Washilah — Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar kembali menggelar Seminar Rutin Fisika (Serfis) mengangkat tema “Hukum Fisika dalam Bioshelter Adat Papua Pegunungan: Adaptasi Energi dan Lingkungan” secara daring melalui Google Meet, Rabu, (16/7/2025).
Sabriani, narasumber dalam kegiatan ini menjelaskan pemilihan rumah Hanoi pada seminar kali ini tidak hanya dilihat sebagai rumah tradisional, melainkan bioshelter alami yang secara turun-temurun mampu menyesuaikan diri dengan kondisi ekstrim di wilayah Papua pegunungan.
“Di dalam Honai terdapat penerapan hukum-hukum fisika seperti isolasi termal, konduksi panas yang rendah, hingga desain struktur yang memanfaatkan energi secara pasif,” jelasnya.
Ia berharap melalui seminar ini mahasiswa mampu melihat kekayaan lokal sebagai sumber inspirasi ilmiah yang dapat mendorong penelitian lintas disiplin ilmu antar fisika, arsitektur, kearifan lokal, perencanaan dan sosiologi.
“Sehingga pada akhirnya bisa menciptakan teknologi adaptif yang tidak merusak lingkungan, tetapi justru menyesuaikan diri dengan alam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh leluhur di wilayah Papua pegunungan melalui Honai,” tambahnya.
Salah satu dosen Fisika, Jumardin mengatakan seminar kali ini dilakukan secara daring dikarenakan keterbatasan penggunaan ruang seminar di kampus, serta untuk membuka akses lebih luas bagi peserta di luar kampus.
“Selain itu, dengan sistem daring, mahasiswa yang berada di luar kampus UIN Alauddin Makassar juga bisa ikut berpartisipasi karena aksesnya mudah dan tidak berbayar,” ujarnya.
Dia menambahkan kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana akademik yang berkelanjutan serta memperkuat jejaring antara dosen, mahasiswa, alumni, dan lembaga luar kampus.
Penulis: Nurul Aulia (Magang)
Editor: Hardiyanti











