Anggota tim semakin bertambah, Hirda sahabat dari Hikma, hingga Wiyah dan Fitri yang ingin ikut bergabung. Ia adalah pendaki perdana dalam tim kali ini. Namun kami semua merasa senang sebab anggota grup telah bertambah, menyusul Nizam, Raples, dan Umrah dalam urutan nama itu. Kini yang tercatat fiks yang ikut berjumlah 12 orang.

Meski banyak problem yang kami lewati sebelumnya, pasti akan terbayarkan oleh cerita dan tawa di jalur nanti, kami akan bercerita tentang kesulitan kami di kampus, ekonomi, bahkan romantisme.

Namun semua harapan itu pupus, saat malam sebelum berangkat kami mempersiapkan konsumsi yang telah dirancang sebelumnya, buras dan ayam kecap menu utama saat di gunung nanti.

Namun seketika semuanya hening saat kami memastikan salah satu rekan yang awalnya kami tunggu saat ujian, ternyata ia tidak dapat bergabung dalam perjalanan ini. Sebab orang tuanya telah memanggil beberapa hari sebelumnya.

Kami membujuk, agar dapat ikut kali ini saja namun ia tetap kekeh untuk pulang. Sempat ia ungkapkan saat kami sedang berdua, selain dari panggilan orang tua ia juga ingin pulang untuk panen sebab pembayaran semesternya akan tiba.

Namun ia selalu berkata akan ikut, sebab tak ingin perjalanan kami batal dan mengecewakan. Seketika Fitri yang sedari awal telah nyaman oleh sikap Abdullah di jalur meminta kepastian, “kasi ki kepastian kalau mauko ikut bilang ia, kalau tidak yah tidak jangan mi bohong,” ungkapnya.

Namun lagi-lagi Abdullah tetap mengatakan ia akan ikut dengan alasan yang sama meski itu telah tertebak.

Kami berharap malam itu adalah awal keceriaan dalam perjalanan nanti, ternyata semuanya membawa kekecewaan setelah menyelesaikan pembuatan buras dan beberapa konsumsi lainnya. Beberapa teman telah kembali ke kost dengan raut wajah yang tak dapat digambarkan lagi sebab orang yang sedari awal kami tunggu ternyata tidak dapat membersamai, bukan hanya itu Zeed juga rekan kami tidak dapat bergabung sebab tidak semangat lagi tanpa Abdullah.

Waktu berlalu, pagi pun tiba. Kami memastikan semua alat konsumsi dan semua rekan yang akan ikut kali ini fiks beranggotakan 12 orang. Setelah menyelesaikan semua urusan, kami berkumpul di kost Raples sekitar pukul 15.30 Wita, setelah semua barang telah di packing kini kami berangkat.

Dalam perjalanan tidak lupa kami mengisi bensin lalu melanjut menuju basecamp, saya yang bersama terkasih Umrah, lebih dulu tiba di Desa Parigi. Salah satu tempat singgah beristirahat untuk semua pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju basecamp sebab jarak yang ditempuh kurang lebih 2 jam.

Saat kami menunggu, perut pun mulai memberi alarm seakan ia berteriak meminta untuk diisi. Saya dan Umrah segera bergegas menuju warung bakso di samping kios itu, lalu memesan bakso.

“Bu, berapa bakso ta?” tanyaku ingin memastikan harga.

“Iye, ada yang 15 ribu ada juga yang 10. Mauki yang mana?” tanya ibu seusai menjelaskan harga baksonya.

“10 ribunya mo bu, dua dih,” seruku memesan bakso.

Sambil menunggu pesanan itu, Umrah menanyakan colokan untuk charge handphonenya. “Lumayan bertambah beberapa persen sebelum lanjut toh,” ucapnya sembari ia memperlihatkan senyuman khasnya yang menggoda.

Tak berselang lama, pesanan kami telah di suguhkan. Aromanya sangat khas membuatku tidak sabar melahapnya. Karena saya tipe orang yang tidak bisa makan tanpa nasi akhirnya menanyakan harga buras yang sedari tadi dihadapanku menunggu untuk diambil.

“Berapa harga buras ta?,” tanyaku.

“Tiga ribu satu, lima ribu dua,” jawanya.

