Sampaikan Pesan dan Kritik Dalam Bait-Bait Puisi

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Nur Afni Aripin

Menjadi penulis bukanlah perkara mudah, perlu ketekunan bahkan ketulusan. Apalagi membuat tulisan seperti puisi.

Menulis puisi bukan hanya menuangkan rasa dalam balutan kata tidak serta merta memejamkan mata sembari merapalkan mantra “jadilah” tapi, diperlukan ketajaman rasa bahkan insting dalam merangkai kata satu demi satu . Tidak hanya memiliki makna mendalam tapi juga tiap kata yang selaras hingga elok untuk dibaca.

Sulitnya membuat puisi tidak menjadi penghalang bagi Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Rukwani untuk menerbitkan buku solo puisinya bahkan di masa pandemi sekalipun.

Memiliki hobi menulis puisi sedari Sekolah Dasar (SD) membuatnya berhasil menerbitkan lima karya buku ontologi puisi dalam rentan waktu 2020-20201.

Empat buku diantaranya merupakan kolaborasi projek bersama teman-temannya. Memiliki beraneka ragam judul diantaranya Redup, Bangkit, Cerita kita dan A second Chance merupakan karya lahir dan dijembatani oleh Komunitas (I – Brand) lembaga sayap HMJ – KPI sendiri.

Mahasiswi yang akrab disapa wani itu menjadikan menjadikan Fiersa Besari dan Habiburrahman El-Shirazy sebagai idola bahkan berhasil menerbitkan buku solo puisi perdananya yang diberi judul Denting Rasa.

Diterbitkan pada tanggal 21 februari 2021 yang di dalamnya termuat 60 jenis puisi. Beberapa bait bait puisi diungkapkan memiliki pesan pesan moral bagi manusia bahkan merambat pada ranah kritik.

Anak ke dua dari pasangan Bapak Sukardin dan Ibu Jamilah itu menjelaskan bahwa pada dasarnya tulisan yang dimuat dalam buku tak akan lekang oleh waktu dan akan menetap pada keabadian. Penulis bahkan berharap buku Solo puisinya akan tetap dinikmati hingga melampaui zaman. Itulah mengapa baik pesan maupun kritik beliau tuangkan dalam bait-bait puisinya.

Namun, tak bisa dipungkiri menerbitkan buku lagi-lagi bukan hal yang mudah. karya yang telah dipublikasikan dan menjadi konsumsi publik acap kali mendapatkan kritikan bukan hanya menjadi langganan penulis pemula bahkan penulis yang telah melegenda dalam menerbitkan puluhan buku.

Alih – alih apresiasi, yang diberikan malah hinaan. Terlebih memang data yang di muat UNESCO menyebutkan bahwa indonesia memiliki minat baca yang amat rendah.

Meski begitu, gadis kelahiran 2 Agustus 1999 yang memiliki nama pena Wani Wanira tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis bahkan memilih abai terhadap haters dan tidak memaksa semua orang untuk mencintai karyanya.

“Sebenarnya semua orang punya minat bacaan beda-beda. saya tidak pernah memaksa orang lain untuk menyukai apa yang saya tulis.bahkan saya menjadikan haters sebagai penyemangat tersendiri dalam berkarya, ” Ungkapnya saat diwawancarai pada Sabtu (06/02/2020).

Ia juga memberi pesan tersendiri bagi perempuan di luar sana untuk tidak perlu takut dalam berkarya terhadap stigma buruk masyarakat mengenai citra buruk perempuan. bahkan Wani menuturkan bahwa tips dan trik ala dia dalam menerbitkan buku puisi adalah tetap produktif dan memiliki target.

“Kita perempuan harus produktif dalam berkarya, tunjukkan kepada masyarakat bahwa kita juga bisa,” Tegasnya.

*penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu PolitikĀ  Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Semester VI.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami