Dari Kampus Sampai Pada Puncak Pengabdian di Afrika SulSel (Kota Sutera)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Muhammad Kasim

Oleh: Muhammad Kasim

Dalam Tridharma perguruan tinggi kita memahami ada tiga poin penting yang menjadi ruh dari pelekatan identitas sebagai mahasiswa. Antara lain adalah pendidikan, penelitian dan pengabdian. Seyoginya ketiga hal ini harus terlaksana dengan baik agar mahasiswa tidak menjadi misproduk dari sebuah gelanggang pendidikan (kampus).

Saya mungkin akan sedikit berbicara tentang pengabdian, karena ini bersinggungan dengan apa yang saya laksanakan saat ini. Tentunya saya memahami pengabdian ini bukan sekedar kata belaka tetapi ini adalah pembuktian dari kata-kata (tindakan). Lebih implisit pengabdian adalah penerapan ilmu-ilmu yang dicerna di balik dinding-dinding kampus, baik yang dilaksanakan secara formal maupun non formal.

Menariknya dalam proses pengabdian saya sedikit mengutarakan apa yang saya rasakan selama beberapa pekan berada di tempat saya berpijak hari ini, justru yang paling efektif dan cocok diterapkan dimasyarakat adalah apa yang saya cerna di luar pendidikan formal di kampus. Tentunya ini bukan sama sekali saya menolak pendidikan formal di kampus karena bagaimanapun itu adalah tujuan utama berada dalam suatu perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.

Pengabdian yang dilabelisasi dalam bentuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) baru saja digelar dan ditempatkan diberbagai wilayah di Sulawesi Selatan, kali ini adalah angkatan 61. Di saat yang sama saya ditempatkan di sebuah desa yang bernama Desa Rajamawellang, Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bone. Sebuah desa yang memiliki jumlah kepala keluarga kurang lebih 760 KK.

Saya mungkin tak seharusnya mengutarakan mulai awal saya datang kesini, sampai hari ini yang pada intinya “Semua masyarakat sangat ramah dan menyambut baik kedatangan kami.” Tentunya desa ini tak luput dari dentuman-dentuman sejarah baik itu mitis maupun yang nampak serta mereka memiliki akar budaya yang kuat.

Hal yang sangat unik dan menarik yang saya dapatkan di Desa Rajamawellang ini adalah sebuah kemampuan menggabungkan dua kultur yang jelas sangat berbeda di antara keduanya. Pada saat tertentu mereka fokus bertani dan di saat puncak musim penghujan mereka menjadi nelayan, karena wilayahnya harus terendam air selama beberapa meter dalam tenggang waktu bulanan bahkan tahunan. Tetapi ini hal yang diterima secara sadar sebagai suatu nikmat kehidupan.

Bukankah ini adalah hal yang luar biasa, menggambungkan dua budaya yang notabenenya memiliki perbedaan yang sangat banyak. Maka pantas kiranya saya menyebut desa ini sebagai desa “Bunglon kehidupan.” Semoga desa ini bisa menjadi semangat dan motivasi bagi desa lain yang pada dasarnya jauh dari pusat keramaian kota dan bahkan terisolasi sekalipun.

Ada hal yang membuat saya sedih sekaligus termotivasi di kampung ini yakni eksistensi pendidikan. Banyak anak-anak yang kehilangan semangat pendidikannya mungkin karena kurangnya motivasi atau mungkin ia kekurangan fasilitas serta tenaga pendidik di empat sekolah dasar yang ada di Desa Rajamawellang ini. Selain itu sebuah stigma tertanam dengan sangat pekik di benak para anak muda yang seharusnya melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi “Untuk apa kuliah pada akhirnya kita begini-begini saja,” itu adalah opini yang masih menghantui sebagian dari mereka.

Tentunya harapan serta ingin, kampus selayaknya melakukan observasi secara mendalam dalam satu wilayah yang nantinya menjadi pusat pengabdian. Tujuannya adalah kita bisa mengetahui aspek apa yang paling dibutuhkan wilayah itu, agar ini menjadi titik tolak untuk mengutus berbagai konsentrasi keilmuan masing-masing mahasiswa di kampus. Tetapi satu hal yang perlu disampaikan bahwa “Saya menyadari dan mungkin kita semua menyadari bahwa aktivitas kreatif yang dilakukan di kampus baik di waktu malam mupun siang hari, itu sangat bermanfaat dalam fase praktis ini.” Semoga enak dibaca dan lekas berbenah.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami