Kemanakah Arah Gerakan Mahasiswa Hari Ini?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Beban dan keresahan mahasiswa. | Ilustrasi: Senyap

Oleh: Saldiansyah Rusli

Gerakan mahasiswa lahir dari kontradiksi sosial, melainkan hasil dari ketimpangan struktural yang menindas. Dalam sejarah mahasiswa tampil sebagai subjek revolusioner yang menggugat tatanan sosial-politik yang timpang. Seperti yang ditegaskan Karl Marx, perubahan sosial tidak lahir dari tafsir dunia semata, melainkan dari upaya untuk mengubahnya. Pertanyaannya yang kemudian muncul, apakah mahasiswa masih memiliki kemauan untuk mengubah atau justru telah berdamai dengan ketidakadilan dan penindasan?

Di tengah kompleksitas terhadap problematika yang terjadi, gerakan mahasiswa justru kehilangan arah perjuangan. Penyampaian gagasan sebagai perpanjangan tangan dari syarat materi bukan sekedar gerakan simbolik—datang, berorasi, lalu pulang tanpa keberlanjutan politik. Perlawanan direduksi menjadi ekspresi moral sesaat, bukan strategi jangka panjang. Dalam bahasa Vladimir Ilyich Lenin, gerakan semacam ini hanya menghasilkan spontanitas, bukan kesadaran revolusioner yang terukur dan mengakar.

Problematika utama gerakan mahasiswa hari ini adalah hilangnya kesadaran ideologis. Gerakan berjalan tanpa garis politik yang jelas (Depolitisasi) terjebak pada tuntutan normatif yang tidak menyentuh akar penindasan. Rosa Luxemburg mengingatkan bahwa gerakan tanpa orientasi ideologis hanya akan berputar-putar dalam lingkaran reformisme. Ketika mahasiswa takut berbicara tentang kelas, modal, dan kekuasaan, maka gerakan kehilangan daya gugatanya.

Fragmentasi organisasi memperparah keadaan. Gerakan mahasiswa terpecah dalam ego sektoral, kompetisi simbolik, dan perebutan pengaruh kecil. Alih-alih membangun front persatuan atau upaya konsolidasi besar, mahasiswa sibuk mengelola konflik internal. Tanpa adanya penyatuan idiologis dan disiplin organisasi, gerakan revolusioner akan runtuh sebelum berhadapan dengan musuh sesungguhnya.

Lebih jauh, kooptasi sistemik menjadi ancaman nyata. Kapitalisme tidak lagi menindas dengan kekerasan semata, tetapi melalui integrasi. Beasiswa, proyek, akses kekuasaan, dan fasilitas dijadikan alat untuk menggembosi gerakan mahasiswa. Herbert Marcuse menyebut kondisi ini sebagai masyarakat satu dimensi—di mana perlawanan diserap, dinegosiasikan, dan dinetralkan. Mahasiswa yang masuk dalam logika ini tidak lagi menjadi ancaman, melainkan pelengkap stabilitas sistem.

Kampus, yang seharusnya menjadi ruang produksi kesadaran kritis, justru berfungsi sebagai aparatus ideologis. Louis Althusser menyebut institusi pendidikan sebagai alat negara untuk mereproduksi relasi produksi. Aktivisme dipersempit, disiplin diperketat, dan mahasiswa diarahkan menjadi tenaga kerja patuh, bukan subjek pembebasan. Tragisnya, represi paling efektif bukan datang dari luar, melainkan dari internalisasi kepatuhan itu sendiri.

Di titik ini, pertanyaan “Ke mana arah gerakan mahasiswa?” menemukan jawabannya yang pahit: ke arah depolitisasi dan irrelevansi, jika tidak segera dikoreksi. Gerakan mahasiswa berisiko menjadi dekorasi demokrasi liberal—diperbolehkan berisik, asal tidak menggugat fondasi mendasar dari kekuasaan.

Karena itu, gerakan mahasiswa membutuhkan reorientasi revolusioner. Mahasiswa harus kembali membaca realitas dengan analisis kelas, membangun kesadaran kolektif, dan menghubungkan perjuangannya dengan gerakan rakyat yang lebih luas dalam hal ini buruh, tani, masyarakat adat, dan kaum miskin kota. Frantz Fanon mengingatkan bahwa pembebasan sejati hanya mungkin jika kaum terdidik berpihak secara totalitas pada yang tertindas, bukan berdiri di antara penindas.

Gerakan mahasiswa tidak cukup hanya menuntut perubahan kebijakan ia harus menggugat struktur yang melahirkan ketidakadilan itu sendiri. Tanpa keberanian melampaui batas-batas legalistik dan reformis, gerakan mahasiswa akan terus dikurung dalam siklus kegagalan yang sama.

Sejarah tidak bergerak oleh mereka yang netral. Ia digerakkan oleh mereka yang memilih berpihak. Mahasiswa hari ini dihadapkan pada pilihan historis yakni menjadi subjek revolusi sosial atau menjadi penonton terdidik dari penindasan yang terus direproduksi. Seperti kata Che Guevara, revolusioner sejati digerakkan oleh rasa cinta yang mendalam terhadap kemanusiaan. Tanpa itu, gerakan mahasiswa hanyalah nama tanpa isi.

*Penulis merupakan Demisioner Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami