Kaderisasi Koruptor Berlangsung secara Sistematis

Facebook
Twitter
WhatsApp

Ardiyabsyah

Illustrasi


Terkuatnya  sejumlah pegawai negeri sipil yang berusia muda dengan rekening miliaran rupiah menunjukkan bahwa praktik korupsi sudah terwariskan dari generasi tua ke generasi mudah . ini menunjukkan kaderisasi koruptor secara sistematis.

Negara bukan hanya tidak berdaya menghadapi korupsi, justru terseret dan permisif (suka mengijinkan) terhadap korupsi.  Dengan perilaku birokrat yang permisif, proses kaderisasi menjadi efektif. “Para birokrat membiarkan rekannya berperilaku menyimpan. Orang menjadi  sama-sama  maklum, tidak mengingatkan, tidak pula berteriak. Ada pembiaran, lalu kemudian menjadi kebiasaan kolektif” kata pakar hukum tata Negara Universitas Andalas,Padang, Saldi Isra.

Belum lama ini di Media Massa marak di bicarakan tentang rekening gendut PNS muda dengan rekening miliaran rupiah, jumlah yang tidak sebanding dengan pendapatan mereka.  Rekening miliaran ini diduga hasil korupsi. Ini salah satu fakta, mau tidak mau memaksa semua pihak harus mengakui bahwasanya negara  gagal menghalau korupsi.

Sejumlah kasus korupsi besar, seperti yang melibatkan mantan Bendahara Umum  Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin , rekening tak wajar jenderal polisi, hingga skandal Bank Century yang juga belum tuntas penanganannya. Indonesia membutuhkan peminpin, tegas seorang panglima yang benar-benar memimpin perang melawan korupsi.

Peringatan anti korupsi yang lalu Presiden  mengemukakan dalam sambutannya  untuk upaya penindakan secara tegas bagi koruptor yang hingga saat ini banyak melibatkan pejabat pemerintahan, namun para penegak hukum belum mampu mengungkapnya.

Saya teringat sebuah kisah dalam buku yang ditulis  Asdar Muis RMS yang berjudul “ TUHAN MASIH BERPIDATO”  yang menceritakan kondisi  negeri ini. Beliau menceritakan,  usai rakaat  pertama shalat Jum’at, 13 Mei 2005, di masjid yang mirip musala di dalam kompleks RS Labuang Baji, saya tak khusuk lagi. Satu saf di depan saya, seorang bocah yang berusia sekitar 3-4 tahun pipis. Perlahan merembes membasahi sekitarnya dan kian melebar hingga belakang.. saya benar-benar merasa tidak khusuk lagi. Tapi saya juga merasa lucu. Yang ada dibenakku justru kondisi kekinian di negeri kita ini.

Mereka yang terimbas kencing itu, seperti tidak terjadi apa-apa. Si bocah yang memutar –mutar kepala dan tubuhnya memandangi orang-orang disekitarnya, tampa senyum. Juga tak menangis. Dingin! Namun, ketika akan  sujud pada rakaat kedua, lelaki muda yang ada tepat  di sisi kanan bocah, melipat ujun kain celananya, sementara yang berada di belakang si bocah harus memendekkan posisi tubuhnya agar kepalanya tidak sujud di lantai penuh kencing itu

Ketika berada di penghujung  shalat , bocah itu mendorong kepala lelaki tua yang ada disebelah kirinya. Si bocah seakan ingin mengatakan: aku kencing! Namun, lelaki itu bergeming. Tetap “bersikukuh” khusuk. Dan saya sekedar melakukan ritual Jumat secara serimonial itu, sibuk melototi si bocah yang bola mata lebarnya juga tajam menatap ke arah saya. Pun tawa beberapa orang yang berada dibelakang si bocah bagai kerang terbuka hahahaha…. Saat shalat di tutup imam.

Mengapa saya lebih tertarik memikirkan kondisi negeri  ketimbang bocah kencing yang membuat orang lain itu terkekeh itu? Apakah syaraf tawaku itu sudah rusak sehingga peristiwa tersebut membuatku sedih. Pasalnya, saya menganologikan bocah kencing itu sebagai pejabat atau mereka yang menjadi pemimpin. Sebab,  tak sedikit pemimpin atau mereka yang berkuasa, memaksakan kehendak menempatkan orang-orang terdekatnya atau secara nepotisme(seperti orang tua bocah itu yang membawa anaknya ke masjid).  Tak dipertimbangkan secara matang,tepat atau tidak.

Makanya, bangsa ini tak perlu menjelengar apalagi harus gelisah melihat polah elit yang membuat kita jengah. Karena, tak sedikit yang melakukan demi kepentingan primordial, nepotisme, atau pun kepentingan proximity. Lalu berkoar demi atas nama Negara dan kepentingan bangsa. Menempatkan orang pada bukan bidangnya. Itulah kilas cerita yang saya kutip dari Asdar Muis RMS.

Pun saya teringat pada pemilihan ketua BEM, seorang yang pengetahuan dan kemampuanya pas-pasan sebagai teknokrat tiba-tiba mencalonkan diri sebagai ketua BEM dan akhirnya terpilih. Karena  terpilihnya sebagai ketua BEM, maka tim suksesnyalah yang ditarik sebagai jajarannya.

Menempatkan orang pada bukan bidangnya, memang sudah menjadi citra jelek di negeri ini. Apalagi setelah era  reformasi berguling. Penempatan ditentukan pada siapa yang berjasa. Bukan lagi sesuai kompetensi dan kemampuan yang layak. Tapi, apa yang telah kau berikan pada perjuangan sebelum kesuksesan diraih.
Pemandangan lucu (seperti Bocah kencing di saf Jumat itu), biasa kita lihat pada pemerintahan  yang bergulir pada pasca kejatuahan Orde Baru. Tak sedikit  yang berasal dari antah berantah. Malah rumor yang biasa jadi benar, ada tukang parkir,preman, dan pengangguran menjadi wakil rakyat yang terhormat.

Padahal, yang malu jika anak yang dibawa ke masjid kencing, kan mesti orang tuannya. Tapi adakah ‘orang tua’ yang malu melihat anak-anak yang ditempatkan di tempat trategis tapi ternyata tak mampu berbauat apa-apa itu merasa jengah? Mestinya semua jengah. Sangat malu! Sebab,  kondisi negeri dan bangsa ini sudah sangat memilukan.  Banyak posisi diisi oleh bukan mereka yang patut. Mereka akhirnya malah menjadi bahan tertawaan. Namun, anehnya banyak ‘orang tua’ yang pura-pura tak tahu. Dan lebih anehnya lagi, rakyat (seperti makmum) diam saja seakan-akan khusuk.

Tikus-tikus berdasi yang banyak mendapatkan posisi di pemerintahan. Mereka tidak sekedar mengais-ngais anggaran belanja, tetapi juga menjarah anggaran untuk dibagi-bagikan sejak ia ditetapkan oleh eksekutif dan yudikatif. Korupsi mudah ketahuan dan segerah diperiksa KPK, Kepolisian ataupun  kejaksaan. Namun mereka ternyata bukan sapu-sapu yang bersih sehinggah sukar diharapkan menyapu kotoran.

Apakah kita tidak muak dengan kondisi kekinian bangsa ini? Korupsi makin hari makin absurd. Bahkan salah seorang aktivis mahasiswa yang bernama Sondang Hutagalung yang rela membakar diri di depan Istana Merdeka Jakarta Rabu 7 Desember 2011 lalu, sebagai bentuk kekecewaan terhadap penegak hukum.

Pembakar diri separti Sondang bukan pencari sensasi yang haus perhatian dan ingin dikenang sebagai “pahlawan” . mereka disebut sebagai “korban” yang ingin agar rakyat bangkit. Makna dua kata, korban dan bangkit, itulah yang menjadi esensial. Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan dahulu demi membangkitkan harapan rakyat agar nasib bangsa  jadi lebih baik lagi.

Makassar Sabtu 17 Desember 2011

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami