Perguruan Tinggi Keren Tidak Menutupi Kasus Kekerasan Seksual, tapi Menyelesaikanya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ketua PSGA UIN Alauddin Dr Rosmini menyampaikan materi pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual, berlangsung melalui Zoom, Kamis (26/08/2021)
Washilah – Pada Kamis 26 Agustus 2021, saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Mahasiswa Baru (Maba) tahun 2021/2022 tingkat fakultas dilaksanakan melalui virtual Zoom, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Alauddin Makassar membawakan materi terkait pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual.

Vocal point gender lingkup Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Dr St. Aisyah, saat menyampaikan materinya di Hadapan 877 Maba FDK mengatakan, perguruan tinggi yang keren, bukan yang berusaha menutupi kasus kekerasan seksual yang terjadi di internal kampusnya, akan tetapi perguruan tinggi yang keren adalah, perguruan tinggi yang mampu menangani kasus kekerasan seksual secara kompherensif.

Di kesempatan itu pula, Dr St. Aisyah menjelaskan apaitu kekerasan seksual, bentuk kekerasan seksual, cara menghindari, hingga mekanisme pelaporan apabila kasus terjadi di internal UIN Alauddin Makassar.

Di akhir materi, Dosen FDK ini mengharapkan, materi yang disampaikan agar bisa dipahami peserta PBAK. “Tidak usah seluruhnya, asal ada yang bisa dipahami itu sudah luar biasa,” harapnya.

Hal ini kata dia, agar Maba bisa terhindar dan mampu menangani kasus kekerasan seksual. Dengan nada yang tinggi dan suara ditekan, ia mengajak sivitas kampus peradaban untuk sama-sama melawan kekerasan seksual.

Materi yang disampaikan Dr St. Aisyah di FDK, juga disampaikan di tujuh fakultas lainnya. Pematerinya, masing-masing berasal dari vocal point gender tiap fakultas yang telah di SK kan rektor.

Salah satunya Dr Rosmini, Ketua PSGA ini memaparkan materinya di hadapan Maba Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Serupa dengan Dr St. Aisyah, ia mengatakan perguruan tinggi keren, bukan yang menutupi kasus sekerasan seksual di kampusnya, melainkan yang bisa menyelesaikan kasus secara kompherensif.

Saat dihubungi oleh Washilah melalui Whatsapp, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini berpesan, materi yang disampaikan bukan dengan maksud menggambarkan UIN Alauddin sebagai kampus yang tidak aman bagi Maba. Menurutnya, pemaparan materi demikian pada saat PBAK, merupakan upaya proteksi dini mahasiswa terhadap potensi terjadinya kekerasan seksual yang bisa menimpa siapa saja dan terjadi kapan saja.

Penulis: Arya Nur Prianugraha

Editor: Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami