Malam Resah Malam Melawan: Menolak Pembatasan Malam

Facebook
Twitter
WhatsApp
Situasi saat salah satu massa aksi membacakan puisi di depan pintu gerbang kampus II UIN Alauddin, Rabu (20/11/19).

Washilah – Panggung ekspresi dihadirkan oleh Aliansi Mahasiswa UINAM Melawan Takdir untuk menyuarakan keresahan mereka. Sebuah puisi digemakan malam itu.

Visi mencetak rapi mahasiswa
Mogok makan langit kota langit polusi
Karena merapatkan diri seperti ini
Serpaan api

Wartawan diburu dibunuh
Petani dibunuh, aktivis dibunuh
Seorang anak diperkosa dan dibunuh
Belasan orang dibunuh
Puluhan orang dibunuh
Ratusan orang dibunuh
Ribuan orang dibunuh
Jutaan orang dibunuh
Nasi diaduk dengan air mata

Tuan dan nyonya belajar logika
Sudah sampai mana?
Pidato mereka retak tertusuk-tusuk dusta
Teriak-teriak dalam sunyi
Sepi mengalung dusta
Teriak mahasiswa lantang
Teriak-teriak sunyi

Keresahan mengalir deras dari mulut Imran mantan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab melalui puisi yang dibacakan, dihadapan gerbang dan pagar yang tertutup rapat. Ratusan mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang tergabung dalam Aliansi Mahasiwa UINAM Melawan Takdir, menggelar aksi penolakan pelarangan aktivitas malam dengan panggung ekspresi di kampus II UIN Alauddin Makassar. Rabu, 20 November 2019.

Sore menjelang malam, beberapa mahasiswa dengan menggenggam poster berdiri tepat di hadapan kendaraan yang hendak keluar kampus. Aksi yang digelar adalah bentuk protes dari adanya keputusan pembatasan aktivitas malam di kampus peradaban.

Salah satu poster yang bertuliskan “Jam malam dilarang tempat latihanku di pinggir jalan,” menggambarkan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap keputusan tersebut. Tak berselang lama, aksi berlanjut dengan dibukanya panggung ekspresi oleh Muhammad Nur Hidayat Selaku kordinator lapangan (Korlap).

Selain panggung ekspresi para massa aksi pun menggelar jumpa pers, jumpa pers yang diwakili oleh setiap perwakilan pengurus lembaga dari lembaga internal kampus yang tergabung dalam aliansi mahasiswa melawan takdir

Dalam jumpa perwakilan mahasiswa, Dewan Mahasiswa Fakultas Sains & Teknologi Hardian Khan menuturkan kebijakan yang dikeluarkan tidak lain agar mahasiswa lupa dengan masalah-masalah internal kampus UIN Alauddin Makassar.

“Teman-teman dibatasi berliterasi, jadi pak rektor membuat kebijakan itu supaya mahasiswa tidak membicarakan tentang masalah-masalah yang ada di internal, supaya mahasiswa berhenti membicarakan rumah sakit yang belum jadi, mahasiswa matanya ditutup supaya tidak liat bahwa masih banyak lampu jalan di UIN tidak nyala atau rusak, itu bagian kecilnya,” resahnya.

Surat Keputusan (SK) Rektor yang berbunyi “Jam kerja sekretariat lembaga kemahasiswaan UIN Alauddin Makassar jam 16:00-17:30,” menjadi kabar tak sedap untuk setiap lembaga dan mahasiswa yang bermukim dan beraktivitas malam di kampus.

Tak hanya mahasiswa, kantin yang biasanya beroperasi hingga malam hari pun kini harus membereskan jualannya sebelum malam datang. Hasniati salah satunya pemilik kantin yang sudah sejak tahun 2010 mencari kehidupan di kampus peradaban dengan berjualan, ia adalah seorang ibu sekaligus ayah dari dua anak.

Dikutip dari perkataan Hasniati soal pembatasan jam malam, ia menerangkan tak ada persoalan yang dengan hal itu hanya saja ia merasa kasihan dengan mahasiswa yang bermukim di dalam kampus tepatnya dirusunawa.

“Saya sejak 2010 di sini, sebenarnya kalau dari pulang malam ia sebenarnya tidak adaji masalah, cuman yang kasian itu anak-anak yang di asrama. Karena semakin malam biasanya semakin ramai pembeli, kasian mana dia jalan mi keluar, sampai keluar ditutupkan lagi,” ujarnya.

Fasilitas seperti masjid harusnya difungsikan agar mahasiswa bisa beribadah sebelum pulang.

“Fungsikan masjid juga di sini, biarkan dia salat sebelum pulang. Bagusnya itu patroli tiap hari tapi ndak usah mi untuk pembatasan malam kan kalau di patroli pas didapat bisa mi dikasi sanksi kan bagus, kalau saya suka kalau ada yang keliling tiap sore,” tambahnya dengan sesekali mengupas bawang yang ada dihadapannya.

Surat yang berlaku sedari tanggal 1 Oktober 2019, sampai saat ini masih menuai berbagai kontra dari berbagai lembaga mahasiswa. Waktu menduduki pukul 22:00 WITA, semakin pekat malam semakin pekat pula semangat mahasiswa menyuarakan keresahan melalui puisi dan nyanyian. Namun, hingga akhir mereka menggelar aksi Rektor UIN Alauddin Makassar belum juga angkat bicara.

Penulis: Reza Nur Syarika (Magang)
Editor: Dwinta Novelia

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami