Melalaikan Tugas demi Proyek Besar (Buruknya Mutu Pendidikan Kita)

Facebook
Twitter
WhatsApp

 


Oleh FadLy PuteRa SultHan*

 
              Selama ini sering dikemukakan bahwa pendidikan merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap warga negara. Tidak kurang konstitusi, undang-undang bahkan doktrin agama mengakui hal tersebut. Akan tetapi, kenyataan yang kita hadapi sekarang ini menunjukkan hal sebaliknya. Pendidikan menjadi barang mahal yang hanya terbeli oleh kalangan berkantong tebal. Sementara masyarakat dengan kemampuan ekonomi pas-pasan semakin kecil peluangnya untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan yang layak.

            Sarana dan prasarana pendidikan menjadi salah satu tolok ukur kenaikan biaya pendidikan, namun pada kenyataannya para peserta didik harus menelan pahitnya kekecewaan yang diakibatkan oleh lemahnya mutu pendidikan yang diberikan. Tentunya ini sangat tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan peserta didik.
Padahal ketika kita mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan, sangatlah jelas tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 yakni ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

            Upaya yang mengarah pada terwujudnya tujuan mulia itu harus senantiasa terpatri dalam satuan terkecil bernama sekolah/kampus. Terlebih lagi sosok guru/dosen yang berhadapan langsung dengan kenyataan sehari-hari. Hal ini selaras dengan semangat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Guru dengan tuntutan menjadi pendidik profesional mutlak memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional.

             Melalui tulisan ini penulis menggambarkan berbagai macam pelanggaran yang dilakukan oleh para pendidik/dosen dalam hal pelaksanaan tugasnya. Tentunya kita bangga menyandang status sebagai seorang mahasiswa. Tapi apakah kita bangga kepada dosen-dosennya. yang jarang masuk? Apakah mereka tidak malu? Itulah realita yang dirasakan oleh masyarakat kampus.


           Ada beberapa dosen dalam satu semester yang masuk cuma tiga sampai empat kali pertemuan. Padahal mereka seharusnya masuk dalam satu semester kurang lebih 11 kali pertemuan. Nah, dosen seperti itu biasanya hanya memberi hand out kepada para mahasiswanya, dengan alasan mereka ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Urusan mereka biasanya mengajar di kampus lain, mengajar di sekolah-sekolah, atau bisa saja ada proyek besar.

            Setiap amanat adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab itu harus dilaksanakan secara wajib. Artinya kewajiban mengajar itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Jika memang ada urusan diluar kampus, ya harus ada pembagian waktunya. Supaya, kewajiban mengajar di kampus dan di luar kampus jadi setimbang.


            Apakah mau makan gaji buta atau dipotong lantaran mereka (dosen) jarang mengajar? Yang jelas itu tidak mungkin! Mereka (dosen) pastinya setiap bulan mendapatkan gaji utuh. Kalau begitu kenyataannya. Apa bedanya dosen yang jarang masuk disamkan dengan para pejabat yang korupsi uang rakyat? Aku kira tidak ada bedanya. Dosen memangkas jam mengajar dengan tidak mengajar sedangkan pejabat mengambil uang proyek/rakyat. Bagiku, mereka sama-sama pengkhianat rakyat, karena mereka digaji sama rakyat (pembayar pajak) tapi kewajiban mengajar ditelantarkan.
Apakah rakyat tidak marah atas kejadian ini? Pasti rakyat marah kalau seandainya tahu.Tentunya hal tersebut sangalah tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan kita, lalu akankah kita harus tetap diam dan membiarkan hal hal seperti itu tetap terjadi, tentunya “tidak”!.

               Jadi jangan heran ketika sering kita jumpai adanya aksi aksi domonstrsi yang dilakukan oleh sekelompok orang Karen pada dasarnya inilah yang menjadi salah satu acuan dari aksi yang mereka lakukan. Belum lagi ketika kita kembali pada persoalan biaya pendidikan yang mahal sehingga begitu banyak anak bangsa yang berada dibawa garis kemiskin terp[aksa harus menerima kenyataan pahit untuk tidak menikmati dunia pendidikan. Namun pada kenyataannya mutu pendidikan pun tak seimbang dengan biayannya. Lalu kenapa kita harus diam..???

HIDUP MAHASISWA………
·         Penulis adalah mahasiswa Fakultas Tarbiah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami