Oleh: Lismardiana Reski
Tinggal menghitung hari kita akan berjumpa dengan salah satu hari besar dalam agama Islam. Tidak bisa dipungkiri telinga kita akan sering mendengar kata-kata yang seketika viral menjelang lebaran, mudik. Mudik bukanlah hal yang tabu di telinga masyarakat Indonesia.
Sebelum melangkah terlalu jauh kita perlu mengetahui sejarah kata mudik itu sendiri. Apa itu mudik? Menurut wikipedia, mudik berarti kegiatan masyarakat perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Kata mudik sebenarnya merupakan sebuah singkatan yang berasal dari “Mulih Dilik” yang artinya pulang sebentar. Menurut sejarah, awalnya tradisi mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya.
Eksistensi mudik sendiri sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia yang jauh dari kampung halaman dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan atas hingga kalangan bawah, baik itu para mahasiswa yang menimba ilmu di perkotaan, para perantau yang di desak tuntutan pekerjaan, atau mereka yang sudah menikah dan tinggal dilain kota.
Hari-hari terakhir puasa menjelang lebaran tidaklah sempurna tanpa ritualisme mudik yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia. Mudik menjadi sebuah tradisi yang bisa menyatukan sebuah keluarga bahkan bisa menyatukan bangsa Indonesia yang memiliki banyak pulau dan suku ini dari sabang sampai merauke. Mereka yang bekerja dan para pelajar atau mahasiswa hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Momentum inilah yang menjadi kesempatan mereka untuk bisa melepas penat dari rutinitas sehari-hari, membuang kejenuhan setelah carut marutnya persilangan politik akhir-akhir ini.
Para pemudik berangkat dari berbagai kota besar menggunakan berbagai macam transportasi, mulai dari kendaraan roda dua, roda empat, melalui jalur darat, jalur udara hingga jalur laut mereka lalui agar bisa merayakan hari raya bersama keluarga. Berdesak-desakan tak lagi dihiraukan, jarak yang jauh juga bukan menjadi penghalang. Mereka apatis dengan keadaan, karena semua itu akan sirna ketika sudah berkumpul dengan sanak keluarga.
Namun tidak semua yang tinggal di perantauan bisa merasakan mudik, waktu dan biaya yang menjadi momok terbesar bagi mereka untuk tidak menyentuh kembali tradisi bangsa ini. Pekerjaan yang terus mendesak dan biaya transportasi yang terus bertambah semakin melonjak seiring berputarnya waktu.
Merantau bagi kebanyakan orang bertujuan agar mereka bisa merasakan sensasi mudik setiap setahun sekali. Mudik sudah menjadi salah satu rukun masyarakat berbangsa. Momentum mudik terus meluas dan berkembang menjadi sebuah fenomena di Indonesia. Bukan Indonesia namanya jika tidak mudik.
Silaturrahmi dengan keluarga, tetangga, dan juga orang lain, merupakan salah satu manfaat dari mudik. Mempererat kembali silaturahmi dengan keluarga dan tetangga setelah sekian lama tidak berjumpa. Di perjalanan mudik pun kita akan bertemu dengan banyak orang yang bisa betukar cerita dan berbagi pengalaman. Sehingga hal ini menambah pertemanan dan relasi kita terhadap sesama.
Selain itu, mudik juga bermanfaat untuk jalannya roda ekonomi dan perputaran uang di suatu daerah. Hal ini dikarenakan biasanya orang yang mudik akan membawa oleh-oleh untuk sanak keluarga, rasanya kurang lengkap jika pulang tanpa membawa buah tangan untuk keluarga di kampung halaman. Hal ini menguntungkan para pedagang dan para produsen di suatu daerah, adanya timbal balik antara produsen dan konsumen yang meningkat sehingga roda perekonomian terus berputar.
Peran pemerintah juga tak lepas dari ritual wajib tahunan ini. Pemerintah pun menyiapkan sarana dan tenaganya agar tradisi ini tetap terselenggara dan berjalan kondusif. Berbagai fasilitas disediakan untuk para pemudik, mulai dari jalanan, rute bus, rel kereta, stasiun, bandara, dan lain sebagainya. Hingga tenaga keamanan dan kesehatan juga tak luput dari pelayanannya.
Ritualisme ini menjadi relasi dari rasa kekeluargaan masyarakat yang masih tetap terpelihara hingga saat ini. Terus lestarikan salah satu budaya bangsa Indonesia ini, jangan jadikan hanya budaya masa lalu yang akan menjadi sejarah lampau.
Mudikkah anda tahun ini?
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) semester II.











