Hanya Sebatas Pertemanan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | FitrianiParasnya tampan, sikap dan tutur katanya yang sopan menjadi pesona yang membuat orang terkagum-kagum.  Laki-laki itu akrab dipanggil Andri, dia sekarang sedang menempuh studi di salah satu universitas yang ada di Makassar. Dia berasal dari sebuah daerah yang ada di Sulawesi Barat. Kesehariannya yang sahaja dan ramah membuat banyak orang ingin menjadi sahabatnya termasuk aku. Yah, namaku Sinta, aku juga seorang mahasiswi dari universitas yang sama dengan kak Andri. Dan suatu kebetulan dia juga sekaligus senior aku di salah satu organisasi yang ada di kampusku. 
Hari-hari kulalui dengan penuh semangat ketika melihat parasnya. Saat itu, saya sedang membaca novel “ CATATAN SEJARAH CINTA”  karya Habibullah di lobi asramaku, tiba-tiba sosok lelaki tampan berperangai santun datang bersama gadis cantik yang umurnya jauh dibawahku. Dia adalah Zahra, adik kak Andri yang satu asrama dengan ku. Seketika itu juga aku berhenti membaca bacaanku dan menatap wajahnya lamat-lamat, tingkahku kikuk tak karuan. 
“Kak  Sinta, apa kabar ?” tanya Zahra sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Alhamdulillah baik dik, dari mana nih?” Tanya ku gugup sambil membalas uluran tangannya.
“Dari jalan kak sama kakak.” Jawab Zahra dengan polosnya.
Percakapan kami bertiga semakin hangat dan seru karena memang kami sudah saling mengenal. Di saat kami sedang asyik ngobrol tiba-tiba kakaknya masuk ke percakapan kami. 
“Apa kabar Sinta? “Tanya kak Andri sambil tersenyum.
“Alhamdulillah baik kak, “Aku pun menjawabnya sambil membalas senyumannya. 
“Oh, ternyata kalian sudah saling mengenal yah? “Tanya Zahra sambil mencairkan suasana.
“ bagaiman tidak? Sinta ini junior aku di organisasi, makanya kami saling mengenal. Tapi aku gak nyangka rupanya Sinta tinggal seatap dengan adikku, Sahut Andri.
Percakapan kami bertiga yang tadinya hangat berubah jadi sejuk, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. hingga akhirnya azan datang meniup-niup telinga kami membuat hati ini terenyuh seketika. Sebagai tanda perpisahan kala senja itu, kak Andri mentraktir aku dan Zahra shomay.  Setiap sore penjual shomay  memang sering bertandang di depan asramaku. Bahkan tak jarang pedagang shomay  itu lembur sampai jam delapan malam demi mengais rezeki dari mahasiswi yang tinggal di asrama.
“Terima kasih banyak yah kak,” sahutku.
“Iya dek, sama-sama,”  Jawab ka’ Andri sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan kami berdua. 
Saat aku dan Zahra masuk di gerbang asrama tiba- tiba Tia muncul dengan candaan yang mengejek. 
“Yah, ketahuan kak Sinta.” Canda Tia
“Maksudnya dik? “Tanyaku
“Ihh, kak Sinta pura-pura  gak  tahu deh,  kan kak Sinta kagum sama kak Andri. Iya kan? Jawab yang jujur dong kak !!! Sahut Tia.
“Hehehe,” aku tersipu malu mendengar ejekan Tia.” Bisa aja ah, kak Andri itu kan senior aku di organisasi  jadi yah wajar kan jika aku akrab dengannya. 
“Gak apa-apa kok kak, cewek kagum sama cowok kan udah lumrah, bahkan lebih dari kagum pun boleh kok kak,”  Sahut Zahra sambil tersenyum mengkal.
“Ahh, kalian betul-betul . eh ayo kita pergi shalat magrib, ntar keburu waktunya habis loh.”
“Ah, ka’ Sinta mau kabur,” ejek Tia terkekeh-kekeh.    
“Hahaha, nggak kok dik.” sambil tersenyum manis meninggalkan mereka. 
“Kak Sinta jangan lupa tidur yah kak”. Teriak Tia.
“Iya dik!!”
Sesampainya  di kamar, aku kembali merenungkan kata-kata yang baru saja terlontar dimulut Tia. “ Ah, kenapa aku jadi kayak gini yah? Sudah ah aku mau shalat dulu, “ sahutku dalam hati. Setelah berwudhu aku segera menunaikan shalat, setelah itu aku berdoa :
“ Ya Allah, yang maha pembolak balik hati. Ya Allah, yang maha pemberi rasa kagum. Ya Allah,  yang maha penguasa hati. Aku mohon perasaan aku kepada kak Andri hanyalah sekedar perasaan kagum. Kagum karena pengetahuaan agamanya  yang luas, kagum karena cara bertuturnya sopan dan bijak, kagum karena sikapnya  yang ramah dengan orang meskipun dia belum mengenal orang tersebut, serta kagum karena kebijaksanaanya dalam menyikapi sebuah persoalan. Ya, Allah yang maha pemaaf, maafkanlah hambamu ini karena telah kagum dengan hambamu yang taat dalam beragama”.
Usai shalat maghrib,  aku meraih novel ku yang tergeletak diatas meja dan berenang didalamnya. Tak terasa mataku terasa berat hingga aku segera menyembulkan kepala dan memasukkannya dalam dekapan bantal empuk yang selalu menemaniku disaat tidur.
Sang mentari mulai terbit di ufuk timur, kaca jendela kamar masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang sumsumku. Pagi ini rasa malas menyuruhku untuk tidak bangun dari tempat tidurku.
“Kak Sinta bangun dong, masa omongan Tia dimasukin dalam hati sih kak,  bangun dong. Tiba- tiba suara itu mengagetkanku. Ternyata Zahra datang ke kamar membawakan aku sarapan.
 “Kak ayo bangun, nih ada kiriman dari kak Andri.” 
“Ah, bisa aja nih Zahra, mana mungkin kak Andri  mau ngirimin aku sarapan, “Dengan rasa malas aku terbangun dan ternyata memang ada kiriman sarapan dari kak Andri. 
“Kakak kamu mimpi apa semalam dik? Kenapa dia ngirimin aku sarapan? “Tanyaku pada Zahra.
“Saya juga kurang tahu kak, mungkin dia mimpi ketemu dengan kakak “ sahut Zhra terkekeh-kekeh.
“Bisa aja kamu.” Jawabku. Setelah itu Zahra kembali ke kamarnya. Sementara aku makan kiriman dari kakaknya. 
Makin hari aku semakin akrab dengan Zahra dan juga kakaknya. Kami selalu melakukan aktivitas yang sama di luar jadwal kuliah hingga di dalam organisasi kami di gosipin menjalin hubungan. Tapi untungnya itu semua sudah diklarifikasi oleh kak Andri.
Sampai suatu hari aku penasaran, kok bisa yah kak Andri  akrab dengan aku (pikirku dalam hati ). Pikiran itu langsung aku tebas dan beranggapan bahwa semua itu hanya kebetulan, dan serba kebetulan. 
Di suatu kesempatan kak Andri meminta aku menemaninya untuk pergi ke pesta pernikahan teman sekelasnya. Akupun menyetujui ajaknnya. Sesampai disana, ternyata banyak orang yang memperhatikan kami, banyak orang yang iri dengan kak Andri karena datang bersamaku, termasuk teman sekelasku Bahrun. Maklum, Bahrun adalah orang yang menaruh hati denganku, namun aku tak pernah meresponnya.
“Halo Sinta, pa kabar? “Tanya Bahrun dengan nada yang sedikit kesal
“Eh, Bahrun. Alhamdulillah baik. Kamu sama siapa ke sini? “Tanyaku 
“Sendiri, siapa tuh Sin? “Bahrun bertanya dengan ekspresi wajah yang dikendurkan.
“Oh, itu senior aku di organisasi, kebetulan dia yang ngajak aku katanya sih dia ndak punya teman untuk ke sini, makanya aku temanin, lumayan cari-cari teman baru. Jawabku dengan ekspresi yang bahagia.
“Cie, cie, cie Sinta sudah mulai mencari-cari pasangan nih.” Ledek Bahrun 
“Ah, belum kali Run, kita kan masih kuliah masih banyak yang kita urus. Jadi urusan begituan ntar urusan belakangan. Kata Afgan sih “ JODOH PASTI BERTEMU “ Jawab ku.
“Eitch, gak nyangka aku Sin jawaban kamu seperti ini, saya pikir kakak yang kamu temanin ke sini itu pasangan kamu, “ celoteh Bahrun.
“(sambil tertawa) ah bisa aja kamu Run,” jawabku 
“Eitch, btw kamu dengan siapa kesini? “Tanyaku
“Sendirian, “jawab Bahrun
“Oh iya, kalau gitu aku ke sana dulu yah Run. “Pintaku
“Ok, “jawab Bahrun
Setelah kami menikmati hidangan yang tersedia, kami lansung ke stage  untuk segera  pamit pulang. Sepulang dari pesta itu, aku semakin sering diajak  jalan oleh kak Andri. Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kami semakin akrab saja?
Kehidupanku tiba-tiba terasa mendung, gula terasa pahit, kopi terasa manis, air panas terasa dingin, terik matahari terasa mendung, tidur terasa gak nyenyak, pikiran melanglang buana ke tempat yang tak terjangkau. Itulah yang aku rasakan ketika wajahnya tidak muncul di hadapanku dalam sedetik pun. 
Mungkinkah ini yang dinamakan rasa pahit menjadi manis ketika cinta sudah bersentuhan di dalamnya. Aku berfikir bahwa “ mungkinkah seorang Sinta bisa merubah perasaanya seketika dari rasa kagum menjadi cinta?” pertanyaan inilah yang coba aku carikan jawabannya.
“Yang namanya perasaan gak bisa disembunyiin Sin” sahut  Indri yang mengagetkan aku dari lamunanku. 
“ah, bisa aja kamu Ndri, emangnya kamu bisa membaca pikiran aku yah?” jawabku
“yah, gitu deh.” Jawab Indri.
Di sela-sela percakapanku dengan Indri di lobi asrama, tak disangka tak diduga sosok yang ditunggu-tunggu muncul dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Wajahnya tak lagi memandangku, tingkahnya seperti sedang melihat sosok yang menakutkan, senyumnya tak lagi muncul dari wajahnya yang rupawan, mulutnya seakan dihipnotis sehingga lidahnya sulit untuk berkata-kata. Ia berdiri di sudut teras asrama sambil menunggu adiknya.  Aku mencoba mendekatinya dengan mencairkan suasana namun bukan umpan balik yang aku dapatkan melainkan ekspresi cuek yang aku dapatkan. Tingkahnya membuatku semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku pernah melakukan kesalahan sehingga dia berubah drastis seperti ini padaku? Kucoba  menghapus jauh-jauh pikiran negatif ku, aku takut jika aku prasangka buruk akan membuat hubungan kami menjadi renggang, menjadi tak harmonis lagi. 
Beberapa hari kemudian aku mencoba datang ke kamar adiknya dan mencari tahu kenapa kakaknya bersikap seperti itu? Ternyata penyidikan yang aku lakukan dengan adiknya mendapatkan hasil yang menyedihkan buatku. Entah mengapa aku ingin membantunya, namun aku nggak bisa berbuat apa-apa. 
Ternyata sosok yang selama ini aku kagumi menanggung beban yang jika mungkin orang lain menanggungnya dia akan pasrah dengan keadaan. Kak Andri mendapat kabar kalau ia telah dijodohkan dengan orang tuanya di kampung, namun kak Andri tidak menyetujui perjodohan tersebut sehingga berdampak pada psikologisnya. Jiwanya semakin terguncang karena akhir-akhir ini dia mengetahui bahwa orang yang dijodohkannya itu adalah orang yang paling playgirl  di kampungnya. Dia malu dengan teman-temannya termasuk saya. Makanya dia seolah menghindar dari teman-temannya, keadaan terlalu memaksakan dia untuk memilih perempuan yang dijodohkannya , meski ada jalan untuk menolaknya tapi itu sudah terlambat sebab keluarganya akan menanggung malu karena terlanjur sudah menyampaikan hal itu ke kerabatnya yang lain.  Begitulah yang dikatakan Zahra padaku.
Setelah aku mendapatkan informasi tersebut aku mencoba datang ke asrama kak Andri yang kebetulan letaknya berada dalam kampus. Alhamdulillah pencarianku nggak sia-sia karena kak Andri mau bertemu denganku. 
Aku mencoba basa-basi terlebih dahulu sebelum aku menyampaikan maksud kedatanganku. Tapi, ternyata aku salah kak Andri sudah mengetahui maksud kedatanganku sehingga dia yang memulai pembicaraan. Setelah lama berbincang-bincang, aku pamit pulang dan berkata “ kak pernikahan adalah sesuatu yang sakral selama kita mau menghargai makna dari pernikahan yang sesungguhnya,  jangan karena kakak telah dijodohkan lantas menganggap perjodohan itu mempunyai sisi negatif yang cukup besar, tapi justru kebanyakan orang bahagia dengan pasangan yang telah dijodohkan oleh orang tua mereka. Justru pacaran setelah pernikahan lebih asyik dibanding pacaran sebelum nikah.” Setelah aku mengucapkan itu aku langsung pamit pulang dan betapa bahagianya hatiku ketika melihat senyumnya menghiasi wajahnya yang rupawan itu. 
Hari berlalu begitu indah, semenjak ia kembali hadir dalam kehidupanku, aku sendiri bingung karena kami tidak memiliki hubungan yang spesial  layaknya sepasang pemuda yang saling jatuh cinta, tapi kami selalu terlihat bersama padahal  Kami hanyalah sebatas teman akrab. 
Beberapa waktu kemudian, kami harus berpisah karena menerima kenyataan bahwa  kak Andri harus berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studinya disana.


*Penulis adalah mahasiswa PBI
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Semester V





  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami