Berkah Banjir Paccerakkang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Banjir melanda kawasan Paccerakkang Kota Makassar. Tak jarang, motor yang melintas mogok karena banjir yang cukup tinggi. | Foto: Istimewa

Washilah – “Mungkin sebagian orang bilang kalau banjir itu musibah tapi banyak juga orang yang manfaatkan untuk cari rejeki. Bagi kami banjir jadi berkah tersendiri,” kata Asad.

Desember tiba dengan hujannya, langit mendung dan segalanya nampak kelabu di Kota Daeng. Sebagian orang memaknai Desember dengan harapan baru, datangnya bermakna tahun yang baru segera tiba, bulan segala harap dan mimpi kembali disiapkan sedemikian rupa. Sebagian lagi menemui desember dengan keadaan murung, memandangnya sebagai akhir dari siklus kegagalan, memaknai sebelas bulan yang telah dilalui sebagai rangkaian luka yang harus tenggelam seraya dengan bergantinya tahun. Namun, ada juga yang memaknai Desember dengan sederhana, tanpa peduli dengan harap dan luka yang datang bersamanya, satu-satunya yang ia yakini, bahwa Desember mendatangkan hujan, dan banjir yang membawa berkah baginya. Sederhana.

Bagi Asad, Desember adalah berkah. Selain pedagang jas hujan dan payung yang laris manis di penghujung tahun, jasanya sebagai tukang dorong-dorong di genangan banjir membuat Desember selalu jadi bulan yang paling ia tunggu.

Kisah Asad dan Profesi “Bantu-Bantu”

Paccerakkang adalah salah satu ruas jalan di Kota Makassar yang ramai nan sesak, layaknya ruas jalan utama lainnya. Emperan toko berjejer dan pedagang kaki lima penuh di sepanjang jalan. Unhas dan Kawasan Industri Makassar yang tak jauh jadi salah satu alasan Paccerakkang ramai dihuni warga. Di hari-hari biasa, lalu lintas senantiasa padat, mengingat Paccerakkang adalah jalur para penduduk urban yang hidup nyaman dengan berbagai tipe perumahan yang tersedia, bergumul di balik hiruk-pikuk perkotaan. Namun, riuh ramai Paccerakkang berubah mengerikan kala Desember tiba, genangan air melebar kemana-mana, menutup ruas jalan, membanjiri rumah-rumah dan menyengsarakan para pengendara yang lelah sepulang bekerja. 

Asad dengan sabar memandangi jarum jam, menghitung berapa lama hujan turun hari ini. Menurut perkiraannya, butuh waktu empat jam agar banjir menggenang dan menutup ruas Jalan Paccerakkang yang lantas mengganggu aktivitas pengendara. Sementara, dari balik tembok rumah, tetangga mulai grasak-grusuk terdengar, sibuk menyelamatkan barang-barang elektronik yang terancam korslet oleh air bah. Beberapa tetangga mungkin sudah pasrah, kulkas yang belum lagi lunas harus terendam pagi itu. Asad bergegas keluar, kendati hujan masih deras, ia tak ingin telat menjemput berkah banjir musiman. Dengan berjinjit ia melintasi kubangan air, melangkah pelan menuju ruas jalan. Dari jauh terlihat lima orang anak muda sibuk lalu lalang membantu pengendara di ujung sana, antrian kendaraan mengular sepanjang mata memandang. 

Kini ia berdiri di tengah genangan, mencari pengendara yang membutuhkan jasanya. Seorang pengendara yang malang dihampirinya, nampak motor yang ia tunggangi sedikit lagi menyesap luapan air selokan. Asad langsung memegang bagian belakang kendaraan dan segera meminta pengendara agar mematikan mesin secepatnya.  Didorongnya skuter matic itu perlahan, semakin jauh ia mendorong semakin dalam genangan banjir, separuh betisnya bahkan telah tenggelam sialnya arus juga semakin deras. Pengendara itu duduk khawatir di atas kendaraannya, air mukanya tegang bayangan ia akan hanyut dan berakhir terjepit di gorong-gorong. Dari belakang Asad tetap mendorong, berusaha tenang kendati tetap saja merasa ngeri, menurutnya banjir tiap tahun makin parah saja. Berselang 30 meter, motor itu mulai terasa ringan, air mulai kembali dangkal dan langkahnya tak lagi terasa berat, senyum mengembang dari wajah si pengendara malang tersebut. 

Setibanya di ujung genangan, pengendara itu merogoh kantongnya dan menyerahkan uang bergambar Pangeran Antasari dengan senyum kecil untuk Asad.

“Terima Kasih dek,” katanya.

Asad mengangguk, mengucap terima kasih kembali, lantas mengingatkan agar mesin segera dimatikan jika ada genangan yang kembali menghalang di depan sana. Balik kanan, ia berlari-lari kecil, kembali ke antrian di seberang yang telah menunggu jasanya.

Kegiatan “Bantu-bantu” sebagaimana Asad menyebutnya, dimulai sejak masih bersekolah di SMA. Kala itu akhir tahun 2018, Makassar sedang hujan-hujannya sampai terdengar kabar bahwa sekolah terendam banjir hingga setengah badan. Akibatnya, sekolah harus diliburkan, namun bukan hanya sekolah tempat ia menuntut ilmu yang terkena sial, Paccerakkang tempat ia bertempat tinggal juga sama sialnya. 

Pagi-pagi sekali ia mengamankan barang-barang milik orang tuanya diamankan satu persatu ke tempat yang tak tersentuh banjir. Beberapa teman mengirim kabar bahwa mereka kebagian uang receh seteleh mendorong motor yang mogok diamuk banjir, segera saja ia ke sana, pikirnya akan ada sedikit uang jajan yang menemani di hari libur banjir. Tak disangka berawal dari ikut bantu-bantu, ia malah pulang dengan uang ratusan ribu di kantong, sejak saat itulah Desember dan banjirnya menjadi berkah tersendiri.

”Tidak ada tarif, terserahji mau kasih seribu dua ribu, biar lagi tidak ada ka uang capekji saja, biasa paling banyak kudapat 150 ribu pulangma kalau sudah sepi saya pulang juga ke rumah bantu-bantu karena banjir juga toh,” ungkap Asad.

Setelah empat tahun menjalani profesi musiman sebagai tukang bantu-bantu. Asad berkisah bahwa nominal uang tidak selalu menjadi patokannya untuk turun membantu, kesenangan untuk berkumpul bersama kawan-kawan juga menjadi hal yang ia cari. Namun, bukan berarti profesi yang ia lakoni tanpa resiko, 

Di awal-awal tahun, ia mulai ikut mendorong motor saat banjir tiba. Seorang teman seprofesi hampir saja meregang nyawa. Ia terperosok tanpa sengaja ke selokan saat berusaha mendorong kendaraan yang mogok di tengah genangan, lelaki malang itu hanyut ke dalam gorong-gorong. Akibatnya, paru-parunya menenggak penuh air selokan, bonus muka lebam dan paha robek tersayat entah benda macam apa. Untungnya, orang-orang yang berada di sana lekas menarik anak muda itu dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Sejak saat itu, sebelum memulai aktivitas bantu-bantu, mereka menandai lubang dan batas selokan agar tidak ada kejadian buruk terulang.

Setelah empat tahun mengabdi di jalanan, ia belajar banyak hal dan melihat rupa-rupa masalah pengendara di kala terhalang banjir. Menurutnya, tidak sabaran adalah penyakit umum nan kronis yang diderita para pengendara. Sudah menjadi pemandangan umum, konflik hingga cekcok di tengah jalan rutin terjadi di tengah derai arus banjir. Bukannya membantu, rentetan klakson dan teriakan justru dialamatkan bagi pengendara yang sial karena kendaraaan miliknya mogok kemasukan air. Motor yang rusak karena menenggak luapan air selokan juga hasil dari ketidaksabaran pengendara yang memaksakan diri menerjang genangan banjir, hasilnya bengkel-bengkel menerima pasien motor dengan penyakit serupa di bulan Desember, motor keracunan air selokan. 

Salah Sampah atau Pemerintah?

Sebagaimana masalah pada umumnya, kita selalu mencari akar untuk dapat menyelesaikannya. Asad juga berpikir demikian, kendati banjir memberi uang saku lebih, ia juga risau karena orang tua dan tetangganya harus was-was tiap kali Desember tiba. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Andi Ikbal Mahardy berjudul Analisis Pemetaan Daerah Rawan Banjir Di Kota Makassar Berbasis Spatial (2014) memaparkan penyebab utama banjir di kota Makassar. Buruknya drainase masih menjadi masalah dominan, ditambah sedimentasi dan penyumbatan sampah membuat muka air naik dan membentuk genangan banjir. Pada kasus Paccerakkang, drainase dan sampah juga merupakan akar utama penyebab banjir, hal ini berdasar pada diagnosa Asad. Kebiasaan membuang sampah di selokan jelas menjadi utama penyebab banjir. Kendati sudah seringkali dilakukan pembersihan drainase hingga berkali-kali, tetap saja Desember membawa banjir sebab sampah masih terus menyumpal selokan. Asad sendiri agak kecewa pada Danny Pomanto dan jajarannya karena hanya menyiapkan perahu karet di kala banjir, bukannya fokus menanggulangi banjir sebagai akar masalahnya.

“Baiknya pemerintah tidak hanya mengirim Tim SAR dan perahu karet tapi fokus menanggulangi banjir. Kan, banjir jadi masalah utamanya.” 

***

Tak ada lagi pengendara yang terjebak di genangan banjir, air perlahan surut bersamaan dengan matahari yang semakin meninggi. Anak-anak kecil yang berenang di luapan selokan tak lagi kelihatan di gang-gang, mereka mungkin pulang sukarela atau terpaksa pulang karena ibu-ibu datang dengan kayu di tangan. Asad juga memutuskan pulang dengan uang receh di kantong dan juga bonus kaki yang gatal imbas dari luapan selokan yang mengandung bakteri segala jenis. Ia pulang dengan berjinjit dan berpikir untuk segera ke apotek membeli salep pereda gatal. 

“Bagaimanapun berkahnya, banjir tetap saja musibah,” kata Asad sembari mengusap kakinya yang gatal. 

Penulis: Muhammad Wahyu

Editor: Jushuatul Amriadi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami