Essai Malu (46) dari Asdar Muis RMS

Facebook
Twitter
WhatsApp
Malu (46): Kaos oblong yang melilit di tubuh tambunku terbilang lusuh. Tua. Aku sungguh tak peduli masuk di beberapa ruang kerja dari kantor ke kantor dari pagi hingga sore. Tatapan heran dan agak merendahkan tak kupeduli.

Aku memang sengaja keliling mengantar buku pesanan yang lumayan berat diangkat. Ada pula yang iba lalu membantu mengangkat buku ke ruang di lantai tiga. “Lumayan, hari ini Mama bisa tertawa menyambut kita pulang,” ujarku pada anak perempuanku yang ikut menemani. Namun, tak lama berselang, suara di telepon …

“Kakak, saya lagi perlu bantuan”. Dan seperti biasa, aku mudah trenyuh. Jelang magrib di tepi jalan, tempatku biasa nongkrong, kubuka laptop – berselancar di dunia maya. Seorang teman mengajak chating. Kala aku pamit, dia minta agar aku tetap meladeninya seraya menulis “Jika Bapak butuh bantuan, saya siap”. Apa? Bantuan? Pun kujawab: “Aku anti kemapanan. Aku bukan orang yang perlu dikasihani. Aku cukup puas pada apa yang menjadi kebutuhanku, bukan pada keinginan”.

Tak lama, seorang teman datang menghampiriku. Dia memamerkan hape miliknya yang tahan banting, tahan air, tahan segala cuaca, sambil menyiram dengan air. “Jika mau pesan, boleh asal ada uang tunai Rp 2.300.000,” katanya lalu kusambut, “Aku punya.” Dan ternyata dia memberiku keringanan: “Untuk Kakak, dua juta saja”. Saat temanku itu pergi menjemput pesanan, aku iseng membuka internet. Kutelusuri harga merek hape dimaksud. Tertulis “bila dirupiahkan, sekitar Rp 4 jutaan”. Entah mengapa, aku tak memberi uang sebagai fee. Saat tiba di rumah, istriku menagih hasil buku. Dan kuberikan amplop yang menipis. Dia begitu bahagia. Dan aku menyusupkan hape baru ke dalam tas laptop. Sangat dalam! (Makassar, 22 Juni 2012)

Asdar Muis ( 13 Agustus 1963 – 27 Oktober 2014)
Tulisannya pernah rutin dimuat di harian Pedoman Rakyat dan di Harian Fajar. Bila menulis karya sastra, suami Herlina ini kerap memakai berbagai nama samaran, antara lain Linaku Nunung Rosita.Sejak awal 1984, ia menambahkan RMS pada namanya, singkatan dari “Rachmatiah Muis Sanusi”. Direktur Berita Radio Suara Celebes FM 90,9 Mhz dan staf pengajar Universitas Fajar Makassar ini menulis buku antara lain “Sepatu Tuhan” dan “HZB Palaguna : Jangan Mati Dalam Kemiskinan”. Yang fenomenal, novelnya “Eksekusi Menjelang Shubuh” yang terbit tahun 2009.

Di belantara jurnalistik, ia pernah menjadi Pemred Tabloid Harian Suaka Metro Jakarta, Redpel Manado Post, Redpel Tabloid Anak Wanita “Gita” Jakarta, redaktur Harian Berita Yudha, bekerja di Harian Fajar, koresponden MBM Tempo, Kepala Biro Harian Nusa-Bali di Jakarta, Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat, dan beberapa media lainnya di Sulawesi dan Kalimantan.

Asdar Muis adalah pendiri “Komunitas Sapi Berbunyi” di Makassar. Jebolan Asdrafi (Akademi Seni Drama Indonesia) Yogyakarta, Fisipol Unhas dan sosiologi Pascasarjana Program Magister Universitas Hasanuddin ini setiap kali ditanya tentang pekerjaannya selalu menjawab secara serius: “berpikir!”

Semoga amal ibadahnya diterima disisinya.
(https://www.facebook.com/asdar.muis)

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami