Hijrah dan Kemerdekaan

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Panji Hartono

Pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab (seorang Khalifah yang dikenal banyak melakukan ijtihad terhadap soal-soal keagamaan), terjadi dialog ihwal penentuan penanggalan Islam. Berkat masukan Ali bin Abi Thalib, disepakati bahwa peristiwa Hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah menjadi acuan awal penanggalan Islam.

Berpatokan dari peristiwa tersebutlah, Hari ini Umat Islam merayakan Tahun baru Islam, 1443 Hijriah, tak terkecuali Umat Islam di Indonesia. Khusus di Indonesia sendiri, untuk tahun ini momen perayaan tahun baru Islam bersamaan dengan momen bulan kemerdekaan (Agustus), 2 peristiwa sejarah yang berbeda waktu dan tempat tapi keduanya memiliki arti dan dampak yang sangat fundamental.

Dalam penuturan pesan kitab suci, khususnya Al-Qur’an. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa isi pesan dalam kitab suci itu terbagi menjadi dua model penyampaian, pertama yaitu model normatif (perintah shalat, zakat,puasa, haji dll), kedua yaitu model penyampaian kisah-kisah bersejarah dan ungkapan-ungkapan amtsal (metafor) yang mengandung pesan-pesan luhur untuk diterjemahkan berdasarkan konteks perkembangan zaman.

Peristiwa Hijrah sendiri secara lahiriah, adalah perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, dalam Hal ini Hijrah Nabi Muhammad yaitu perpindahan Rasulullah bersama sahabat-sahabat dari Mekkah ke yastrib (Madinah). Perpindahan tersebut dipicu oleh kian melemahnya kekuatan dakwah Nabi dan kian memuncaknya intimidasi kafir Quraisy Mekkah saat itu kepada pengikut Rasulullah bahkan kepada Rasulullah sendiri, dan di satu sisi telah terbangun kepercayaan dari penduduk asli yastrib (Madinah) kepada Rasulullah, Maka terjadilah peristiwa Hijrah dari Mekkah ke Yastrib (Madinah).

hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad tersebut bukan sebagai bentuk sikap pecundang nabi untuk lari dari tanggungjawab dakwah, tetapi sebagai bentuk ikhtiar (usaha) Rasulullah untuk mengatur siasat lebih baik lagi agar tujuan dakwahnya dapat tercapai. Hal demikian dapat terlihat saat kekuatan dakwah Rasulullah kian meningkat terjadilah proses pembebasan Mekkah (Fathul Mekkah).

Senada dengan itu seorang sejarawan modern paling terkemuka, Arnold Toynbee dalam kajian dan analisis sejarahnya menuturkan bahwa orang-orang besar yang muncul dalam pentas sejarah peradaban manusia adalah mereka yang pernah meninggalkan tanah kelahirannya untuk misi peradaban kemudian kembali ke masyarakat dan Lingkungan semulanya untuk mewujudkan misi peradaban tersebut, teori Toynbee ini dikenal dengan “Prinsip pergi dan Kembali”, dan orang-orang yang dimaksud Toynbee seperti : Ibrahim, Musa, zoroaster, Budhaa dan Muhammad.

Nurcholish Madjid (Cak Nur) sendiri memaknai dengan sangat Indah peristiwa Hijrah tersebut, menurut Cak Nur “melalui Hijrah, Nabi membangun Masyarakat Madani yang berciri egalitarianisme, Penghargaan berdasarkan prestasi bukan prestise, keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan bukan berdasarkan keturunan”.

Jika mencermati hasil penafsiran Cak Nur terhadap peristiwa hijrah Rasulullah, maka pesan moril yang coba disampaikannya adalah Hijrah merupakan suatu momentum dimana manusia mesti terus-menerus secara konsisten untuk mengarahkan dirinya ke arah kehidupan yang lebih baik dan luhur. Dalam term agama disebutkan “yaumuhu Khairun min amsihi”, bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah dia yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok akan lebih baik dari hari ini.

Tidak heran ketika Rasulullah baru saja tiba di yastrib, tempat tersebut namanya diubah menjadi Madinah, yang secara leksikal berasal dari bahasa Arab, madaniyah, yang artinya tempat peradaban, the place of civilazition. Dari perubahan nama tersebut dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad telah merancang suatu model perubahan masyarakat ideal dari fase Mekkah yang bercirikan sangat tiranik, despotik serta melihat kemuliaan berdasarkan keturunan bukan prestasi sehingga disebut (tribal society), menuju suatu masyarakat ideal yang bercirikan partisipatif, terbuka, toleransi, serta melihat kemuliaan bukan berdasarkan keturunan tetapi keimanan. Sehingga disebut (civil society).

Gambaran masyarakat seperti itulah yang oleh sosiolog Amerika, Robert N Bellah dinyatakan sebagai cerminan masyarakat Demokrasi Modern. Bellah menjelaskan bahwa model masyrakat modern yang berhasil didesain oleh Muhammad dan diwariskan kepada ke 4 Khalifah setelahnya selama 30 Tahun sangat modern untuk kondisi zamannya, sehingga menurut Bellah hal itulah yang membuat kesuksesan itu tidak berhasil diteruskan dan memperoleh kegagalan (it was to succes to modern). Memasuki rezim Bani Umayyah yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan model masyarakat yang tiranik, despotik kembali mewarnai kehidupan umat Islam dengan sistem kerajaan.

Dalam konteks Indonesia sendiri, Cak Nur menjelaskan bahwa pasca kemerdekaan 1945, para pelopor kenegaraan atau bapak pendiri bangsa kita, tidak memilih warisan sistem kerajaan dari era Nusantara menjadi sistem pemerintahan, Namun lebih menengok kepada sebuah contoh kontemporer yang kondisi sosiologisnya sangat mirip dengan Indonesia, yaitu Amerika serikat dengan kondisi masyarakat yang sangat majemuk. Sehingga dihasilkanlah Indonesia sebagai Negara berbentuk Republik berpemerintahan presidensil periodik.

Dengan pilihan tersebut, bapak pendiri bangsa kita berharap bahwa dalam tugas mengisi kemerdekaan bangsa dan juga dalam cita-cita pembangunan nasional, seluruh masyarakat Indonesia dapat terlibat secara aktif, kreatif dan konstruktif. Berbeda dengan sistem kerajaan masa lampau, yang mana beban moril untuk membangun negara dititik beratkan sepenuhnya kepada raja.

Berdasarkan uraian sederhana di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa antara peristiwa Hijrah Rasulullah dan kemerdekaan Indonesia terdapat pesan moril tentang pembebasan manusia untuk dapat mengembangkan dan membangun peradaban yang lebih baik dengan penuh kesadaran dan kreatifitas. Sehingga keunggulan dan kemuliaan seseoarang benar-benar dilihat dari optimalisasi kerja bukan sebatas nama besar pendahulunya.

Pertanyaan terakhir, dalam momen tahun baru islam 1443 Hijriah dan kemerdekaan indonesia yang ke 76, apakah umat Islam secara keseluruhan telah mewarisi spirit hijrah Rasulullah bahwa kemuliaan tidak dilihat dari keturunan tetapi dari keimanan?, begitupun masyarakat Indonesia, apakah telah mewarisi spirit kemerdekaan bahwa kemuliaan itu dilihat dari hasil pengabdiannya untuk bangsa dan bukan hanya sekedar karena anak elite pejabat? (Silahkan dijawab sendiri)

Sebagaimana istilah yang sering disampaikan oleh bung Karno, semoga kita semua tidak mewarisi “abu” dari peristiwa hijrah Rasulullah dan kemerdekaan Indonesia, tetapi mampu mewarisi “api” dari dua peristiwa bersejarah tersebut.

Hanya tuhan sebaik-baik petunjuk
10 Agustus 2021 M
1 Muharram 1443 H.

Penulis merupakan Ketua Komisariat Himpunan Mahasiswa Isalam Fakultas Dakwah dan Komunikasi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami