Menolak Lupa, Mahasiswa UIN Alauddin gelar Aksi Kamisan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Suasana aksi kamisan oleh sekelompok mahasiswa UIN Alauddin Makassar, tampak dua orang peserta aksi berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah membentangkan petaka. Bertempat di depan Fakuktas Kesehatan dan Ilmu Kedokteran (FKIK). Kamis (11/07/2019).

Washilah – Panasnya terik matahari tak membuat semangat beberapa mahasiswa yang berkumpul di depan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran (FKIK), Kampus II UIN Alauddin Makassar memudar. Beberapa mahasiswa yang tergabung di Aksi Kamis Melawan Redup (KAMERD) menggelar aksi kamisan yang ketiga, Kamis (11/07/2019).

Mereka menamai dirinya KAMERD, akronim dari (Kamis Melawan Redup). Dilansir dari akun instagram resminya, “Kamerd adalah wadah bagi kawan-kawan yang diterpa dengan ancaman, kekerasan, diskiriminasi atau apapun itu yang tidak manusaiawi dan di luar kemanusiaan.”

Tak ada paksaan, mereka bergerak atas kesadaran pribadi dan dorongan nurani, semua berawal dari fakta dan data yang mereka temukan, bahwa di kampus peradaban ini, telah banyak terjadi ketimpangan ketimpangan.

“Aksi ini merupakan lanjutan penolakan teman-teman yang menolak SK skosing 19 mahasiswa UINAM, kami menilai bahwa SK skorsing tersebut cacat secara prosuderal, hal itu kemudian menjadi motivasi teman-teman utuk melakukan aksi kamisan,” ujar seorang peserta aksi berinisial ‘S’.

Hari itu, kamis siang dengan pakaian hitam, bertopeng, berpayung hitam, dan petaka bertuliskan “DO dan Skorsing bukan bagian dari pendidikan,” peserta aksi menjelaskan kami berpakaian hitam untuk menggambarkan betapa kelamnya kampus saaat ini. Sambungnya, mereka menutup wajah dengan alasan “Untuk merawat napas perjuangan, maka kami akan nenutup wajah, karena kami sadar bahwa identitas adalah nyawa kami.”

Walaupun tuntutan utama mereka ialah pencabutan SK skorsing, mereka juga menuntut fasilitas kampus yang tidak memadahi, serta UKT yang kian tahun makin naik dan berbagi permasalahan yang ada di kampus.

Atas dasar itu, setiap kamis mereka berdiri di bawah terik matahari; panas, gerah, dan haus pasti tak terelakkan. Mereka melakukan itu lagi tak lain atas nama kemanusiaan.

Mereka mengaku tergerak hatinya karena sadar atas realitas yang ada.

“kami sadar bahwa banyak sekali ketimpangan yang terjadi di kampus ini, aksi ini kami gelar dengan tujuan mengajak kawan-kawan yang lain untuk sadar melihat realitas atas ketimpangan yang terjadi,” ucap pria bertopeng berinisial ‘S’ itu.

Tak jarang lirikan sinis dan pandangan risih diterima dari pengguna jalan yang melintas. Semuanya tidak diacuhkan oleh peserta aksi.

“Kawan-kawan tidak akan berhenti, kami sudah berkomitmen untuk terus melakukan aksi kamisan, kami akan terus mengawal masalah dan isu-isu yang ada di kampus, aksi kamisan ini adalah upaya menolak lupa sekaligus peringatan kepada birokrasi kampus untuk menyelesaikan masalah yang ada di kampus,” tegasnya.

Pria bertopeng itu menambahkan “hanya ada dua pilihan diam ditindas atau bangkit melawan, mari bersolidaritas, solidaritas adalah senjata,” tutupnya dengan sorot mata serius yang terpancar di sela topengnya.

Tidak selalu pandangan sinis, aksi kelompok yang menamai dirinya KAMERD mendapat respon positif dari seorang mahasiswa semseter II Jurusan Peradilan Agama ini, Rahmat hidayat.

Bojo sapaan akrabnya, ia mengaku sudah ke tiga kalinya melihat aksi kamisan tersebut, ia sangat mengapresiasi sekelompok mahasiswa itu.

“Menurut saya aksi kamisan di UINAM menurutku aksi bisu gulita, ibarat air tenang jangan disangka tiada buaya begitupun diamnya pengangkat toa jngan disangka redupnya perjuangan, malah itu mnurut saya sesuatu yang sangat menakutkan. Jadi saya berharap agara mereka tetap konsisten melanjutkan perjuangan untuk menggalang massa yang lebih banyak, karena salah satu tolok ukur kebenaran keadilan ialah perjuangan mayoritas,” ucap mahasiswa asal Bulukumba ini.

Penulis: Arya Nur Prianugraha
Editor: Dwinta Novelia

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami