Washilah – Kehadiran globalisasi dapat mempengaruhi nilai agama dan budaya. Hal itu disampaikan perwakilan Organisasi Mahasiswa Pemuda Info (OMPI) Sulawesi Selatan, Asrim Saputra saat dialog bertema “Melestarikan agama dan budaya lokal di era globalisasi” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Haji dan Umroh di Lecture Teater Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Selasa (13/12/2022).
Ia beranggapan, kehadiran globalisasi sudah tidak dapat dielakkan. Namun, nilai-nilai agama dan budaya harus tetap dijaga agar tidak terkikis oleh ancaman globalisasi.
“Agama ini adalah simbol untuk kita, sebuah jalan kehidupan yang harus diterapkan dalam kehidupan. Melemahnya penerapan agama dalam kehidupan, membuat kita mudah menerima globalisasi, sehingga budaya barat mudah mempengaruhi dan memudarkan budaya serta agama yang kita miliki,” jelasnya.
Asrim menambahkan, faktor utama yang membuat globalisasi mudah menjalar adalah gengsi. Inilah yang dinilainya menjadi persoalan. Ketika individu secara pribadi dengan mudah mengikut dengan globalisasi.
“Bicara tentang agama adalah sebuah ketetapan, dan bicara mengenai budaya adalah sebuah rancangan. Gengsi yang terlalu tinggi akan membuat kita mudah menerima perubahan-perubahan baru dan akan menjauhkan kita terhadap nilai-nilai agama dan budaya.”
Asrim menegaskan, kalau setiap individu harus mampu mempertahankan nilai yang ada di dalam ketetapan agama itu sendiri meskipun dengan hantaman globalisasi
Penulis : Arham (Magang)
Editor : Jushuatul Amriadi











