Tidak Ada Puisi Manis di Sini Sayang, Aku WNI

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto: Pinterest

Oleh: Zahra Awalia

Negeri ini tak suka bunga, ia lebih senang padang gersang tempat kebodohan bisa berkubang dengan tenang. Mekar berarti menantang sebab di mata penguasa, keindahan hanya milik mereka yang berkuasa, bukan milik rakyat jelata yang berani mengangkat kepala, bersuara.

Maka jangan heran mengapa negeri ini tidak bisa bertumbuh, logika bengkok menjadi landasan hukum. Yang menulis perlawanan dianggap pembuat propaganda, yang bersuara dituduh sebagai provokator, yang menuntut hak dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Segala bentuk hidup yang tak sesuai dengan palu mereka, akan dicap sebagai racun yang harus dibasmi.

Cinta ke negeri ini sudah terlalu lama dianiaya, dicabik-cabik sehingga yang tersisa hanya amarah yang dipelihara. Dahulu kata-kata manis tentang tanah air terasa sakral, diucapkan dengan dada yang penuh dengan rasa bangga dan mata yang berkaca-kaca. Kini, kata-kata itu hampa, retorika basi yang hanya dipakai untuk meninabobokan rakyat .

Aku tak lagi percaya pada janji-janji yang mengalir dari bibir pejabat. Mereka yang berteriak “Demi Rakyat!!” sambil merampok isi perut rakyat itu sendiri. Mereka mengibarkan bendera seakan suci, padahal kain itu kini terasa kotor oleh tangan-tangan yang menukar martabat dengan kepentingan pribadi . Dan setiap kali aku melihatnya , yang keluar dari mulutku bukan lagi syair pujian, melainkan kutukan.

Ironis bukan? Bahwa rasa cinta bisa menjelma menjadi sumpah serapah . Tapi begitulah nasib bangsa ini : yang setia dikhianati, yang berjuang dipinggirkan, yang jujur dihancurkan. Maka jangan salahkan aku bila cintaku berubah menjadi makian. Itu bukan tanda aku membenci melainkan tanda aku tak rela negeri ini terus diinjak-injak oleh orang yang tak pantas duduk di kursi kekuasaan.

Apa yang mereka menangkan, selain kursi empuk untuk pantat busuk mereka, sementara rakyat masih jongkok di selokan penuh lumpur demi mencari sesuap nasi? Apa yang mereka menangkan, selain kesempatan mencuri dengan cara yang paling shahih dan dilegalkan selain pesta jamuan yang dibayar dari jerih payah petani yang bahkan tak pernah mencicipi hasil tanamnya sendiri?

Sialan!! Betapa memuakkannya melihat tawa mereka. Betapa menjijikkannya menyaksikan jari telunjuk mereka teracung penuh dengan kebanggan palsu, seolah-olah negeri ini berdiri karena kerja mereka. Padahal yang berdiri hanyalah tumpukan dusta yang roboh tiap kali angin jujur berhembus.

Jikalau kebodohan membentuk piramida, maka anggota parlemen negeri inilah yang bertengger di puncak tertinggi dengan dada membusung seolah dewa yang baru saja menaklukkan jagat raya.

Goyangkanlah pantat dan perut buncitmu! goyanglah di atas kuburan keadilan, bergoyanglah di atas tulang-belulang harapan yang kalian sendiri patahkan, sebentar lagi sejarah akan meludahi wajahmu. Betapa jelas termpampangnya jejak kelamnya: penculik, pembunuh, penindas. Yang lainnya tak kalah menjijikkan, anak haram konstitusi, lahir dari kelicikan, tumbuh dari pengkhianatan. Namun lihatlah, mereka tetap tenang, tetap menang.

Kenapa?? Karena terlalu banyak domba-domba yang begitu mudah digiring, dicekoki dengan janji-janji manis akan sebuah bangsa yang maju, hingga percaya bahwa bangkai bisa berubah menjadi roti suci.

Sialan benar, negeri ini dipimpin bukan oleh manusia, melainkan kawanan celeng yang mabuk kuasa. Mereka menjual intregritas dengan harga receh lalu menuntut rakyat untuk berlutut memuja. Mereka bukan lagi pengabdi negara, melainkan jongos setan yang bangga dengan seragam dan jabatannya dan rakyat selalu jadi kambing hitam . Diseret di medan luka, sementara yang mulia sibuk mengangkangi meja kekuasaan.

Aku muak melihat negeri yang takut pada bunganya sendiri. Seakan-akan rakyat yang mekar adalah ancaman, padahal ancaman yang seharusnya ditakuti adalah bangkai tirani yang terus berbau busuk. Tapi beginilah jika negeri dikuasai oleh para pengecut, yang gemetar bukan pada musuh sejati melainkan pada rakyat yang berani melawan.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami