Oleh: Nandya Fitri Ramadhani
Hari Buruh datang membawa suara,
Bukan pesta, tapi untuk tanya,
Mengapa masih ada luka di tangan mereka?,
Yang bekerja tanpa henti, yang diperlakukan tanpa cinta.
Hari Buruh datang dengan bendera dan toa,
Teriak di jalan bukan berarti suka-suka,
Tapi karena keadilan tak datang dengan doa,
Makanya didesak oleh suara yang tak lagi bisa ditunda.
Buruh, yang tangannya tak pernah lelah,
Selalu Berserah, meski harapan sering patah,
Apakah upah layak, tidak pantas mereka dapat?
Ataukah janji manis hanyalah retorika yang tersurat?
Di bawah terik, di tengah malam yang sunyi,
Keringatnya becucuran tak henti, apakah si pemilik peduli?,
Mereka tak banyak bicara, hanya menanti,
Agar hidup kelak bisa lebih berarti.
Mereka bukan sekadar angka di data,
Bukan roda yang diganti bila tak lagi prima,
Mereka adalah nadi dari sebuah negara,
Yang mestinya dijaga, bukan hanya dipaksa.
Jangan biarkan suara ini jadi gema yang hilang,
Atau tuntutan ini hanya angin lalu yang datang,
Karena Hari Buruh bukan sekadar tanggal terang,
Tapi nyawa dari perjuangan yang terus menggeliat dan menang.
*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar











