Begal Payudara, dan Bagaimana Kampus Jatuh di Lubang yang Sama

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi | Tribun Jogja

Peringatan! Tulisan di bawah ini mengandung konten eksplisit. Kronologi kekerasan seksual yang tertera dalam tulisan ini sudah mendapatkan persetujuan dari pihak Korban untuk dimuat.

Langit hari itu terus gelap, hujan tidak pernah berhenti sedari subuh. Memang sesekali reda, namun tidak pernah benar-benar berhenti. Mulan (Bukan nama sebenarnya), bersama adiknya berjalan dari rumah indiekostnya ke salah satu toko grosir yang ada di depan Kampus II UIN Alauddin.

Mulan tinggal di salah satu kostan yang ada di belakang kampus, di sana berjejer rumah kostan, orang-orang biasa menyebutnya Belanda, Akronim dari Belakang Dakwah. Dakwah yang dimaksud merujuk pada salah satu fakultas yang ada di UIN Alauddin, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Di belakang fakultas ini terdapat tembok setinggi satu meter lebih, tembok inilah yang memisahkan kampus dengan Belanda.

Jarak dari kostan Mulan ke toko grosir itu sekitar 300 meter. Di tengah guyuran hujan, dengan melewati gang yang sunyi, gelap, dan sempit, Mulan bersama adiknya berjalan mengenakan payung melewati gang itu.

Sebenarnya dulu ada alternatif lain bagi mahasiswa yang tinggal di Belanda untuk keluar ke jalan poros atau memasuki kampus, selain dari melewati gang itu.

Di tembok perbatasan antara Belanda dan Fakultas Dakwah, dulunya terdapat tangga yang bisa diakses mahasiswa untuk masuk atau keluar kampus, namun pada september tahun 2020 silam telah dibongkar oleh pihak kampus.

“Awalnya saya kalau mau keluar pasti lewat tangga di belakang Fakultas Dakwah, karena takutka juga lewat di Gang itu. Tapi dicabut tangga belakang Dakwah, yah mau tidak mau harus lewat gang itu,” ucap Mulan.

Setelah berbelanja kebutuhan kostnya di toko grosir yang berada di sebrang jalan Gang yang dilaluinya, Mulan kembali berjalan menuju Kostnya. Adiknya memegang kantong belanjaan, sementara dirinya memegang payung, mereka mengobrol dengan santai melalui gang selebar tidak lebih dari dua meter itu.

Hujan yang turun sedari subuh, menghasilkan genangan di beberapa titik gang yang di lalui Mulan, dari arah berlawanan, seorang pengendara melintas di depannya dengan pelan. “Positif Thinking ka, karena ada genangan air di sampingku, saya kira dia pelan karena mungin takut kalau kencang , nakennaka itu genakan air, pikir Mulan.

Namun hari itu, Minggu 17 Januari 2021, sekitar pukul 14:37,  tidak disangka menjadi hari yang buruk bagi Mulan, seorang pengendara sepeda motor yang melintas dengan pelan di depannya, ternyata tidak hanya pelan karena adanya genangan air, tapi juga memegang payudara Mulan.

Mulan yang pada saat itu berjalan dengan payung ditangannya, tiba-tiba Shock, diam, dan mematung. Mulan mengalami Tonic Immobility, atau kelumpuhan sementara. Sekian detik, Mulan tersadar dan berteriak, lalu dengan badan yang masih kaku dia memalingkan pandangannya pada pelaku yang telah melintas dan berada di belakangnya.

Dengan kondisi masih shock, di tengah hujan yang lebat, tidak ada yang bisa dikenali Mulan secara spesifik dari pelaku, selain sepeda motor bermerk Honda Beat, mengenakan masker, helm hitam, dan jas hujan hitam. 

Dari titik kejadian itu menuju kamar kosnya, Mulan berjalan sambil berteriak. Namun dirinya enggan untuk menceritakan kejadian itu secara detail pada adiknya, yang diketahui adiknya, Mulan hanya terserempet motor, dan kudungnya tersangkut di stir motor itu.

“Alasanku ke adekku, bukan ituku napegang, bohongka supaya tidak takutki,” tutur Mulan.

Mulan mengaku tidak akan pernah menceritakan kejadian itu pada kerabatnya, terlebih pada orang tuanya. Dirinya takut apabila orang tuanya mengetahui kejadian yang menimpa dirinya. ”Tidak mauka kalau kepikiranki orang tuaku,” kata Mulan. 

Pada dasarnya, Mulan mahasiswa yang tidak suka begadang “Hanya sesekali,” katanya. Itupun untuk mengerjakan tugas kuliah. Namun pada Malam pasca kejadian itu, Mulan mengaku susah untuk tidur dan terpaksa begadang.

“Setiap mauka tidur, selalu kuingat matanya itu orang, berusaha mau lupa, tapi tidak bisa. Selaluka ingat itu matanya pelaku, andaikan tidak pake masker, mungkin wajahnyami yang jadi pengganggu tidurku,” keluh Mulan.

Bagi Mulan, dirinya berani buka suara agar kejadian yang serupa tidak terjadi lagi. Sebelumnya, pada Februari 2020 setidaknya 10 Mahasiswi bernasib sama dengan Mulan. Kejadian yang sama, di tempat yang sama.

Pada 29 September 2020, di Ruang Rapat Lantai I Rektorat, saat itu pimpinan kampus menggelar konferensi pers untuk menanggapi Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online yang menimpa delapan mahasiswi UIN Alauddin, selain itu menanggapi beberapa kasus kekerasan seksual lain yang sebelumnya terjadi, termask kasus begal payudara yang terjadi pada Februari 2020.

Pada kesempatan itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni  Prof Darussalam Syamsuddin mengaku telah melakukan langkah mitigasi untuk kasus begal payudara itu, dengan mengerahkan keamanan Internal (Satpam) dan keamanan Eksternal (Kepolisian). Selain itu, mengatakan akan mengusahakan penerangan jalan di gang itu. Namun berdasarkan pantauan Reporter Washilah (18/01/20), penerangan yang dimaksud belum ada hingga saat ini.

Dari kejadian itu, Mulan menganggap kampus gagal belajar dari kejadian yang lalu, dan menciptakan rasa aman bagi sivitasnya.

“Berapa lagi korban yang dibutuhkan untuk bisa bergerak buatkan ruang yang aman untuk kami, mahasiswa yang tinggal di belakang kampus. Andaikan Ada CCTV di gang itu, pasti sudah di tangkap pelakunya.”

Mulan berharap, Pelaku tersebut bisa segera ditangkap, dan pihak kampus segera mengadakan penerangan dan CCTV, terkhusus di Gang itu.

Diketahui, menurut pengakuan Mulan, dirinya telah melaporkan kejadian itu kepada Komite Anti Pelecehan Seksual (Komite APS) UIN Alauddin. 

Dilansir dari Instagram Resminya, Komite APS merupakan Kolektif yang menghimpun Individu baik Mahasiswa maupun Alumni UIN Alauddin. Komite ini berfokus pada pendampingan korban kekerasan atau pelecehan seksual, dan menghendaki kampus yang aman untuk diakses siapa saja.

Penulis: Arya Nur Prianugraha

Editor: Rahma Indah

 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami