Catatan Perjalanan Pertama: Pengabdian

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto : Dok. pribadi Tritia Kurniati

Oleh : Tritia Kurniati

Bontomanai, nama yang banyak ditemui untuk julukan sebuah desa di Sulawesi Selatan. Label tersebut pertama kali terdengar pada 30 September di Lecture Fakultas Syariah dan Hukum. Nama yang akan menjadi tempat kami berkehidupan sepanjang 45 hari mengabdi sebagai orang terpelajar. Tujuh oktober silam menjadi hari pertama menginjakkan kaki di sana. Laki-laki paruh baya berusia 60 tahunan, mengenakan kemeja batik coklat putih, kumis tebal dengan peci terpasang di kepala, menyambut kami dengan senyuman hangat. Semua orang memanggilnya Pakde, sebutan nama untuk Kepala Desa Bontomanai, semua tentang desa yang masih berupa pengalaman romantik. Di sepanjang jalan menuju desa itu, kami menikmati gambar berjalan perbukitan, kuda, sungai, dan hamparan ladang kering bekas kebun jagung. Jalan berbatu sampai ke ujung desa, membuat perjalanan ditempuh selama 30 menit dari daerah kecamatan, Bangkala.

Ikan goreng tongkol, sayur sawi putih bening, telur dadar plus sambal tomat menghiasi meja makan dapur rumah Pakde. Rumah yang sekaligus menjadi Posko kami selama mengabdi. Sebagai penanda, kami memasang dua spanduk, di antaranya bertuliskan “Posko 4 KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan Ke-69, Desa Bontomanai, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto”, dan sisanya struktur organisasi, menjelaskan KKN ini membawa 10 orang Mahasiswa dengan jurusan yang berbeda dari delapan fakultas. 

Kami tiba di Bontomanai dengan mengemban tugas dari kampus, membangun desa dengan membina dan mengajar. Pada hari pertama observasi, dimulai dari arah utara desa, kami berjumpa dengan anak-anak, usianya 5-8 tahunan, mereka mengikuti kami berjalan, sambil bersorak memanggil kami dengan julukan Kakaeng, lengkap dengan kata “ng” di akhir kata sebagai ciri khas dari kebiasaan masyarakat Sulawesi Selatan. Kami bertanya pada anak-anak, mengenai sekolah dan cita-citanya, beberapa menjawab ingin menjadi polisi, dokter, dan guru. Selebihnya menjawab tidak sekolah. Di sisi lain jalan, tak jarang kami temui masyarakat yang sedang sibuk berdiam diri, diiringi senyuman mengembang sambil melihat kami. Pada waktu menuju petang itu, tak ada satupun pemuda pemudi desa yang kami lihat berkumpul, kami mencari dengan harap dapat berdiskusi untuk rencangan program kerja yang dapat kita lakukan bersama.

Setelah pengamatan itu selesai, kami menyusun rencana kerja, rencana pengembangan desa secara harfiah. Kemudian kami sampaikan pada seminar program kerja yang terjadwal pada 13 oktober, dengan mengusulkan delapan rancangan. Beberapa di antaranya, sosialisasi dampak pernikahan usia dini, penyuluhan hidup bersih, dan mengajar. Hal yang paling memprihatinkan adalah angka pernikahan usia dini yang kian meninggi, disusul dengan kabar televisi yang tengah meramaikan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) selebriti muda.

Kami juga membersihkan masjid, terdaftar dalam riset terdapat delapan masjid yang akan kami kerjakan, Beberapa masjid cukup bersih, mungkin karena sering dibersihkan sebelum digunakan, kami tak sempat bertanya. Fakta sederhananya, di masjid kami menemukan alat pembersih, sapu, pel, sikat, bahkan super pel aroma apel. Kami pun mengakui, di desa ketika azan berkumandang, masyarakat berhenti dari aktivitasnya untuk shalat, tak pernah kami temui masjid yang sepi. Namun, juga tak pernah kami melihat perempuan untuk shalat berjamaah. Sejenak saya sadar, itu wajar saja. “Menurut Islam, perempuan tak wajib shalat di Masjid,” begitu singkat saya.

Melewatkan malam malam di desa, kami banyak mendengar rumor khas. Salah satu yang paling sering kami dengar ialah cerita tentang orang saling membunuh, tak heran sedikit pun, sebelum menginjakkan kaki di sini, saya mencari informasi dari beberapa berita, terlampir berulang kali pembunuhan terjadi karena hal sepele, karena mabuk dan tak sadar diri. Hal tersebut bisa terjadi kepada siapa pun, termasuk kami, orang luar yang datang selama 45 hari.

Setap pagi, sekitar pukul 06.00 WITA, beberapa perempuan bergegas menggunakan bedak dingin, mengenakan pakaian lusuh dan membawa ember, mereka pergi berkebun, membersihkan rumput dan menanam jagung. Kami menjumpainya di jalan, “mau kemana?” Tanyanya. “Mengajar di Aranaya Bu’,” tutup kami. Kami juga melihat seorang ibu paruh baya mengenakan sarung terlilit di atas dada, menutupi payudara dan seterusnya, sembari menggali tanah dengan satu tongkat di tangan kanan, hal ini membuat kami berfikir ulang untuk mengadakan senam pagi bersama warga. Sebagaimana di Bontomanai, peminggiran dan beban ganda perempuan miskin berlangsung di banyak tempat, demikian pula, perbedaan jenis pekerjaan, dan dengan begitu, gaya hidup meneyebabkan satu kelompok membuat beraneka macam stigma bagi kelompok lain, terutama untuk hal hal yang tak mereka pahami.

Setelah melewati bentangan jarak dan waktu dari kunjungan itu, kami belajar persoalan lama dan baru memang masih menemani desa, namun, kini desa juga bisa dilihat sebagai sumber inspirasi perkembangan teknologi atau perubahan budaya. Ada lebih banyak yang terjadi di desa daripada yang dapat kita catat, ketimbang yang bisa saya tuliskan dalam tulisan ini.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami