Nirwana

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Muh Arwan.

Oleh: Rahmat Rizki

Dalam ruang senyap itu, seorang lelaki bernama Pallentung terbaring kaku menatap kehampaan.

Flanel merah dan jeans kusut yang sudah dua hari tak diganti, masih melekat pada jasadnya yang sedang berada dalam kelimpungan.

Raut wajahnya datar, bergeming. Sesekali matanya berkedip sambil memiringkan badannya ke samping.

“Hidup itu untuk apa?”

Suaranya kecil, seperti berbisik menanyakan pada raganya sendiri.

Pertanyaan itu bermula dari obrolan hangat bersama rekan kuliahnya. Ia dibuat berpikir keras ketika sobatnya berceletuk padanya.

“Pallentung, menurutmu hidup itu untuk apa sih? Terlepas dari pemenuhan kebutuhan primer, lalu apalagi tujuan kita hidup jika semua itu telah terpenuhi?”

Pellentung tak menjawabnya. Meski begitu, pertanyaan itu menghantuinya dalam perjalanan pulang menuju kamar kosnya. Kini, ia terlentang dalam kebingungan di atas tempat tidurnya.

Tak ingin berlarut dalam kebingungan,
Palettung pun bangun dari kasur koyak yang renyah milik Bapak kos. Tangannya mengambil sebatang tembakau hasil produksi industri raksasa yang maha borjuis ‘perfecto’.

“Hidup itu untuk berakkkk, ah tahilah,” gumamnya.

Raut wajahnya mesem menahan feses yang sedari pagi belum ia setor. Sambil mengembuskan kepulan-kepulan asap yang mewakili keresahannya, ia melepaskan jeans dan sempaknya lalu melompat masuk ke toilet.

Dentuman feses jatuh memborbardir hidrogen monoksida tergenang dalam keramik jamban itu. Sangat dramatis. Seperti serangan bom atom di Hiroshima saja.

Pluk, ptok, pret, dan prot, serta desahan meringkih memenuhi sepetak kosnya.

“Ahhhh.”

Perasaan lega dan bahagia menyeringai di wajahnya.

“Hidup itu untuk apa ya?”

Pria berbadan tipis itu kembali menanyakan pertanyaan sebelumnya sambil jongkok, berusaha membebaskan imajinasinya. Ia terbang menuju nirwana dalam ruang lembab itu.

Sesekali ia mengisap tembakau yang terhimpit di sela jemarinya. Pikirannya semakin tenang, jiwanya telah menemukan nirwana, namun raganya masih di toilet itu dengan pose sakralnya.

“Kebahagiaan.”

Ucapnya dengan senyum puas sembari manganggukkan kepalanya, seperti mendapat jawaban ultimate untuk menjawab keresahan yang menjebaknya dalam ketakutan.

“Hidup untuk mencapai nirwana, suatu keadaan kebahagiaan yang tak dapat kau jelaskan sendiri. Sesederhana buang hajat ditemani rokok dan sunyi sudah bisa melahirkan kebahagiaan.”

Pallentung menemukan nirwananya dengan jamban, sangat sederhana.

Namun kenyataannya, kebahagiaan adalah sesuatu yang berubah, ia tidak tetap, dan akan selalu berkembang. Sialnya, nanusia dikutuk untuk tak pernah puas.

Tubuh kita tetap hidup. Tapi, cepat atau lambat jiwa kita akan menerima ledakan kefanaan. Kejahatan paling sempurna—karena kita tidak tahu siapa yang membunuh kebahagiaan kita. Entah itu waktu atau diri kita sendiri.

*Penulis merupakan Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami