Pattallassang dan Seribu Lubang Jalan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Kondisi jalan pattallassang, terlihat banyak lubang yang diisi oleh air hujan.

Washilah – Senja mulai unjuk diri di ufuk barat, indah dan samar. Lantunan ayat suci yang saling bersahutan, menenangkan hati di sepanjang jalan, sebuah suasana pulang dari peraduan setelah beraktivitas seharian. Pulang ke Pattallassang.

Orang-orang terdekat sering memprotesku ketika mereka tahu kalau aku bermukim di daerah tersebut, “Deh Jauhna, Bagusji jaringan?”, “Berani jako pulang tengah malam?” kendati, apa yang mereka Hawatirkan memang tak ada yang salah. Di balik semua keluh mereka, jarak yang jauh dari kampus, koneksi internet yang tidak memadai, atau perihal ancaman keamanan, jujur tak ada yang menggangguku. Aku bersyukur menetap di sana.

Di ujung lamunan, motor matic berusia senja yang tak lagi indah dan samar warnanya, menghantam lubang selebar bahu jalan. Kecuali ini, jalan adalah satu-satunya alasan aku kufur terhadap Pattallassang.

Menjelang tiga bulan dan hampir tiap hari melalui jalan poros Pattallassang yang Naudzubillah rusaknya, panorama pengendara yang tersungkur, bapak-bapak berwajah kesal sembari mendorong motor mencari bengkel terdekat, atau ibu-ibu yang mengernyit dahinya karena keciprat air dari lubang-lubang jalan, semacam hiburan sekaligus ironi tersendiri.

Apa yang saya sebutkan benar adanya, logis jika rata-rata diameter lubang seluas 50 cm dengan kedalaman 20-30 cm, dan parahnya lubang-lubang tadi bukan hanya di satu lokasi, tapi sepanjang, aku ulangi “Sepanjang” Jalan  Poros Pattallassang.

Pada petang yang berbeda, di lubang jalan yang sama, 17 Februari menjadi hari suram bagi mereka yang menyaksikan tragedi itu. Kala itu, para pengendara tiba-tiba terhenti, semua orang saling berbisik, ada juga yang memanjangkan lehernya untuk sekadar  mengintip apa yang sebenarnya terjadi di depan sana. Dugaanku cuma satu, kecelakaan.

Di antara deru knalpot kendaraan, aku menyalip satu persatu demi memenuhi dugaan itu. Benar saja, tiga orang merengsa kesakitan diangkut ke dalam mobil. Dari balik bisik-bisik pengendara lain, diketahui satu orang terluka parah, dan belakangan ternyata dia harus meregang nyawa akibat kecelakaan tersebut.

Menurut kesaksian warga, kecelakaan maut yang terjadi bermula ketika seorang pengendara mobil menjadi kalap dan melarikan diri setelah sebelumnya menabrak pengendara motor. Namun celaka tak dapat ditolak, di jalan yang penuh lubang para pengendara motor tak mungkin leluasa menarik tali gas untuk sekedar menghindar, pengendara yang malang itu ditabrak habis oleh pelaku.

Fajar kembali timbul di ufuk barat menghaturkan pagi dan harapan, namun pikiranku masih dipenuhi kalimat tanya, “Bagaimana nyawa bisa semurah itu?  lubang jalan? Satu gerobak pasir dan bebatuan sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan nyawa dan tubuh para korban semalam,” pikirku.

Aku kembali melintasi jalan yang sama, pecahan kaca dan kap kendaraan berserakan pasca tragedi semalam. Namun, ada yang menarik perhatian, seorang lelaki paruh baya dengan rompi hijau dan bertuliskan relawan di punggungnya memegang sekop dan menutupi lubang-lubang maut itu. Aku mengenalinya, dan jika kalian juga mengklaim sebagai warga negara bagian Samata, kalian pasti mengenal lelaki ini.

Imam Hanafi, lelaki yang sedari pagi tanpa pamri mengatur lalu lintas di sekitaran Samata, berutubuh kurus dengan peluit dan peluh. Aku menghampirinya dan mulai bertanya perihal kecelakaan semalam.

“Benar, dia meninggal. Dia asli orang sekitaran siniji, dekat Pasar Burung-Burung rumahnya,” pungkasnya membenarkan.

Obrolan kami mulai panjang, Dia mengeluhkan infrastuktur jalan yang semakin buruk.

“Ini sudah setahun terbengkalai begini, rusak parah, saya kasihan sama pengendara, banyak yang jatuh, kendaraannya rusak, belum lagi kalau ambulans datang dari Malino terus lewat di jalan ini, kasihan pasien bisa tambah parah sakitnya,” keluhnya, dengan aksen Jawa timur yang masih kental meski sudah sepuluh tahun mengadu nasib di Butta Gowa.

Sebagai mahasiswa sekaligus merangkap rakyat jelata, keahlian menyalahkan pemerintah merupakan bakat terpendam segenap insan yang melarat. Setidaknya aku memiliki Term Of References dalam menyusun kesiapa yang berhak disalahkan. Pertama pemerintah, kedua pemerintah, dan ketiga tetap pemerintah.

Untuk mencari benang merah persoalan ini, aku mengunjungi Kepala Desa Sunggumanai salah satu desa yang berada di Kecamatan Pattallassang, Abd. Rivai Rasyid. Di ruangan kerjanya, kepala desa muda ini menyindirku.

“Kamu ini calon pejabat, masa pakai sandal datang, harusnya berpakaian layaknya pejabat, pakai sepatu”.

Dalam hati aku mengelak “Gusdur pernah memakai sandal jepit dan celana pendek saat menerima tamu kenegaraan”.

Saat ditanya persoalan infrastruktur “Kami fokus pada SDM dek, Infrastruktur hanya penunjang, lagipun kami hanya menunggu arahan dari yang lebih diatas,” ucapnya. Agaknya dia tahu bahwa kami sedang menyoroti jalan di desanya.

Apa yang dia sampaikan ada benarnya, desa hanya punya kuasa untuk mengadah dan menangkup tangan kepada Bupati atau ke Dinas Pekerjaan Umum, memohon kucuran cuan untuk membangun dan merawat sebuah infrastruktur.

Adnan PARITta Ichsan, eh maksud saya Purichta, adalah pihak yang patut disorot karena telah membiarkan lubang yang telah berevolusi menjad parit dan tersebar di sepanjang jalan. Namun apa daya, sebagai rakyat kecil nan pendatang, jangankan bertemu, perihal urusan protokoler yang rumit demi bertukar sapa dengan si nuhun tertinggi di Butta Gowa aku tak paham, jikalaupun diizinkan aku akan tetap memakai sandal jepit saat bertemu dengannya.

Bukan hanya Bupati Gowa dan jajarannya, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan mestilah pihak yang paling banyak kena getahnya, mengingat jalan tersebut merupakan jalan binaan kementerian berlambang baling-baling tersebut, namun tak disangka ”Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh jua di lubang jalan Pattallassang”. Sekertaris Dinas Pekerajaan Umum di Provinsi ini terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK bersama Gubernur, kasus suap proyek di Bulukumba, #Biasalahhh. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan pendek,mengapa lubang maut tersebut tak tersentuh pemerintah, “Suap aku maka kututup lubang jalanmu”. Pelik betul negeri ini.

Aku kembali melewati jalanan itu, kondisinya mulai membaik, karena hujan tak turun hari ini. Di sana Pak Hanafi masih mengayun sekopnya sesekali menghujamkan sepatu boot di lubang yang telah dia timbun dengan batuan dan tanah di pinggiran jalan. Aku menyapanya, dia tersenyum mengenaliku. Setelah bincang-bincang pendek dengannya tempo hari, ungkapan-ungkapannya di tepi jalan terngiang selalu “Mengejar dunia tidak pernah ada habisnya, kita selalu punya kebutuhan dan keinginan, tidak ada habisnya nak. Harusnya yang kita kejar bagaimana memberi arti bagi hidup ini, bagi orang lain, menutup lubang jalan misalkan”.

Dunia memang tidak adil, harusnya orang seperti Pak Hanafi saja yang jadi pejabat. Kita tidak membutuhkan mereka yang berlabel pejabat namun acuh pada hal “sekecil” lubang jalan, kita tidak butuh kepada mereka yang bergelar ”Pelayan Rakyat” namun ketika melewati lubang-lubang jalan mereka menghela napas “Aihh, cuci mobil lagi”.

Penulis : Muh. Wahyu

Editor : Ardiansyah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami