Anak Muda & Seks Bebas: “Yang Muda Yang Ber-Zina”

Facebook
Twitter
WhatsApp

Gambar Illustrasi
Oleh: Abdurrahman SHi

Jika dahulu kata “seks”, “Keperawanan”, dan istilah lain yang berkaitan dengan hubungan pasangan suami istri (pasutri) bagi sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan sesuatu istilah yang tabu untuk diungkapkan ataupun didiskusikan. Saat ini bukan hanya istilah yang berkaitan dengan hubungan intim pasutri yang sudah menjadi topik yang lumrah untuk dibicarakan, namun, aktivitas intim atau seks sudah seakan menjadi budaya sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih generasi muda.

 
Budaya Pacaran yang hari ini diadopsi oleh sebagian besar generasi muda merupakan imitasi budaya tanpa proses filterisasi melalui sistem nilai dan standar moral bangsa yang berbudaya ini. Terlebih ruang-ruang rasionalitas, kebebasan berekspresi dan berpendapat, anak muda dan para pemimpin bangsa ini telah bercampur aduk dan dieksploitasi habis-habisan lewat instrumen globalisasi serta kemajuan teknologi informasi & komunikasi yang membawa pengaruh budaya baru.
Media Indonesia (6/1) mengutip Kantor Berita Antara menulis, ”85 Persen Remaja 15 Tahun Berhubungan Seks”. Warta Kota (11/2) memberi judul, ”Separo Siswa Cianjur Ngesek”. Kemudian, Harian Republika terbitan 1 Maret 2007 menulis, ”Penyakit Menular Seksual Ancam Siapa Pun”. Dalam berita itu ditulis pula, ”Hampir 50 persen remaja perempuan Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah.”

Berita di Republika mengutip hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Survei dilakukan pada 2003 di lima kota, di antaranya Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Hasil survei PKBI, yang juga dikutip Media Indonesia, menyatakan pula bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka. Penelitian pada 2005 itu dilakukan terhadap2.488 responden di Tasikmalaya, Cirebon, Singkawang, Palembang, dan Kupang.

Ironisnya, menurut Direktur Eksekutif PKBI, Inne Silviane, hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri –rumah tempat mereka berlindung. Sebanyak 50 persen dari remaja itu mengaku menonton media pornografi, di antaranya VCD. Dari penelitian itu pula diketahui, 52 persen yang memahami bagaimana kehamilan bisa terjadi.

Penelitian lain dilakukan Annisa Foundation, seperti dikutip Warta Kota. Diberitakan, 42,3 persen pelajar SMP dan SMA di Cianjur telah melakukan hubungan seksual. Menurut pengakuan mereka, hubungan seks itu dilakukan suka sama suka, dan bahkan ada yang berganti-ganti pasangan. Penelitian ini dilakukan Annisa Foundation (AF) pada Juli-Desember 2006 terhadap 412 responden, yang berasal dari 13 SMP dan SMA negeri serta swasta.

Laila Sukmadewi, Direktur Eksekutif AF, mengatakan hubungan seks di luar nikah itu umumnya dilakukan responden karena suka sama suka. Hanya sekitar 9 persen dengan alasan ekonomi. ”Jadi, bukan alasan ekonomi. Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 90 persen menyatakan paham nilai-nilai agama, dan mereka tahu itu dosa,” ujar Laila. Dijelaskan, sebagian besar mereka menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas, sebanyak 12 persen menggunakan metode coitus interuptus.

Mengutip dari MetroTv News (27/2/2013) Kepala BKKBN Sudibyo Alimoeso mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2010, sekitar 21 persen remaja terutama di daerah perkotaan diduga melakukan seks bebas atau seks di luar pernikahan.

“Data tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan 2010 dan sekarang indikasinya justru terus mengalami kenaikan,” kata Sudibyo pada pertemuan dengan insan kesehatan di Banjarmasin, Rabu (27/2).

Menurut dia, salah satu indikasi kenaikan jumlah seks bebas tersebut adalah banyaknya kelahiran di kalangan remaja terutama di daerah perkotaan. Kelahiran di kalangan remaja tersebut, kata dia, antara lain karena pernikahan usia dini juga tidak menutup kemungkinan seks bebas tersebut.

[moga jadi bahan renungan dan perjuangan, amin]
el*
Makassar, 18 April 2013

*Penulis Adalah Mantan
Pimpinan Divisi Litbang UKM LIMA

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami