Oleh: Anarchierchives
Mengapa feminisme yang awalnya dikenal sebagai perjuangan kesetaraan kini oleh sebagian orang justru dianggap identik dengan kebencian terhadap laki-laki?
Feminisme belakangan ini sering dipahami secara keliru. Tidak sedikit orang yang menganggap feminisme hanya tentang kebencian terhadap laki-laki. Sedikit kritik atau perbedaan pendapat kadang langsung dibalas dengan cap seperti “misoginis” atau sindiran bernada merendahkan. Akibatnya, banyak orang yang belum benar-benar memahami feminisme jadi melihat gerakan ini bukan lagi sebagai perjuangan kesetaraan, melainkan semacam ruang kemarahan terhadap laki-laki.
Padahal, feminisme pada dasarnya lahir untuk membahas ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, terutama soal bagaimana sistem sosial, budaya, dan relasi kuasa dapat membuat posisi perempuan tidak setara. Fokus utamanya adalah mengkritik sistem yang tidak adil, bukan membenci laki-laki secara pribadi atau menganggap semua laki-laki sebagai musuh. Ketika kritik terhadap sistem berubah menjadi kebencian terhadap individu, yang muncul justru konflik antargender, bukan pembahasan yang sehat.
Kesalahpahaman ini sebagian muncul karena banyak orang mengenal feminisme hanya dari potongan video, unggahan media sosial, atau pengalaman pribadi yang emosional tanpa memahami sejarah dan tujuan gerakannya secara utuh. Di era media sosial, konten yang emosional, sarkastik, atau penuh kemarahan memang lebih cepat menarik perhatian dibanding pembahasan yang edukatif dan mendalam. Lama-kelamaan, sebagian orang mengira narasi yang paling keras itu adalah wajah utama feminisme, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dalam teori gender, patriarki dipahami sebagai sistem sosial yang membuat satu gender lebih dominan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, politik, ekonomi, bahkan cara seseorang diperlakukan dalam kesehariannya. Namun, penting dipahami bahwa patriarki tidak selalu dijalankan oleh laki-laki. Perempuan juga bisa ikut mempertahankan budaya tersebut, misalnya dengan membenarkan standar ganda, menyalahkan korban kekerasan, atau menganggap perempuan harus selalu tunduk pada peran tertentu.
Karena itu, persoalan gender sebenarnya tidak sesederhana menganggap semua perempuan selalu tertindas dan semua laki-laki selalu diuntungkan. Dalam banyak situasi, laki-laki juga bisa mengalami tekanan akibat tuntutan sosial. Misalnya, anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat, tidak boleh menangis, harus sukses, atau dianggap “kurang jantan” jika menunjukkan emosi. Tekanan semacam ini juga lahir dari cara masyarakat membentuk peran gender yang kaku.
Selain itu, pengalaman setiap laki-laki maupun perempuan juga berbeda-beda. Faktor ekonomi, disabilitas, lingkungan sosial, hingga identitas tertentu dapat membuat seseorang mengalami tekanan yang berbeda. Karena itu, pembahasan soal gender sebaiknya tidak dilihat secara hitam-putih.
Jika misogini berarti merendahkan perempuan karena identitas gendernya, maka misandri juga bisa dipahami sebagai sikap merendahkan atau membenci laki-laki karena identitas mereka. Dalam tujuan awal feminisme sendiri, perjuangannya bukan untuk membalik siapa yang lebih dominan, melainkan membangun hubungan yang lebih setara dan adil.
Ketika generalisasi terhadap laki-laki atau narasi kebencian ikut dibawa dalam pembahasan feminisme, masyarakat bisa salah memahami tujuan gerakan ini. Akibatnya, isu-isu penting seperti kekerasan seksual, diskriminasi di tempat kerja, objektifikasi tubuh perempuan, atau ketimpangan sosial justru tenggelam karena perhatian publik habis pada konflik antargender.
Pada akhirnya, kesetaraan seharusnya tidak berhenti pada keberpihakan terhadap satu kelompok saja. Perjuangan yang sehat perlu membuka ruang dialog yang lebih inklusif, mau menerima kritik, dan tidak dibangun di atas kebencian terhadap identitas tertentu. Tujuannya bukan mengganti siapa yang paling dominan, tetapi menciptakan ruang yang lebih adil bagi semua orang yang terdampak oleh sistem sosial.
*Penulis pegiat Feminis Punk











