Bercakap dengan Penyintas Covid-19

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Prixa.ai

Washilah – Sore itu, tepat pukul 17.31 WITA, di sudut jalan yang sunyi, dipayungi dengan teduhnya pepohonan, saya bercakap dengan Andi Aqmil Jamil Basri, Mahasiswa UIN Alaudin Makassar yang sembuh setelah melalui Fase menegangkan.  Pulih dari covid-19.

Mahasiswa Ilmu Politik semester IV ini divonis sebagai pasien covid-19 pada tanggal 2 Februari 2021.

Di bawah rimbun pepohonan. Mahasiswa yang kerap disapa Jamil bercerita mengenai dirinya sebagai penyintas Covid 19.

Sebelum dinyatakan positif, dirinya mengaku sangat menyepelekan protokol kesehatan, jarang memakai masker, tidak menggunakan handsanitizer, selalu berkumpul dan berkerumun. Semuanya tidak lepas dari pikirannya yang kerap menganggap bahwa pandemi Covid-19 hanyalah rekayasa. Tidak nyata.

Tanggal 26 sampai 28 Januari 2021, dirinya berpergian ke luar daerah. Dari Makassar (tempat tinggalnya) ke Mamuju, kembali ke Makassar, Kemudian ke Soppeng, dan kembali lagi ke Makassar.

Dalam perjalanan pulangnya, Jamil merasakan demam, flu, batuk,dan Menggigil. Tanpa disadari sakit yang dideritanya merupakan gejala terpapar Covid 19.

“Pulang dari Soppeng, Demamka di Bone (perjalanan) pas singgah salat magrib,” ungkapnya.

Hari berlanjut, rasa sakit yang diderita Jamil  semakin memburuk, ditandai dengan indera penciuman dan pengecap rasa yang sudah tidak berfungsi lagi.

“Makan ka coto, sengaja ku kasih banyak lomboknya, pedis dileherji, nda ada kurasa di mulut,” kisah Jamil dengan mimik wajah yang serius.

Dengan perasaan hawatir dan was-was, Jamil memutuskan untuk memeriksakan diri di Puskesmas. Bertemu dengan ahli medis, kemudian mengeluhkan rasa sakitnya.

Tak disangka, Jamil diberikan selembaran kertas guna kelengkapan tes Swab. Pikiran Jamil gaduh, disesaki dengan kecemasan, namun dirinya tetap melakukan proses pemeriksaan hingga usai.

Selasa, 2 Februari 2021, sekitar pukul 14.00 WITA, di ruangan yang sunyi dengan ukuran 3×4 meter, terdengar suara notifikasi Handphone Jamil, dirinya menerima pesan WhatsApp dari petugas kesehatan (tempat Jamil di tes Swab), tertera dengan Jelas di pesan tersebut bahwa dirinya positif covid 19.

Setelah mengetahui hal tersebut, Jamil memutuskan untuk Isolasi Mandiri di rumah.

Empat hari isolasi mandiri, Jamil menerima telpon WhatsApp dari petugas Satgas Covid 19  “Saya bisa ke sana antarkan obat anti virus?” tanya petugas. “Bisa,” jawab Jamil.

Tak lama berselang, empat orang petugas Satgas Covid 19 datang ke rumah Jamil. Masing-masing mengenakan rompi khusus , membawa obat anti virus, lengkap dengan surat keterangan (Suket) positif Covid 19 untuk jamil.

Melihat kondisi tempat tinggal Jamil yang ramai dan memicu terjadinya penyebaran Covid 19 lebih luas, Jamil pun disarankan agar isolasi di hotel. “Adami tempat ta, lokasinya itu di sungai Sa’dang, namanya Gunung Mas Hotel, ke sana meki bawa suket ta,” ucap petugas Satgas

Jamil memutuskan pergi ke tempat Isolasi, tidak ada Satgas Covid, tidak ada kerabat. Jamil pergi sendiri. Dengan mengendari sepeda motor maticnya, lengkap dengan setelan masker dan tas hitam berisi pakaian miliknya.

Di perjalanan, Jamil sempat singgah di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar, sesampainya di tempat isolasi, Jamil langsung mengurus persoalan administrasi, di Screening (tanya-tanya) keluhan, tes detak jantung dan darah. Semuanya dilakukan okeh tenaga medis dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD).

Jamil bergegas naik ke lantai II, tempatnya akan di isolasi, berbagai pertanyaan muncul di pikiran Jamil.

“Deh, aslimi ini, bagaimana isolasiku nanti, bosan kah atau bagaimana,” ungkapnya.

Di kamar isolasi, tim Satgas telah menyediakan fasilitas untuk Jamil selama menjalani proses karantina. Seperti halnya Makanan, Wi-fi, telivisi, dan jasa laundry.

“Ada juga Wi-fi tapi jelek jaringannya,” keluhnya.

Meskipun diberi Fasilitas yang cukup dan memadai, tak membuatnya merasa puas dan tak ingin pulang, malahan kecemasan dan ketakutkan semakin meningkat semenjak dirinya berdiam diri. Puncak paling takut ketika ia sedang bermain dengan  ponselnya dan tak sengaja melihat notifikasi berita jumlah pasien meninggal akibat Covid-19 meningkat. Kecemasan dan ketakutan tercampur menguasai tubuh Jamil.

“Waktu main HP tidak sengaja itu ada notif artikel masuk, langsung kupencet, pas kubaca kagetka, karena disitu data yang jelaskan banyak pasien Covid yang meninggal. Di situ kurasa takutka,” imbuhnya.

Di hari ketujuh proses karantina berlangsung, keadaannya pun berangsur membaik. Dari hasil tes Swab terakhir, hasilnya pun negatif.

Mengetahui hal itu, ia mengaku merasakan bahagia yang tak terperi. Setumpuk kerinduan akan keluarga dan teman-temannya adalah motivasi dalam kesehariannya selama isolasi untuk sembuhan dari virus Corona ini.

Jamil, yang dulunya tidak percaya akan adanya virus ini, selepas dirinya diisolasi, pemikirannya berubah. Virus Corona itu benar adanya.

Ia berpesan, agar tidak menyepelekan virus ini dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Sekarang percayama kalau ada Covid, dan selaluma pakai masker kalau di luar ruangan. Lebih baik mencegah dari sekarang sebelum rasakan sakit kedepannya,” tutupnya.

 

Penulis : Tritia Kurniati (Magang)

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami