Bagai malam di langit Samata.
Warnanya kelam dengan bintang-bintang indahnya, dengan awan-awan tebalnya, dengan suara-suara khasnya, dengan remang lampu jalannya.
Bagai malam di langit Samata.
Dengan pohon-pohon berdebunya, dengan udara-udara sesaknya, dengan jalanan-jalanan berlubangnya, dengan suara bising kendaraannya.
Bagai malam di langit Samata.
Dengan rutinitas masyarakatnya, dengan kehidupan perantaunya, dengan keunikan penduduknya, dengan gadis-gadis manisnya.
Bagai malam di langit Samata.
Dengan bukit tercemarnya, dengan sungai jodohnya, dengan macet jalanannya, dengan kampus hijau kebanggaannya.
Bagai malam di langit Samata.
Dengan jejeran toko-tokonya, dengan susunan kos-kosannya, dengan pabrik-pabrik kecilnya, dengan segala bisnis-bisnisnya.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) semester V.











