Takapala dan Harapan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto bersama keluarga kecil UKM LIMA Washilah di air terjun Takapala Malino, Sabtu (27/02/2021).

Oleh : Lihin

Untuk akhir semester dan awal periode yang baik di kampus dan washilah.

Pertengahan Februari kami merancang kalender Liburan, deras hujan Februari, dan penatnya aktivitas organisasi mengharuskan kami membayangkan hari santai di suatu tempat yang indah dengan kebersamaan yang menenangkan.

Akhir-akhir ini kesibukan sedikit padat dibandingkan dengan semester-semester silam. Semakin lama bermahasiswa, semakin banyak tantangan di pundak dan pikiran. Salah satunya karena organisasi dengan segala hiruk pikuknya.

Bergelut di lembaga kuli tinta, atau bahasa kerennya Lembaga Pers Mahasiswa juga melelahkan. Memikirkan isu apa lagi akan terbit di beranda media massa yang dikelola bersama. Jadinya liburan adalah hal yang paling solutif.

Diputuskanlah sebuah tempat indah di lembah kecil desa Bonto Lerung, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa sebagai tujuan. Air terjun Takapala dan suhu dingin adalah objek utama yang akan dijumpai di sana.

Menurut aplikasi  google maps, untuk mencapai tempat wisata terkenal Takapala, kurang lebih harus berkendara selama Dua jam dengan rute 55 Kilo Meter. Dalam perjalanan, kita akan menyusuri pemandangan indah pegunungan, juga pesawahan sepanjang jalan yang unjuk diri. Mengendarai sepeda motor atau mobil cukup solutif untuk cepat sampai ke tujuan.

Tepat jam 15:20 petang, saya dan rombongan keluarga kecil Washilah meninggalkan hangatnya rumah jabatan yang terletak di Romang Polong Gowa. Saya pun dengan senang hati berangkat bersama teman seperjuangan, Lita sebagai penumpang yang paling setia mengingatkan untuk tidak kelabakan di jalan.

Air Terjun Takapala, Jaringan, dan Hujan Abadi.

Sesaat setelah sampai di sebuah villa minimalis yang dibayar dengan minimalis. Harga teman, namun dengan pemandangan yang membuat betah berlama-lama di lembah kecil Takapala.

Salah satu kawan, Ulfa, sibuk mondar-mandir naik turun tangga, tidak peduli lagi dingin udara malam. Seorang teman sontak bertanya “Apa nu cari ulfa,” dengan nada tergesa Ulfa menjawab “Cari jaringan, mauka menerbitkan.”

Ulfa adalah Redaktur Tabloid, diamanahkan seorang kawan yang bernama Agil untuk menggantikan tugasnya sebagai Redaktur Online.

Ya, seperti itulah gambaran singkat kerja kami di lembaga Pers Mahasiswa Washilah.  Washilah, yang punya arti jembatan dalam bahasa Arabnya.

Ulfa sedang berusaha menjadi jembatan, jembatan informasi bagi yang memerlukan informasi, menyampaikan suara-suara yang tak bisa bersuara. Bahkan situasi dan kondisi apapun bukan halangan untuk mengabdi untuk kepentingan orang banyak terkhusus di UIN Alauddin.

Sudah 35 tahun sejak 1985 berdiri, di  Washilah, kami punya tugas menjadi jembatan untuk masyarakat kampus UIN Alauddin Makassar. Agar aspirasi, suara, dan harapan mereka tersampaikan di hadapan mata para Birokrasi kampus.

Termasuk saat banyak orang sedang berlibur, kami tetap menyajikan informasi kepada halayak kampus, bahkan saat waktu liburpun.

Di lain cerita, dari villa sederhana milik Daeng Naba, air terjun Takapala sangat menawan. Musim hujan menambah volume air dibanding musim kemarau. Hasilnya, lembah kecil Takapala punya hujan Abadi yang terus membasahi sepanjang waktu.

Air deras yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 100 meter itu, merupakan anak sungai yang bermula dari kaki gunung Bawakaraeng, lalu bermuara ke sungai yang lebih besar di Jeneberang.

Air itu terpercik ke dasar batuan, hingga embunnya melangit dan menjadikan rintik-rintik kecil mencapai radius kurang lebih 200 meter, selanjutnya membasahi bak hujan asli.

Jalan-Jalan Penuh Harapan

Liburan atau jalan-jalan memang adalah aktivitas yang sedikit banyak memiliki keharusan, orang-orang Indonesia punya minat yang tinggi untuk mengisi ahir pekan ke pinggir kota dengan objek alam atau apapun.

“Yang penting liburanki,” Ucap Lita sehari selepas pulang dari Liburan bersama keluarga kecil Washilah.

Lita sapaan perempuan itu, menjabat sebagai Redaktur atau pimpinan divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia di washilah. Baginya jalan-jalan adalah bagian penting untuk membangun organisasi karena menjadi ajang perekat emosi.

Lita selalu punya harapan lebih, selain punya tugas wajib ia punya tugas tambahan sebagai Pengurus di Washilah, apalagi di bidang yang mengembangkan potensi manusia dalam organisasi, yaitu bidang pengembangan Sumber Daya Manusia. Itulah pendorong ia harus bersusah payah mengajak anggota yang lain untuk berpartisipasi dalam agenda liburan.

Sepulang liburan ia lega, masih banyak tempat lain yang ia ingin susuri bersama keluarga kecil washilah. Baginya, awal yang baik untuk periode singkat, jalan-jalan menjadi kebiasaan baru untuk membunuh kepenatan hidup.

“Semoga kedepannya kita lebih sering-sering berkunjung ketempat yang lebih keren, setelah melawati penat atau bisingnya kota. Harapan untuk washilah, semoga tetap keren dan mari saling membersamai untuk kedepannya,” Harapan lita.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VI. 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami