Pers Mahasiswa dan Nelayan Kodingareng Telah Dibebaskan Polairud

Facebook
Twitter
WhatsApp
12 orang yang ditahan oleh Polisi Air dan Udara (Polairud) pada Sabtu kemarin ( 12/9) telah dibebaskan, ke 12 orang tersebut diantaranya tiga jurnalis Pers Mahasiswa (Persma), delapan orang nelayan Kodingareng dan juga satu orang aktivis lingkungan, Minggu (13/9/2020).

Washilah – Tiga Pers Mahasiswa (Persma) bersama delapan nelayan Pulau Kodingareng dan satu aktivis lingkungan telah dibebaskan setelah ditahan Polisi Air dan Udara (Polairud). Mereka dibebaskan sekitar pukul 12:30 setelah ditahan selama lebih dari 24 jam, Minggu (13/09/2020).

Penahanan mahasiswa dan nelayan yang berjumlah 12 orang tersebut terjadi pada hari Sabtu kemarin (12/9) sekitar pukul 09:40 WITA. Setelah dibebaskan, mereka disambut hangat oleh keluarga dan anggota Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP).

Ketiga persma tersebut, yakni Muh Rehan Rahman, Mansyur, dan Hendra menjelaskan kronologi kejadian, bermula saat sekoci (perahu kecil) polairud menghadang kapal lepa- lepa dan jolloro’ yang mereka tumpangi.

Mereka berangkat dari Kayu Bangkoa menuju Pulau Kodingareng pada hari Jumat (11/9), keesokan harinya mereka berniat mengumpulkan bahan untuk pembuatan film dokumenter yang dicanangkan mengenai Perempuan dan Tambang Pasir Laut.

Kemudian pukul 07:30 nelayan dan mahasiswa melakukan aksi penghadangan kapal PT Royal Boskalis yang kembali melakukan aktivitas tambang pasir di Coppong, Kepulauan Sangkarrang.

Hendra, Rehan, dan Mansyur mengabadikan aktivitas tersebut, saat mereka menuju ke perairan takkacoppong tempat kapal Boskalis melakukan penambangan, tampak kapal tersebut berbalik arah menuju Makassar.

Melihat kondisi itu, lepa-lepa dan jolloro’ yang ditumpanginya juga berbalik arah, dengan niat akan kembali ke Pulau Kodingareng. Namun, ditengah perjalanan mereka diadang oleh sekoci polairud dan dibawah ke kantor bersama para nelayan.

“Di atas kapal di tengah laut itu kan kami menuju perairan takkacoppong. Tempatnya kapal Boskalis menambang, tapi belum sempat sampai sana, kapal Boskalis sudah balik ke arah makassar. Kami pun juga mau balik ke pulau kodingareng,  tapi kami diadang dan diambil. Total yang di ambil itu ada dua belas orang,” jelas Hendra.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa mereka telah mengaku dari pers namun tetap dilakukan penarikan oleh polairud.

“Sementara kita ambil gambar dan video untuk bahan dokumenter,  kami diadang dengan sekocinya polisi. Kami mengaku dari pers, tapi kami tetap ditarik naik ke sekoci, lalu dibawah ke kantor polairud.

Dalam insiden penangkapan tersebut mereka mengaku mendapatkan tindak kekerasan, diantaranya ditarik, perampasan kartu pers, penyitaan alat-alat berupa kamera, Handpone (Hp), kartu identitas bahkan sampai pemukulan di bagian kepala, pelipis, dan kaki.

“Saya dua kali dapat tendangan di bagian paha kanan, kapal yang saya tumpangi dengan nelayan ibu-ibu, saya langsung diangkut ke sekocinya mereka bersama alat yang saya bawa kamera, dan hp. Pas sampai disini disita semua, tapi setelah dibebaskan sudah kembali semua,” ungkap Mansyur.

Sama halnya dengan Mansyur yang mendapatkan tindakan represif oleh polairud, Rehan juga mengaku diseret ke kapal sekoci, dan dipukul pada bagian pelipis.

“Saya yang pertama diseret ke sekoci, lalu ditinju di bagian pelipis satu kali,” kata Rehan.

Selama penahanan di kantor polairud, mahasiswa dan nelayan dimintai keterangan mengenai kasus perusakan  kapal Boskalis, dengan menunjukkan beberapa gambar kerusakan pada kapal.

Dengan hadirnya insiden ini, mereka berharap kepada kepolisian untuk kembali mempelajari UU Pers, tidak melakukan pembatasan dalam peliputan, dan berharap kejadian tersebut terjadi untuk terakhir kalinya.

“Semoga kejadian ini, terakhir kalinya untuk teman teman pers semua, baik itu mahasiswa atau Jurnalis, karena kita kan ada aturannya. Semoga kekerasan dan penangkapan ini terakhir kalinya untuk pers,” harap Rehan.

Sementara itu, menurut kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Makassar (LBH-Makassar) Edy Kurniawan Wahid, pembebasan 12 orang yang ditahan oleh polairud, menjadi indikasi kuat bahwa satuan Dit polairud Sulsel sejak awal tidak meyakini atau ragu atas keterlibatan mereka yang ditangkap terlibat atau sebagai pelaku tindak pidana.

Lebih lanjut, Edy mengungkapkan bahwa penangkapan ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya beberapa peristiwa penangkapan sewenang wenang dilakukan oleh polairud. Dalam serangkaian penangkapan tersebut Edy berharap hal itu tidak terulang.

“Polairud seharusnya melakukan upaya penegakan hukum secara profesional, lebih mengedepankan pendekatan persuasif, tidak bertindak represif dalam setiap tahapan, dengan tetap berdasarkan pada hukum yang berlaku,” tutur Edy.

Penulis: Reza Nur Syarika
Editor: Rahmania

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami