Oleh: Muhammad Irwan
Senja pun perlahan ditelan bumi
Diiringi suara tangis yang begitu haru
Ditemani tarian–tarian tikus
Di depan gubuk tua yang mulai rapuh
Bangkit rasa penasaran dalam diri
Selangkah maju, ku terhentak
Mendengar suara pria dengan lantangnya berkata
“Aku adalah aku yang sebenarnya, aku bukanlah dia,”
Lalu berganti dengan suara wanita yang begitu lembut
“Apakah ini takdirku yaa Tuhan, ku tak sanggup menjalani keadaan ini di jalanmu,”
Kemudian perlahan lenyap dan berganti sepi
Dengan rasa takut serta gugup,
Ku kembali melangkah menghampiri
Heran dengan sejuta tanya
Ku lihat seorang Waria, berpakaian minim lagi acak-acakan
Berlinang air mata dilema dari dua pilihan yang menyiksa jiwa,
Sungguh kasihan dirimu..
**Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar semester II











