Washilah — Badan Nasional Penanggulanan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terosisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Rembuk Merah Putih bertajuk “Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis dan Cinta Tanah Air.” Berlangsung di Ruang Rapat Senat Gedung Rektorat Lantai 4 Kampus II UIN Alauddin, Kamis (24/07/2025).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Balai Litbang Agama Makassar/ Instruktur Nasional Moderasi Beragama dan Jurnalis Nasional, Saprillahdan Willy Prammudya.
Narasumber pertama, Saprillah dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya moderasi beragama sebagai landasan hidup toleran dalam masyarakat yang beragam. Ia menekankan bahwa toleransi adalah sikap membiarkan perbedaan tetap ada tanpa saling mengusik.
“Toleransi adalah membiarkan yang berbeda tetap berbeda. Sedangkan sinkretisme di mana ia berusaha menyamakan semua hal agar perbedaan itu hilang,” jelasnya.
Dia juga mengatakan radikalisme sering muncul dari pola pikir yang tertutup (echo chamber), di mana seseorang menghindari atau menolak jika ada yang berbeda dengan apa yang ia lakukan dan beranggapan setiap yang dia lakukan adalah kebenaran dan yang berbeda dengannya adalah kesalahan.
Echo chamber atau ruang gema yang dimaksud adalah suatu kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi, ide, atau opini yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri, sehingga memperkuat keyakinan yang sudah ada tanpa adanya pandangan lain yang berbeda.
“Suatu fenomena yang sering terjadi di media sosial, di mana algoritma cenderung menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, membatasi akses ke sudut pandang lain,” ucapnya.
Sementara itu, narasumber selanjutnya, Willy Pramudya membagikan teknik penulisan feature dan foto feature. Menurutnya, gaya jurnalistik ini dapat menjadi sarana kreatif untuk menyampaikan pesan cinta tanah air dan memunculkan rasa jiwa nasionalisme.
“Penulisan feature itu seperti bercerita, tetapi tetap mengandung fakta. Ini bisa menjadi cara menarik untuk menyampaikan isu-isu kebangsaan dan mampu menekan radikalisme, ” tuturnya.
Penulis: Ahmad Fakhri (Magang)
Editor: Hardiyanti











