Kisah Petani Makassar dan Harapan yang Selalu Bisa Diandalkan

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh: Muhammad Musmulyadi

Ketika itu saya masih di kabupaten yang merupakan salah satu lumbung padi nasional, Sidrap. Saya sedang melaksanakan amanah kampus, pengabdian masyarakat, KKN. Salah satu keluarga dari teman datang berkunjung. Kami sedikit mengobrol beberapa hal. Kami saling menanggapi seperti basa-basi orang yang baru bertemu pada umumnya.

Setelah mengetahui saya berasal dari Makassar, kemudian dilanjut dengan pertanyaan “apa kerjanya bapakta?”, saya langsung saja menjawab “petani kak—lebih cocoknya buruh tani, karena tidak memiliki lahan sendiri”. Dengan respon balasan yang diberikan, saya sedikit khawatir dengan jawaban tersebut. Mungkin dalam anggapannya, seseorang yang tinggal di kota besar seperti Makassar, pekerjaannya kalau bukan pegawai ya karyawan. Kira-kira begitu.

“Masih adakah sawah di Makassar?”, saya kemudian disergap dengan pertanyaan seperti itu. Mau tidak mau saya harus menjelaskannya. Asumsi seperti itu sepenuhnya tidak salah. Mengingat setiap tahunnya lahan pertanian mengalami penyusutan terutama di kota besar. Lahan pertanian berubah fungsi seiring dengan ledakan pertumbuhan penduduk kota.

Memang tidak seperti di Sidrap, namun aktivitas pertanian di sini masih berlangsung, meskipun di tengah himpitan gedung-gedung pabrik, sebab wilayah Makassar yang saya tempati merupakan kawasan industri. Meskipun begitu denyut pertanian masih berlangsung, kelompok tani juga ada seperti di desa-desa. Penyuluhan-penyuluhan dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar juga masih sering ditemukan. Satu waktu di musim tanam, dinas pertanian datang membawa sebuah konsep bertanam jajar legowo yang kemudian para petani diminta untuk menerapkannya. Sistem ini betujuan untuk meningkatkan hasil produksi padi.

Petani di sini menanam padi untuk konsumsi sendiri. Jika itu hasil produksi empang atau tambak akan dijual ke perusahaan. Satu waktu jika sangat dibutuhkan secara terpaksa gabah kering dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk untuk menutupi ongkos pendidikan anak-anak. Anak-anak disekolahkan setinggi-tingginya agar nanti tidak jadi petani. Kenapa? “Petani tidak menjanjikan masa depan”, begitu kira-kira anggapan orang tua petani. Stigma tersebut berangkat dari melihat taraf hidup petani yang sangat minim, jauh dari kata sejahtera.
Petani sebagai profesi yang termarjinalkan. Petani dianggap sebagai profesi yang tidak menguntungkan dari sektor ekonomi dan kesejahteraan. Celakanya, ada yang menganggap petani sebagai kaum terbelakang.

Rata-rata petani kita memang tidak bersekolah tinggi, tidak bersekolah seperti bapak saya, kebanyakan sudah berumur, jarang ada anak muda apalagi sarjana. Tapi untuk masalah pertanian tidak bisa diragukan, bisa kita lihat terampilnya seorang petani dalam melakukan tahap demi tahap proses pertanian. Ilmu ini tidak ia dapat dari bangku perkuliahan di fakultas pertanian, melainkan diajar langsung oleh pengalaman bertani dan ajaran-ajaran para orangtua dulu.

Seperti, bagaimana cara melihat musim, menafsirkan usia bulan, berdialog dengan alam yang kemudian menjadi pertimbangan ketika ingin memulai usaha, ilmu yang sangat mahal. Tentu keliru jika kita yang berpendidikan menganggap lebih pintar dari seorang petani. Apalagi sampai memandang remeh.

Aneka produk-produk pertanian yang ada dihadapan kita ketika di meja makan, gula yang dimasukkan kedalam minuman, dan jagung-jagung yang biasa kita bakar, dan produk pertanian lainnya merupakan hasil dari keringat petani yang diperas di bawah sinar matahari. Lebih dari 200 juta jiwa menaruh kebutuhan pangannya pada petani kecil. Petani kecil seperti ini berjuang sendiri, dengan modal miliki sendiri, untung dan rugi dirasakan sendiri.