Aku mengambil dua ikat, lalu memberikan satunya kepada Umrah. Namun ia tak ingin makan buras sebab takut ia kekenyangan.

“Alhamdulillah,” ucapku sebab aku sangat lapar. Namun sekali lagi menawarkan sebab aku takut salah kaprah terhadap tolaknya.

“Makan maki e, satu mo,” seruku. Namun Umrah memang tak ingin, kali ini aku tidak lagi salah kaprah terhadap tolakan perempuan ini yang selalu membingungkan, bilang nya tidak namun sebenarnya ingin di bujuk.

Seusai makan kami membayar, lalu mengambil handphone yang sedari tadi di charger dan kembali ke kios tadi. Saya duduk di samping Umrah lalu meminta tas yang ia bawa, membukanya dan mengambil rokok kretek yang telah ku persiapkan sebelum berangkat tadi.

Saya mulai membakar rokok dan menikmati suasana malam itu sembari menunggu kedatangan rekan kami. setelah beberapa isapan, Nizam pun tiba bersama Raplek, lalu disusul Ikbal, Hikmah, Wiyah, Aan, Hirda, dan Fitri. Kami telah lengkap.

Namun saya membiarkan mereka istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Setelahnya kami menuju basecamp yang mulai dijelaskan, bahwa jika ada satu sampah yang tertinggal dendanya sebesar 50 ribu. Itulah mengapa Bulu Baria termasuk gunung terbersih di Sulawesi, sebab, tak ada yang berani untuk meninggalkan sampahnya di puncak.

Setelah usai pemeriksaan barang kini saatnya mengabsen untuk registrasi, namun nahasnya kami berjumlah sepuluh orang yang di mana terhitung berpasangan. Seketika saya terdiam sebab hanya ada dua pilihan untuk dapat melanjutkan perjalanan malam itu.

Memilih untuk menyewa porter atau menambah satu rekan dalam tim. Kami pun berunding bernegosiasi dengan pengelola, akan tetapi hanya ada dua pilihan yang dapat diberikan. Kini semua harapan telah pupus untuk mendaki kali ini, rekan kami tidak lagi semangat.

Emosi bercampur aduk dengan lelah tidak terhindari lagi. Seharian mengurus semuanya namun berujung sia-sia, seakan kami menyalahkan Abdullah dan Zeed yang telah membatalkan perjalanannya.

Namun setelah berunding, Ikbal menghubungi Zeed untuk ikut kali ini. Ia menyatakan kesediaannya menemani kami dalam perjalanan ini, kini harapan itu seakan memeluk kembali untuk tidak mengecewakan.

Saya kembali bernegosiasi dengan pengelola dan sepakat satu di antara kami akan tinggal menunggu Zeed tiba perjalanan. Kini saya memutuskan untuk tinggal saja besok lalu menyusul.

Setelah semuanya dipersiapkan kembali kini rekan-rekanku mulai pergi. Sebagian naik ojek ke pintu rimba, sebagiannya lagi menyusul jalan kaki. Saya tinggal dan kembali ke basecamp untuk beristirahat.

Meski sedikit khawatir dengan Umrah yang berasal dari Jeneponto, sedangkan semuanya berasal dari Mamasa. Khawatir ia akan canggung, kesepian, dan dan tidak ada yang mengurusnya di jalur.

Sebab Umrah memiliki karakter yang pendiam dan pemalu, akan tetapi ia meyakinkanku untuk tidak khawatir, katanya ia bisa melewatinya kali ini. Namun tidak puas rasanya, hingga saya menghubungi Hikma untuk menitipkan Umrah malam ini hingga aku tiba esok hari. Setelah itu, handphone ku kini ku charger untuk persiapan di jalur nanti.

Saya kini tertidur lelap. Saat tertidur saya sempat bermimpi Zeed memanggilku untuk menyuruh ku bersiap-siap. Setelah beberapa saat saya tersadar, mataku melihat ke arah pintu Zeed berdiri di sana sambil tertawa dan mengajakku bersiap-siap karena ternyata pagi telah tiba. Saya pun segera bergegas mandi, setelah itu peregangan dengan Zeed bersama satu rekanya. Lalu melanjutkan perjalanan menyusul rekan kami yang telah jalan sedari tadi malam.

Setelah melewati beberapa pos, mereka tidak lagi berada di sana. Kini aku memberikan instruksi kepada Zeed untuk lebih cepat menyusul, sebab ia tidak membawa carrier. Lalu menyuruhnya mengabariku melalui Handy Talkie (HT) jika bertemu dengan mereka.

Setelah menunggu beberapa menit gemercik HT itu kini berbunyi, suara Zeed memberikan informasi bahwa ia mendapatkan mereka di pos enam. Saya dan Rahman—rekan Zeed yang tidak jauh dari pos enam memacu agar lebih cepat.

Kini kami telah tiba di pos enam dan semuanya bersorak-sorai saat aku berucap pertama kali, “mana pacarku?,” ucapku dengan nafas yang masih terengah-engah.

Namun bersyukur kami semua berkumpul, kini saya mendengar suara kecil Fitri menanyakan kehadiran Rahman dalam perjalanan itu.

“Siapa itu?” ucap Fitri.

“Teman nya Zeed” jawabku singkat.

Kini Fitri mulai membual, “oh ia, biar mi anggap saja kak AB” ucapnya sebab ia sangat menginginkan kehadiran Abdullah saat itu.

Kami tertawa terbahak-bahak, namun setelah tawa itu mereda kini Ikbal yang meminta agar semangka yang berada di carrier segera dibuka. Sebab ia sangat ingin dengan semangka itu sejak tadi.

Seusai mengeksekusi semangka itu, stamina kami telah kembali dan beberapa rekan telah siap untuk melanjutkan perjalanan dengan penuh tawa.

Tak terasa setelah berjalan berjam-jam kini kami tiba di pos delapan, area camping terakhir sebelum summit. Setelah sampai kami terlebih dahulu mengisi tenaga dengan buras dan ayam kecap, lalu kami membangun tenda dan beristirahat.

Namun saat malam kami semua bangun untuk bercerita sebab itulah salah satu ritual dalam pendakian yang tidak akan kami lewatkan, sebelum kami tertidur lelap dan bangun jam tiga subuh untuk bersiap-siap menuju summit.

Setelah bercerita sambil menikmati bakwan olahan Fitri, semuanya bersiap untuk masuk ke dalam tenda. Saya masih berada di luar untuk merapikan alat, sebab takut tamu tidak diundang datang tengah malam saat kami tidur lelap, anjing dan babi liar salah duanya.

Setelah semuanya beres, saya yang belum bisa tidur kini memutuskan untuk menyusuri sungai Bulu Baria untuk mencari kepiting. Setelah berjalan jauh kedalam hulu sungai, saya kembali sebab tak ada tanda-tanda sedikitpun kepiting berada di sungai itu.

Setelah sampai di tenda, saya duduk di depan pintu. Menyalakan korek lalu membakar sebatang rokok kretek untuk menunggu kakiku sedikit kering. Tidak lama hisapan demi hisapan pada rokok itu kini menyisihkan kedamaian, lalu akhirnya saya menarik sleeping bag dan tidur terlelap.

Tidak terasa, waktu untuk bersiap-siap menuju summit telah tiba, sebagian dari beberapa kelompok lain mulai riuh membangunkan rekanya yang masih tertidur, kami pun sama halnya bergegas lalu menuju summit.

Dalam perjalanan Fitri yang masih kelelahan dan mendapatkan tamu bulanan nya sempat berniat untuk kembali ke tenda. Namun kami dan rekan-rekan mencegatnya, sebab ia akan sia-sia datang jika kembali di perjalanan. Ia tetap memaksa dirinya berjalan dan pada akhirnya tiba di puncak meskipun penuh tangis.

Setelah satu persatu tiba di puncak kami semua menunggu pesona terbaik Bulu Baria, namun sayangnya ia seakan memberikan kode bahwa kami disuruh untuk kembali lagi di lain waktu untuk menyaksikan pesonanya.

Kini kami kembali meski sedikit kecewa namun tidak mengapa, sebab kami yakin pendakian bukan hanya tentang menikmati lautan awan, akan tetapi semua rangkaian perjalanan itu adalah bagian dari pendakian. Lautan awan hanyalah nilai plus bagi siapapun yang beruntung, yang terpenting kebersamaan selalu terjaga.

*Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami