Mengenang Peristiwa Sedarah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Salah satu pembicara dari Fosis Mirayati Amin saat memberikan argumennya pada acara dialog publik yang digelar oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ekonomi  dan Bisnis Islam (FEBI) di Aula FEBI UIN Alauddin Makassar, Jumat (18/10/2019).

Washilah – Setelah azan zuhur berkumandang, satu persatu mahasiswa berdatangan memasuki Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Mereka datang untuk menghadiri dialog pubik dengan tema “Represifilitas Aparatur Negara dan Gejolak  Protes Menolak RUU yang tidak pro Rakyat”, Jumat (18/10/2019).

Merawat ingatan peristiwa Sedarah (September Berdarah), kegiatan ini dibuka dengan pemutaran film dokumenter yang berjudul “Mosi Tidak Percaya”.

Nonton di YouTube

Titik api telah membara di berbagai daerah, ribuan kepala bertumpah ruah kejalan, bersatu dalam ritme gerakan menggaungkan perubahan. Gerakan yang serentak dilakukan oleh hampir seluruh mahasiswa di Indonesia. Sejak 23-30 September 2019 merupakan gerakan mahasiswa yang terbesar kedua  pasca reformasi 1998.

Aksi yang dilakukan berpusat dikantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masing-masing daerah dengan tuntutan menolak sejumlah pengesahan UUD, batalkan pimpinan KPK. Hentikan militarisme di Papua, hentikan kriminalisasi aktivis, dan tuntaskan kasus pelanggaran HAM.

Sumpah mahasiswa pun tak henti-hentinya dikabarkan pada langit kala itu. “Kami, Mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami, Mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat!,“ teriak salah satu Koordinator Lapangan (Korlap) membakar semangat massa aksi, Jakarta 24 September 2019.

Aksi demontrasi yang dikawal ketat oleh aparat, melahirkan gesekan-gesekan terhadap massa aksi dari penembakan peluru gas air mata, guyuran water conan, pengeroyokan, hingga pembunuhan terjadi kepada mahasiswa dan masyarakat sipil.

24 September 2019, tercatat aksi sebanyak 845 pengujuk rasa yang ditangkap, 535 orang di bebaskan (Tempo.com). Kemudian  23 – 26 September 2019 tercatat 9 jurnalis menjadi korban kekerasan polisi (VOA Indonesia), dan 5 orang diantaranya meregang nyawa.

Terhitung, sejak 2014-2019 polisi telah melakukan kekerasan 3893 kali. Sebanyak 4695 orang ditangkap, 4874 luka dan 966 orang meninggal dunia (KONTRAS).

Itulah gambaran isi film dokumenter “Watchdoc Documentary” sebagai pembuka dialog publik yang dilaksanakan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Alauddin Makassar.

Ketua Dema FEBI Sulfikar menjelaskan, dialog Sedarah ini hadir untuk  mengenang sejarah tindakan aparat yang melukai semangat reformasi .

“DEMA FEBI berinisiatif melakukan dialog mengenai peristiwa sedarah mengingat rentetan tindakan represif yang dilakukan aparat, menjadi sejarah kelam dalam perjalanan reformasi di Indonesia,” jelasnya.

Dialog yang dilakukan hampir tiga jam, menjelaskan  banyak hal  persoalan kekerasan aparat dan militer yang pernah terjadi di Indonesia, salah satunya G30S PKI juga turut disinggung walau tak membahas lebih jauh persoalan peristiwa itu. Mengutip salah satu perkataan pemateri, Mulya Sarmono mengatakan, “Sejarah Indonesia adalah sejarah kekerasan,” ucapnya yakin pada peserta.

Disusul dengan pendapat Mirayani Amin yang melihat gerakan mahasiswa yang pasang surut dalam mengawal isu, baginya penting untuk menjaga semangat, amarah dan dendam untuk melangkah kedepan.

“Saya melihat semangat besar gerakan hanya terjadi di tanggal 24 dan 27 saja, jangan sampai gerakan kita hanya mengawal akhir periode DPR saja, kita perlu merawat kemarahan untuk melangkah kedepan,” tegasnya.

Dinginnya suhu ruangan beradu dengan panasnya perbincangan. Salah seorang peserta, seorang Mahasiswa Baru (Maba) di FEBI, dirinya mengaku baru pertama kali mengikuti dialog yang membahas tindakan represif polisi, pun membuat kepercayaannya hilang.

“Yang kutau itu polisi melindungi masyarakat dan tidak berani memukul masyarakat, tapi sekarang pikiran tentang itu hilang kak,” ucap Ananda mahasiswa angkatan 2019.

yang dihadiri tiga pemantik yaitu Mirayati Amin dari FOSIS, Mulya Sarmono dari Komisi Orang Hilang dan Tindakan Kekerasan (KONTRAS) Makassar, dan Muhammad Maulana dari Perhimpunan Pengacara Masyarakat Adat Nusantara.

Penulis : Reza Nur Syarika (magang)
Editor : Suhairah Rasyid

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami