Kafir(Is)you?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Alam Karpiadi

Oleh: Alam Karpiadi

Saya pernah berdebat dengan teman saya tentang iman, waktu itu saya setuju dengan golongan yang dinamakan murjiah persoalan keimanan.

Tentang iman, mereka meyakini bahwa itu urusan manusianya dengan Tuhan, tak ada yang bisa menambah atau mengurangi iman seseorang, sekali dia syahadat dia akan terus jadi muslim, tak ada yang dikafir-kafirkan, begitu pandangannya. Dan saya mulai berpikir, tidakkah mereka lebih baik dari kita? Kita yang ringan lidah mengkafirkan manusia lain? Tidakkah kita lebih buruk dari mereka? Kita yang ringan lidah menghinakan manusia lain? Apakah benar golongan tersebut itu tidak baik? Atau kah hanya kita yang dengan sombongnya meninggikan dagu membusungkan dada seolah yang benar hanya kita?

Pernah GusDur berkata ” Kalau saya dibilang kafir ya ndak papa, tinggal mengucapkan Syahadat kan sudah Islam lagi,” sebuah ungkapan dari seorang yang tak ingin repot dalam segala hal. Kata kafir sendiri itu dari segi bahasa berasal dari kata kafara berarti menutup, itu sebabnya petani yang mengambil benih lalu menanam kemudian menutupnya ditanah itu dari segi bahasa dinamai kafir.

Tapi dari segi agama kafir itu bermacam-macam, ada yang menutupi keesaan Allah padahal dia tahu, itu dinamakan kafir, ada kafir yang menutupi kebenaran tapi kerena di tidak memiliki informasi yang cukup, ada juga kafir yang percaya Allah dan ajaran agamanya tapi tidak melaksanakannya sehingga dia menutupi pelaksanaannya.

Tapi bukan karena itu semua kita dengan entengnya mengatai manusia lain dengan sebutan kafir tanpa bukti yang jelas, Iman Ghazali mengingatkan jika ada satu orang yang melakukan pelanggaran agama dan sudah terbukti 99% jangan dulu cap dia sebagai kafir sebelum sempurna seratus persen.

Begitu beratnya kafir untuk dikatakan pada manusia lain, karena Rasulullah pernah bersabda “Barang siapa memanggil sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.” Dan muncul sebuah pertanyaan apakah kita kafir? Sebaiknya tidak.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami