KKN Angkatan 78 Melirik Pendidikan Dianggap Sebagai Tempat Formalitas

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber: Dok. Pribadi Penulis

Oleh: Muhammad Edi Nursyam

Pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan generasi bangsa. Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan kemirisan di wilayah pendidikan yang memprihatinkan. Di berbagai wilayah, khususnya daerah Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, dunia pendidikan masih bergelut dengan persoalan klasik: kurangnya kepekaan melihat kemirisan di wilayah pendidikan yang layak.

​Kenyamanan mulai perlahan hilang sehingga ruang kelas tidak begitu nyaman ditempati. Bahkan, keterbatasan fasilitas yang menjadi penunjang kenyamanan siswa maupun siswi, seperti perpustakaan dan akses teknologi, menjadi potret nyata yang tidak bisa lagi diabaikan. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung seakan menjadi hal yang lumrah, tanpa penanganan serius dan berkelanjutan.

​Peran dinas pendidikan sebagai pemangku kebijakan seharusnya menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak. Namun, kenyataan menunjukkan adanya ketimpangan perhatian dan kurangnya kebijakan yang tepat sasaran. Program yang dirancang sering kali tidak menyentuh kebutuhan dunia pendidikan yang mendasar di lapangan, bahkan terkesan hanya menjadi formalitas administratif semata.

​Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas pembelajaran, tetapi juga pada semangat dan motivasi peserta didik. Bagaimana mungkin siswa-siswi dapat bermimpi besar jika lingkungan belajarnya sendiri tidak mendukung minat belajar? Bagaimana guru dapat mengajar secara maksimal jika sarana dasar saja tidak terpenuhi?

​Pendidikan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan tentang masa depan manusia. Ketika prasarana begitu diabaikan, maka kita sama saja dengan mengabaikan harapan generasi penerus bangsa.

​Sudah saatnya dinas pendidikan melakukan evaluasi menyeluruh dan bertindak lebih bijak serta responsif terhadap kondisi nyata di lapangan. Transparansi, pemerataan anggaran, serta keberpihakan pada daerah yang tertinggal harus menjadi prioritas utama.

​Jika tidak, maka kesenjangan pendidikan akan terus melebar, dan mimpi tentang keadilan pendidikan hanya akan menjadi wacana tanpa makna.

​*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami