Aksi Demonstrasi DEMA UIN Alauddin Makassar Kritisi Kegagalan Rezim Prabowo-Gibran

Facebook
Twitter
WhatsApp
Salah satu mahasiswa orasi di pertigaan Jalan Sultan Alauddin–AP Pettarani. Mahasiswa lainnya membentangkan Spanduk yang berisikan tuntutan, Jumat (6/3/2026). | Foto: Washilah — Gholib Al Hakam (Magang).

Washilah — Hujan deras menyelimuti kota Makassar. Namun, tak mampu meredam tekad para mahasiswa UIN Alauddin Makassar untuk turun melaksanakan aksi demonstrasi di jalan. Tanpa payung, mereka tetap berdiri dibawah guyuran hujan yang membasahi jas almamater hingga basah kuyup.

Dari pengeras suara, suara-suara lantang menggema, memecah deru kendaraan yang lalu-lalang di sekitar lokasi aksi. Di tengah hujan yang membasahi, para mahasiswa itu tetap bertahan, berdiri tegak menyuarakan tuntutan mereka sembari membentangkan spanduk yang berisi tuntutan.

Aksi demonstrasi itu berlangsung di pertigaan Jalan Sultan Alauddin–AP Pettarani, Jumat (6/3/2026).

Salah satu orator dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Alauddin Makassar, Rahim, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kegelisahan mahasiswa terhadap kondisi sosial dan kebijakan negara yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.

“Rusaknya sistem yang ada di negara ini, sudah sangat merugikan kita semua. Kita sebagai mahasiswa dan masyarakat harus sadar bahwa keadilan harus segera ditegakkan,” ujarnya saat orasi.

Ia juga menyoroti ketimpangan kesejahteraan sosial yang semakin terasa di berbagai sektor. Salah satunya ialah pemangkasan dana pendidikan yang dianggap tidak tepat sasaran.

“Pendidikan seharusnya menjadi prioritas. Namun hari ini justru harus dipangkas demi program yang secara objektif tidak mencerdaskan negara,” katanya.

Dalam aksi tersebut bertajuk “Reformasi Rakyat Menggugat”. Menurut beberapa massa aksi, tajuk ini lahir dari refleksi panjang terhadap kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Tak hanya soal pendidikan saja, Sam salah seorang orator turut menyoroti kinerja aparat kepolisian, khususnya terkait kasus penembakan yang baru-baru ini menewaskan seorang remaja yang bernama Bertrand Eka Prasetyo.

Remaja tersebut diduga meninggal dunia akibat penembakan yang dilakukan oleh seorang oknum kepolisian.

Dalam Orasi tersebut, Sam menegaskan bahwa peristiwa itu menjadi gambaran arogansi aparat yang masih terjadi di lapangan.

“Kasus ini merupakan cerminan bentuk arogansi institusi kepolisian. Pada bulan ini saja sudah banyak kejadian kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian dan mereka terlibat sebagai pelaku utama,” tegas Sam dalam orasinya.

Hingga saat ini, kata Sam, tidak ada transparansi dalam penanganan kasus seperti ini, sehingga menimbulkan kekecewaan dari masyarakat. Ia menilai ada kecenderungan untuk menyembunyikan identitas pelaku demi menjaga citra institusi.

Tak hanya kasus Kematian Bertrand yang menjadi peristiwa tunggal. Dalam dua bulan terakhir, setidaknya ada dua kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat  yang akhirnya berujung fatal.

Seperti seorang polisi tewas yang diduga dianiaya rekannya sendiri di asrama. Seorang santri dilaporkan dibunuh oleh polisi di Tual, Maluku.

Orasi terus disampaikan secara bergantian hingga sore hari. Aksi tetap berlangsung hingga tuntutan yang mereka bawa, selesai disampaikan di hadapan publik.

Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Muh. Zulhamdi Suhafid dengan lantang menyatakan sikap tentang isu kekerasan aparat terhadap warga sipil masih terjadi. Kriminalisasi terhadap aktivis dinilai meningkat, serta sejumlah kebijakan negara dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan rakyat.

Penulis: Zahra Awalia (Magang)
Editor: Sappe

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami