Oleh: Sugiya Selpi R
Di perjalanan malamku
Aku ditemani tangisan
Terdengar sangat pilu
Teleponku bersaksi
Tangisannya meledak!
Atas derita-derita 24 Tahun yang terampung
Mama berhentilah menangis!
Pilu sekali, sesak sekali
Ampunilah Aku…Ampun
Biarkan Aku hapus deritamu
Biadab memang lelaki itu.
Sudah merampas sucimu juga bahagiamu
Cicipkan lelaki itu kehilangan
Maka akan kau lihat lelaki paling menyedihkan
Mama berhentilah menangis!
Pilu sekali, sesak sekali.
Ampunilah Aku…Ampun
Biarkan Aku berimu bahagia
Mama berhentilah menangis!
Pipiku sudah basah
Mataku sudah merah
Mama, Aku menangis.
*Penulis merupakan alumni UIN Alauddin Makassar