Bahkan di tengah pandemik ini, dibanding dengan profesi lain, petani masih beraktivitas seperti biasa tidak disulitkan oleh protokol kesehatan, lahan pertanian tetap produktif. Di bulan pertama mewabahnya virus, bapak melakukan panen dan kemudian panen selanjutnya pada bulan ini (agustus). Suatu kesyukuran.

Peran Pertanian
Sektor pertanian semakin jelas peranannya untuk bangsa ini. Terlebih di tengah bayang-bayang krisis yang diakibatkan oleh pandemik covid-19. Pandemik mengajarkan kepada kita bahwa betapa pentingnya kedaulatan pangan secara mandiri.

Khudori, Anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan, menerangkan bahwa pertanian merupakan kekuatan ekonomi domestik yang cukup tangguh, terbukti ketika menghadapi krisis pada tahun 1998 dan 2008.

Berbagai upaya saat ini dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian, yaitu dengan membangun cetak sawah baru serta pengembangan program lumbung pangan nasional (food estate). Juga Menteri Pertanian tengah melakukan mengembangan lahan rawa untuk produksi pangan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memiliki visi kerja bernama Kostra tani atau komando strategis pembangunan pertanian. Kostra tani merupakan garis komado pusat kegiatan pembangunan pertanian presisi tingkat kecamatan hingga pusat untuk mewujudkan kedaulatan pangan dengan memanfaatkan informasi dan teknologi (Gandhi, Republika/10/03/2020).

Beriringan dengan itu, muncul berbagai inovasi pertanian tanpa lahan yang mulai diterapkan untuk untuk menyiasati keterbatasan lahan di perkotaan. Saya juga melihat di desa Bina Baru Kabupaten Sidrap Pemanfaatan pekarangan rumah untuk dijadikan lahan bercocok tanam sayur-sayuran dengan potensi yang lumayan menjanjikan.

Tentu saja peluang lapangan kerja untuk pertanian begitu luas. Sektor pertanian menyerap lapangan pekerjaan sebanyak 28, 79 persen (BPS, 2018). Apalagi jika pengelolaannya dilakukan lebih serius agar bisa lebih menguntungkan. Sehingga Stigma tentang pertanian yang tidak bisa menjanjikan apa-apa dengan sendirinya akan hilang ketika denyut nadi petani dekat dengan kesejahteran seperti profesi-profesi lainnya.

Menurut Imam Mujahidin, dosen Ekologi Politik Unhas dalam tulisannya Hibridasi Pembangunan Pertanian di Republika, strategi untuk menghilangkan stigma miring tentang pertanian dilakukan dengan merumuskan pertanian maju, mandiri dan modern. Hal ini bisa tercapai jika kita fokus pada peningkatan produksi untuk kesejateraan petani dan kemakmuran sosial (03/02/2020).

Petani memiliki modal untuk maju, modal untuk menghadapi dinamika dunia yang serba dipenuhi ketidakpastian. Ini adalah modal besar untuk sektor pertanian kita disamping modal alam yang sangat mendukung. Petani-petani tangguh harus melahirkan petani baru yang membawa beragam inovasi untuk kemajauan pertanian kita.
Terakhir, saya akan mengutip sebuah pesan yang penuh optimisme dari seorang tokoh dalam cerpen “Mengantar Benih Padi Terakhir ke Ladang” karya Silvester Petara Hurit (Kompas, 19/04 2020).

“Jika waktunya tiba. Tanamlah walau hujan belum turun. Ketika benih sudah di antar ke tanah, langit dan bumi kawin. Hujan turun. Padi tumbuh dan membiak di atas tanah berbatu sekalipun. Jangan khawatir, bukan hanya kamu yang hidup di atas tanah ini. Sudah beratus bahkan beribu tahun leluhurmu hidup di atas tanah yang sama. Menanam padi yang sama dengan tata dan cara kerja yang juga sama. Padi itu manusia. Jika setia, ia tak mungkin meninggalkanmu”.

Pesan ini mengatakan kepada kita bahwa pertanian menjanjikan peluang cukup besar di hari mendatang. Sektor ini paling bisa diandalkan dan terbukti ketangguhannya dalam menghadapi berbagai krisis. Meski hujan rupiah sekalipun, pertanian harus tetap berjalan. Kekuatan bangsa kita ada disini. Majulah Pertanian. Diikutkan pada Lomba Menulis Agriwriting Competition 2020 Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Tafsir dan Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Politik (FUFP). 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami