Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar

Facebook
Twitter
WhatsApp
hai.grid.id

Washilah – Di hari aktif kuliah setiap gazebo di pelataran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dipadati mahasiswa, ada yang mengerjakan tugas, ada yang berdiskusi, ada yang lapak baca, ada yang rapat, dan ada pula yang sekedar melepas lelah.

Gazebo menjadi tempat yang strategis bagi mahasiswa berkumpul dan berbicang, saya pun sering berada di sana, banyak aktivitas yang dilakukan termasuk buang sampah sembarangan. Bagaimana tidak, sebelum dan sesudah adanya tempat sampah di samping gazebo mahasiswa tetap saja membuang sampah disembarang tempat dan sampah yang paling sering saya dapati adalah kertas dan puntung rokok.

Sesekali saya mendapati orang yang membuang puntung rokoknya di sembarang tempat, dengan sigap saya berkata “janganki buang di situ kak, itu sana tempat sampah.” Terkadang pula saya mengabaikan karena takut menegur senior yang saya anggap pengetahuannya sudah mumpuni persoalan lingkungan.

Rasa risih tidak dapat terelakkan, setiap saya berwaktu senggang di gazebo selalu mendapati hal demikian, seolah-olah mereka seperti tidak melihat keberadaan tempat sampah yang disediakan.

Sampah adalah material sisa yang dibuang dari proses akhir produksi, baik dari industri maupun rumah tangga. Jika dikelompokkan ada dua jenis sampah, sampah organik dan non organik dimana yang menjadi problematika saat ini ialah sampah non organik karena jenis sampah ini sulit teurai oleh alam.

Data dari Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia hingga mencapai 11,330 ton per hari. Jika diambil rata-rata maka setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0.050 Kg per hari. Jika jumlah sampah itu dihasilkan dalam hitungan hari tinggal dikalikan dengan tahun, maka sampah yang dihasilkan hingga mencapai 4.078.800 ton.

Akankah kita terbebas dari sampah?

Jenis sampah non organik seperti plastik, puntung rokok, kaleng, kertas, kardus, sterofoam, kantong plastik dan lainnya telah menjadi polemik dalam perkembangan zaman.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang individu membuang sampah disembarang tempat, seperti rendahnya kesadaran menjaga lingkungan.

Sampah puntung rokok misalnya salah satu jenis sampah non organik yang sering didapati berserakan di tanah, puntung rokok dapat terurai 10 tahun lamanya. Hal inilah yang sering diabaikan khususnya para perokok.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS) 2018 menunjukkan jumlah perokok di atas usia 15 tahun sebanyak 33,8% dari jumlah tersebut 62,9% merupakan laki laki dan 4,8% perempuan. Jika semua perokok membuang puntung rokok di sembarang tempat, maka apa yang akan terjadi pada lingkungan kita 20 sampai 50 tahun kedepan?.

Dalam lingkungan kampus pun banyak ditemui pengonsumsi rokok yang membuang puntung rokoknya disembarang tempat, meskipun kebanyakan dari mereka paham akan kondisi lingkungan. Tapi pemahaman tidak mewakili tindakan, sejalan dengan hal tersebut mereka juga turut mempunyai sumbangsi atas pencemaran dan pengrusakan lingkungan.

Selain dari faktor kesadaran menjaga lingkungan, minimnya tempat pembuangan sampah juga mempengaruhi seorang individu membuang sampah sembarang tempat.

Perilaku konsumsi yang dimiliki setiap individu akan berdampak pada semakin banyaknya sisa benda yang kemudian akan berstatus menjadi sampah.

Minimnya tempat sampah di suatu tempat juga berpotensi akan semakin banyaknya individu membuang sampah disembarang tempat.

Kebersihan dan kelestarian alam sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup semua manusia, maka dari itu menjaga lingkungan adalah kewajiban, tak perlu bermuluk-muluk satu langkah kecil dapat membuat perubahan yang besar. Mulailah dari buang sampah pada tempatnya.

Penulis: Reza Nur Syarika (Magang)

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami