Washilah – Gerakan Rakyat Makassar (GM) melakukan aksi Road Show Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. Gerakan yang dilakukan di beberapa titik di Kota Makassar ini mendapat apresiasi oleh beberapa pengguna jalan, Selasa (10/11/2020).
Mereka yang melintas dan melihat aksi tersebut memberikan semangat kepada para mahasiswa yang melakukan aksi penolakan.
“Semangat anak muda, hidup mahasiswa, hidup rakyat,” pekik seorang pria paruh baya dari dalam mobilnya.
Tak hanya berteriak, beberapa pengguna jalan juga berhenti dalam perjalanannya lalu ikut terlibat dalam aksi tersebut. Mereka memegang spanduk tuntutan, dan berdiri disekitaran bundaran Samata hingga aksi selesai.
Aksi ini dilakukan dengan pembentangan spanduk, poster, dan membagikan selebaran tuntutan. Menurut pantauan Reporter Washilah yang ada di salah satu titik aksi di Bundaran Samata, pukul 16:32 massa aksi yang berjumlah 12 orang berkumpul di Bundaran Samata.
Dari 12 massa aksi, tiga orang diantaranya membentangkan spanduk yang bertuliskan “Mosi Tidak Percaya: Cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja dan Bangun Dewan Rakyat” selain itu beberapa orang lainnya memegang poster dengan tuntutan yang sama dengan bahasa yang bervariatif, diantaranya bertuliskan “Buruh, Petani, Nelayan, dan Kaum Miskin Kota Bersatulah!”.
Aksi ini selesai tepat pukul 17:28, massa yang awalnya berjumlah 12 orang bubar dengan jumlah 22 massa aksi.
Salah satu peserta aksi, Wira menuturkan aksi ini menjadi bukti bahwa banyak elemen masyarakat yang menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
“Respon pengguna jalan sangat baik, beberapa dari mereka memberi semangat, beberapa lainnya ikut terlibat, bahkan ada yang baru saja pulang dari acara nikahan belum sempat ganti pakaian, tapi menyempatkan untuk ikut terlibat,” ucapnya.
Salah satu pengguna jalan, Cani Arni yang ikut berpartisipasi dalam aksi itu mengatakan semua elemen masyarakat harusnya terlibat dalam menolak Omnibus Law.
“Mengenai penolakan Omnibus Law ini, seharusnya semua elemen memang harus terlibat, karena kita tahu Omnibus Law ini merugikan rakyat. Mau itu buruh, petani, mahasiswa, atau siapapun itu,” tuturnya.
Penulis: Arya Nur Prianugraha
Editor: Rahmania











